Liputan6.com, Washington, DC - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono menegaskan penguatan ketahanan nasional menjadi kunci dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan degradasi ekosistem.
"Penguatan ketahanan nasional merupakan kunci untuk menghadapi risiko perubahan iklim dan degradasi ekosistem," tegas Menlu Sugiono dalam forum diskusi mengenai keamanan iklim (climate security) yang diselenggarakan di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9).
Advertisement
Bagi Indonesia, keamanan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kemampuan negara melindungi masyarakat, menjaga mata pencaharian dan aktivitas ekonomi, serta mempertahankan stabilitas di tengah berbagai guncangan.
"Penguatan adaptasi perlu dilakukan dengan membangun ketahanan lintas sektor, termasuk pangan, air, dan energi," jelas Menlu Sugiono.
Pendekatan tersebut tercermin dalam Second Nationally Determined Contribution Indonesia, yakni dokumen komitmen iklim nasional kedua Indonesia. Dokumen ini menempatkan ketahanan pangan, air, dan energi, serta transisi energi sebagai bagian penting dari respons nasional terhadap perubahan iklim.
Indonesia menyatakan bahwa aksi nasional membutuhkan dukungan kolektif. Menlu Sugiono menekankan pentingnya penilaian risiko dan kesiapsiagaan, khususnya bagi negara berkembang.
Upaya tersebut perlu didukung melalui akses terhadap pendanaan konsesional, teknologi, peningkatan kapasitas, dan investasi agar negara berkembang dapat merespons risiko iklim secara lebih efektif.
Indonesia turut menyampaikan perlunya kerja sama keamanan iklim yang memperkuat kerangka multilateral yang telah ada dan mendukung prioritas nasional, serta memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk menerjemahkan komitmen menjadi aksi.
Climate Security Dialogue diselenggarakan oleh Menlu Inggris bersama Menlu Kenya dan High Representative Uni Eropa sebagai co-hosts. Pertemuan ini menjadi forum untuk bertukar pengalaman dan membahas langkah praktis dalam memperkuat penilaian risiko, kesiapsiagaan, serta aksi bersama menghadapi risiko perubahan iklim dan degradasi ekosistem.