Liputan6.com, Jakarta - Kisah perjalanan hidup Dr. Subhash Chandra menjadi bukti nyata bagaimana tekanan finansial dan krisis keluarga di masa muda mampu menempa keberanian dalam mengambil risiko bisnis. Pria kelahiran Adampur Mandi, Haryana, India ini berhasil bertransformasi dari seorang remaja putus sekolah menjadi sosok pengusaha berpengaruh yang merevolusi lanskap media dan penyiaran di negaranya.
Dikutip dari Making Peace with Life, Jumat (25/9/2026), Chandra tumbuh dalam keluarga pedagang komoditas pertanian. Namun pada 1967, bisnis keluarganya bangkrut hingga menyisakan utang lebih dari 600 ribu rupee. Akibat krisis tersebut, Chandra yang saat itu berusia 17 tahun dan bercita-cita menjadi insinyur terpaksa berhenti sekolah karena tak mampu membayar biaya pendidikan.
Advertisement
Sebagai anak sulung, ia mengambil tanggung jawab besar membantu melunasi utang keluarga. Tanpa modal besar, ia memulai langkah awal dengan menjalin kerja sama bersama Food Corporation of India (FCI) untuk mengolah dan membersihkan pasokan beras serta biji-bijian.
Dilansir dari Zee News, ketajaman bisnis Chandra mulai terlihat saat India mengalami panen raya yang membuat FCI kekurangan gudang penyimpanan. Melihat peluang tersebut, Chandra mengajukan ide inovatif, yaitu menyimpan jutaan ton beras di area terbuka menggunakan tenda lembaran plastik laminasi. Ia bahkan nekat membeli mesin dari Swiss dan melatih para teknisinya demi memproduksi lembaran plastik berkualitas tinggi.
Keberhasilan proyek ini tidak hanya melunasi seluruh utang keluarganya, tetapi juga memberikan modal melimpah untuk melebarkan sayap bisnis.
Mendobrak Monopoli dan Bertarung Melawan Raksasa Global
Naluri bisnis Chandra yang selalu selangkah lebih maju membawanya masuk ke berbagai industri baru, mulai dari manufaktur kemasan plastik lentur melalui Essel Packaging hingga membangun taman hiburan modern pertama di India, EsselWorld, pada 1989.
Rentetan keberhasilan tersebut mengantarkan kekayaan bersih (net worth) Subhash Chandra menembus angka fantastis sebesar US$ 5,6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun (kurs Rp 17.964 per US$), menjadikannya salah satu konglomerat terkaya di India.
Dikutip dari WION News, puncak manuver bisnis Chandra terjadi pada 1992 saat ia nekat mendirikan Zee TV, saluran televisi satelit swasta pertama di India. Langkah ini dinilai sangat berisiko pada zamannya karena industri penyiaran India saat itu sepenuhnya dikuasai monopoli saluran pemerintah, Doordarshan.
Karena regulasi domestik belum mengizinkan stasiun TV swasta beroperasi langsung dari India, Chandra menyewa transponder dari penyedia satelit AsiaSat di Hong Kong agar siarannya bisa ditangkap pemirsa India.
Keberanian Chandra kembali diuji ketika konglomerat media global, Rupert Murdoch, membeli saham mayoritas pemilik AsiaSat dan mencoba mengambil alih Zee TV. Murdoch bahkan menawarkan dana berlipat ganda untuk membeli saluran tersebut.
Namun dengan tegas Chandra menolak tawaran tersebut. Ia menegaskan bahwa usaha dan negaranya tidak untuk dijual, sebelum akhirnya membeli kembali seluruh saham mitranya demi mengamankan kendali penuh atas perusahaan.
Pelopor Industri Penyiaran dan Warisan Sosok Visioner
Keberanian Chandra mendobrak tradisi penyiaran tidak hanya mengubah pola konsumsi hiburan masyarakat, tetapi juga melahirkan ribuan lapangan kerja baru di sektor media dan kreatif. Meski di awal kariernya di Mumbai ia kerap ditertawakan karena tidak fasih berbahasa Inggris, Chandra tetap fokus menyampaikan ide-ide besarnya.
Atas dedikasi dan kontribusinya, Chandra dianugerahi gelar doktor kehormatan dari University of East London serta dijuluki sebagai "Bapak Televisi Swasta India".
Berawal dari pengolahan beras dan lembaran plastik penutup panen, Subhash Chandra membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan formal dan himpitan utang bukanlah penghalang untuk merengkuh kesuksesan tingkat dunia.