Kemiri NTB Dibidik Jadi Komoditas Ekspor, 350 Petani Dapat Pendampingan

Kemiri NTB didorong menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Program ini menyasar 350 petani di 40 desa dengan lahan 7.836 hektare.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 25 September 2026, 17:41 WIB
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam Program TJSL Sinergi SMV Kementerian Keuangan 2026 untuk mendorong pemberdayaan ekosistem agroindustri komoditas kemiri di Nusa Tenggara Barat, Kamis (24/9/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mendorong komoditas kemiri Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor melalui kolaborasi delapan Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan.

Program TJSL Sinergi SMV Kementerian Keuangan 2026 tersebut menyasar 40 desa dan 350 petani dengan luas lahan sekitar 7.836 hektare. Produksi kemiri saat ini sekitar 120 ton per tahun.

Intervensi dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit, peningkatan kapasitas petani, pembangunan sentra produksi, modernisasi pascapanen, hingga pemanfaatan energi surya.

Pengembangan juga diarahkan pada produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah berperan mendorong potensi ekonomi daerah agar berkembang dan menjadi sumber pertumbuhan baru.

“Setelah modelnya terbentuk dan kegiatan ekonominya berjalan, Pemerintah Daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat melanjutkan dan memperbesar skalanya,” demikian disampaikan Menteri Keuangan dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Menteri Keuangan, Dwi Teguh Wibowo, dikutip Jumat (25/9/2026).

 

Delapan SMV Kemenkeu Perkuat Ekosistem Kemiri NTB

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam Program TJSL Sinergi SMV Kementerian Keuangan 2026 untuk mendorong pemberdayaan ekosistem agroindustri komoditas kemiri di Nusa Tenggara Barat, Kamis (24/9/2026).

Delapan SMV Kementerian Keuangan mengambil peran untuk memperkuat rantai nilai kemiri NTB.

LPEI/Indonesia Eximbank mendukung pengolahan pascapanen, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) memperkuat kapasitas petani, dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mendukung penyediaan bibit.

PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) membantu pembangunan sentra produksi, PT Geo Dipa Energi (PT GDE) memasang panel surya, sedangkan PT Karabha Digdaya mendukung pengelolaan pascapanen.

Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sejahtera Eka Graha mengembangkan produk turunan berupa briket dan minyak kemiri.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah kemiri dan manfaat ekonominya bagi masyarakat.

“Kemiri adalah salah satu potensi NTB yang dapat kita tingkatkan nilai tambahnya. Kolaborasi ini penting agar pengembangannya tidak berhenti pada produksi, tetapi terhubung dari hulu hingga hilir dan mampu menjangkau pasar global. Kami berharap manfaat akhirnya kembali kepada masyarakat melalui peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan tumbuhnya kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Iqbal.

 

Kemiri NTB Ditargetkan Tembus Pasar Global

Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem kemiri NTB hingga mampu masuk pasar global.

“Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global. Melalui sinergi SMV, kami ingin membangun rantai nilai yang lebih kuat sehingga manfaat ekspor tidak hanya terlihat dari peningkatan transaksi, tetapi juga dirasakan oleh petani dan masyarakat di daerah,” ujar Sukatmo.

Jumlah petani yang terlibat ditargetkan meningkat menjadi 550-720 orang dengan produksi 2.400-3.600 ton per tahun.

Pendapatan petani ditargetkan naik 20%-25%, sementara program juga diharapkan menambah 3-6 negara tujuan ekspor dan meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp 30 miliar-Rp 40 miliar per tahun.

Dalam peluncuran program, LPEI dan Pemprov NTB menandatangani nota kesepahaman pengembangan kapasitas UKM, koperasi, dan BUM Desa berorientasi ekspor.

LPEI juga melepas ekspor kemiri tujuan Jepang dan vanilla tujuan Amerika Serikat sebanyak 1,4 ton senilai Rp 3,8 miliar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya