Liputan6.com, Jakarta - Kesedihan terlihat jelas di raut wajah keluarga Surakman, ABK Arupadhatu I yang jasadnya ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Keluarga tak menyangka pria yang selalu bersemangat itu pergi untuk selamanya.
Semasa hidup, Surakman dikenal masyarakat sekitar tempat tinggal sebagai orang yang bermasyarakat. Meski pendiam, dia kerap terlibat gotong royong di kampung mereka. Ketika ada permasalahan di lingkungannya, sosok Surakman begitu didengar.
Advertisement
Menjadi pelaut memang pilihannya. Hal itu pula yang mungkin membuat Surakman begitu tangguh menghadapi angin laut. Tak pernah sekalipun dia mengeluh lelah atau sakit yang serius.
"Kalau bapak orangnya enggak banyak ngeluh, enggak suka banyak bicara orangnya, di masyarakat juga enggak pernah komentar, orangnya suka gotong royong dengan masyarakat, enggak banyak ngomong orangnya, kalau di tanya ya jawab," ujar Yayat, anak dari Surakman, usai pemakaman, Kamis, (24/09/2026).
Sejak Belia Melaut
Yayat menambahkan, ayahnya sejak belia mengarungi lautan dan menerjang ombak sebagai nelayan. Sehingga bagi orangtuanya, Selat Sunda, Carita maupun Gunung Anak Krakatau, sudah sangat akrab baginya.
"(Jadi nelayan) udah lama sih, dari sebelum menikah," terangnya.
Dirinya beserta keluarga selalu mendoakan sang Bapak, Surakman, beserta seluruh awak kapal dan jurnalis bisa segera ditemukan setelah kejadian hilang kontak pada 7 September 2026 lalu dalam perjalanan akan meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau pascaerupsi.
Sebelum pergi mengantarkan lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), Yayat mengaku tidak mendapatkan pesan atau wasiat apapun dari sang bapak.
"Mudah-mudahan diterima oleh Allah SWT, ditempat ditempat paling maghfiroh dan terbaik. Enggak ada pesan apa-apa, normal seperti biasa, enggak ada pesan-pesan," jelasnya.
Berharap 7 Korban Lainnya Segera Ditemukan
Keluarga Surakman juga berharap dan berdoa untuk tujuh orang lainnya bisa segera ditemukan. Menurutnya, musibah yang terjadi merupakan sudah takdir Tuhan yang tidak bisa dihindari. Sehingga keluarga memilih ikhlas dengan semua yang ada.
"Saya selalu berdoa mudah-mudahan dua ABK yang belum ditemukan terus lima jurnalis yang belum ditemukan, mudah-mudahan cepat ditemukan, kita minta selamat, tapi apapun itu kita minta sama Allah SWT," ujar Yayat, putra Surakman.
Yayat bercerita bahwa sang ayah bersama Warta dan Heriyanto alias Bonsai masih satu keluarga. Bahkan kini dengan istri, anak maupun saudara lima jurnalis yang turut hilang, sudah seperti keluarga, karena selalu bersama selama 10 hari pencarian lalu di Carita, Pandeglang, Banten.
"Itu dua ABK juga masih saudara, yg jurnalis juga sama, kita doakan supaya semaunya cepet ketemu," terangnya.