33 Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sebanyak 33 siswa di Lampung Tengah mendapat penanganan medis setelah mengalami mual, muntah, pusing, dan lemas usai santap MBG.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 25 September 2026, 17:15 WIB
Puluhan siswa SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Gunungagung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah diduga keracunan MBG. (Liputan6.com/Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Puluhan siswa SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Gunung Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (24/9/2026).

Para siswa mengalami sejumlah keluhan, mulai dari pusing, mual, muntah, hingga lemas. Sebagian korban terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kepala Puskesmas Bandaragung Yunus mengatakan jumlah siswa yang mengalami gejala terus bertambah. Hingga Kamis pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 33 siswa telah mendapatkan penanganan medis.

"Dari 33 siswa yang mendapat penanganan medis, sebanyak 22 siswa mengalami gejala ringan dan diperbolehkan menjalani rawat jalan," kata Yunus, Jumat (25/9/2026).

Sementara itu, tiga siswa masih menjalani rawat inap di Puskesmas Bandaragung. Dua siswa lainnya baru masuk Unit Gawat Darurat (UGD) untuk menjalani observasi.

Adapun empat siswa dengan gejala sedang hingga berat dirujuk ke RS Yukum Medical Center (YMC) Bandarjaya untuk mendapatkan penanganan lebih intensif.

"Sementara itu, terdapat 4 siswa dengan gejala sedang hingga berat yang terpaksa kami rujuk ke RS YMC untuk penanganan lebih intensif," jelasnya.

 

 

 

 

Kronologi Puluhan Siswa Diduga Keracunan MBG

Puluhan siswa SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Gunungagung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah diduga keracunan MBG. (Liputan6.com/Istimewa).

Salah seorang tenaga pendidik SD Negeri 1 Gunung Agung, Rifai, mengungkapkan gejala yang dialami para siswa mulai terlihat sekitar pukul 08.30 hingga 09.00 WIB.

Keluhan tersebut muncul tidak lama setelah para siswa menyelesaikan santap MBG dan meminum susu kemasan yang disajikan dalam program tersebut.

"Anak-anak mulai mengeluhkan sakit setelah makan dan minum susu tersebut," ujar Rifai.

Menurut dia, insiden tersebut terjadi saat jam istirahat atau pergantian pelajaran. Para siswa yang terdampak berasal dari dua sekolah berbeda.

Berdasarkan pendataan awal Rifai, sebanyak 25 siswa mengalami keluhan, dengan rincian 15 siswa dari SD Negeri 1 Gunung Agung dan 10 siswa dari SD Negeri 2 Gunung Agung.

Kedua sekolah tersebut berada di Kampung Gunung Agung, tetapi berjarak sekitar 3,25 kilometer.

SD Negeri 1 Gunung Agung berlokasi di Jalan Lintas Timur, sedangkan SD Negeri 2 Gunung Agung berada di Jalan Thamrin.

Mayoritas siswa yang mengalami keluhan berasal dari kelas 4, 5, dan 6. Mereka diduga menjadi kelompok yang paling banyak mengonsumsi makanan dan minuman MBG pada pagi itu.

"Keluhan utama yang dirasakan oleh sebagian besar korban adalah mual hebat dan pusing kepala. Beberapa anak bahkan tampak lemas dan tidak sanggup melanjutkan aktivitas belajar di dalam kelas," tuturnya.

Siswa Dievakuasi ke Puskesmas, MBG Dihentikan Sementara

Melihat kondisi para siswa yang mulai mengeluhkan gangguan kesehatan, pihak sekolah bersama tenaga pendidik segera melakukan evakuasi ke Puskesmas Bandaragung.

Dengan memanfaatkan kendaraan yang tersedia, para siswa dibawa ke fasilitas kesehatan yang berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah.

Setibanya di puskesmas, tim medis langsung memberikan penanganan awal dan melakukan observasi terhadap kondisi para korban.

Sebagian siswa diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan rawat jalan. Namun, sejumlah siswa lainnya harus menjalani rawat inap maupun dirujuk ke rumah sakit karena membutuhkan pemantauan dan penanganan lebih lanjut.

Sebagai langkah antisipasi, operasional dan pembagian makanan dalam program MBG di kedua sekolah tersebut dihentikan sementara.

Penghentian dilakukan hingga hasil investigasi resmi mengenai penyebab pasti dugaan keracunan diketahui.

Meski demikian, Rifai memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tetap berlangsung seperti biasa.

"Meski pembagian makanan MBG dihentikan sementara, pihak sekolah memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Proses pembelajaran murid tidak diliburkan dan terus berlangsung sesuai jadwal," ujarnya.

Susu MBG Kedaluwarsa 2027, Rasa Makanan Disebut Normal

Terkait dugaan keracunan yang muncul setelah siswa mengonsumsi susu kemasan, Rifai mengatakan tanggal kedaluwarsa produk tersebut masih tertera hingga 2027.

Selain itu, berdasarkan pengalamannya mencicipi makanan dan minuman yang disajikan, tidak ditemukan rasa maupun aroma mencurigakan.

"Saat itu waktu MBG-nya saya coba, rasanya tergolong normal dan tidak mengeluarkan bau busuk atau aneh. Menu makanan pendamping lainnya, seperti bakso dan lauk pauk yang disajikan, juga terasa normal saat dicicipi," ungkapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya