Profil Guruh Soekarnoputra, Putra Bung Karno yang Aktif di Dunia Seni hingga Politik

Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun di Jakarta. Berikut profil dan biodata Guruh semasa hidup,. Baca di sini yuk...

oleh Wulan Noviarina AnggrainiDiterbitkan 26 September 2026, 08:42 WIB
Putra presiden pertama Soekarno, Guruh Soekarnoputra memasukkan surat suara ke dalam kotak seusai mencoblos di TPS 002 Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4). Guruh menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2019 di TPS yang sama dengan Cawapres 02 Sandiaga Uno. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Adik Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026. Guruh mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit Siloam, Jakarta.

Kabar duka tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Hasto menyebut keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan sosok Guruh yang dikenang sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, sekaligus pejuang partai.

Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dengan nama Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra. Ia merupakan putra bungsu pasangan Presiden Soekarno dan Fatmawati serta adik dari Megawati Soekarnoputri.

Sejak kecil, Guruh sudah dekat dengan dunia seni. Saat berusia lima tahun, ia mulai mempelajari sejumlah tari tradisional seperti tari Jawa, Sunda, dan Bali. Ia juga belajar bermain piano, membentuk kelompok musik anak-anak, hingga tampil di atas panggung.

Pendidikan dasar hingga menengah Guruh ditempuh di Perguruan Cikini, sebelum melanjutkan sekolah di SMA Negeri 25 Jakarta pada 1967 hingga 1970. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Amsterdam, Belanda, dengan mengambil jurusan Arkeologi.

Guruh kembali menempuh pendidikan di bidang Ilmu Administrasi Negara di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) pada 2005 hingga 2008 dan memperoleh gelar Sarjana Administrasi Publik. Pada 2010, ia mendapatkan gelar Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, kemudian meraih gelar Magister Sains dari Program Studi Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Publik pada 2012.


Kiprah Guruh di Dunia Seni

Guruh Soekarnoputra (ketiga dari kiri) dan Yessy Gusman (kedua dari kiri) saat jumpa pers Pementasan musikal "Bukan Cinta Galih/Ratna" di Jakarta, Kamis (8/1). (Liputan6.com/M. Altaf Jauhar)

Dunia seni menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Guruh. Pada 1965, saat berusia sekitar 12 tahun, ia mendirikan kelompok musik bernama The Beat G.

Kecintaannya terhadap musik berlanjut dengan lahirnya Guruh Gipsy pada 1975. Karya tersebut memadukan musik dengan gamelan Bali dan menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan musikalnya.

Guruh juga mendirikan Swara Maharddhika pada 27 Maret 1977. Kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1987. Dua tahun setelah mendirikan Swara Maharddhika, Guruh mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP.

Sepanjang kariernya, Guruh menghasilkan sejumlah pertunjukan besar. Salah satunya Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, yang kemudian dilanjutkan dengan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra II Untukmu Indonesiaku pada 1980.

Lanjut Baca:

Pada periode yang sama, Guruh juga memproduksi film semi-dokumenter berjudul 'Untukmu Indonesiaku'. Ia kemudian menghadirkan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra III Cinta Indonesia dan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra IV Gilang Indonesia Gemilang pada 1986. Pada 1987, Guruh menggelar pertunjukan kolosal 'Jak Jak Jak Jakarta' dalam rangka memperingati ulang tahun Jakarta. Di tahun yang sama, ia juga menyelenggarakan 'Gempita Swara Maharddhika' untuk memperingati satu dekade berdirinya Swara Maharddhika. Kiprah Guruh di dunia seni juga merambah perfilman Indonesia. Ia pernah menjadi ilustrator musik untuk sejumlah film seperti 'Ali Topan Anak Jalanan', 'Gita Cinta dari SMA', dan 'Puspa Indah Taman Hati'. Selain bekerja di balik layar, Guruh juga pernah menjadi aktor. Pada 1985, ia memerankan tokoh Sunan Muria dalam film 'Sembilan Wali'. Karya-karyanya turut mendapat penghargaan. Komposisi lagu 'Renjana' meraih prestasi dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional pada 1976. Sementara itu, lagu 'Kembalikan Baliku' yang sebelumnya memenangkan festival tersebut dibawa Guruh ke World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang, pada 1987 dan memperoleh Kawakami Award serta Audience Selections Award. Guruh juga mendapatkan penghargaan untuk ilustrasi musik dalam Festival Film Indonesia 1978 yang berlangsung di Ujung Pandang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya