Liputan6.com, Jakarta - Rusia telah memperingatkan investor mungkin harus menanggung kerugian jika penerbit stablecon asing membekukan aset di luar kendali lembaga penyimpanan (depository) Rusia. Hal ini mengingat perkiraan pejabat menunjukkan penduduk memegang aset kripto dan produk terkait senilai 3,7 triliun rubel atau sekitar US$ 44 miliar. Nilai itu setara Rp 785,66 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.860).
Mengutip Crypto.news, Rabu, (23/9/2026), berdasarkan laporan Kantor Berita TASS, Wakil Menteri Keuangan Rusia, Ivan Chebeskov memprediksi jumlah pengguna kripto di Rusia mencapai sekitar 20 juta orang. Volume transaksi harian sekitar 50 miliar rubel. Ia menuturkan, prediksi kepemilikan itu mencakup kepemilikan langsung kripto serta sejumlah produk keuangan yang terkait aset digital.
Advertisement
Angka-angka itu merupakan prediksi pengamat yang dipakai oleh Kementerian Keuangan, bukan penghitungan pemerintah secara menyeluruh terhadap setiap dompet atau transaksi. Pejabat berharap kerangka regulasi baru akan menghasilkan data lebih akurat seiring beralihnya aktivitas transaksi melalui bursa, pialang dan lembaga penyimpanan digital yang berizin.
Pembekuan Stablecoin Asing Dapat Menyebabkan Kerugian Investor
Chebeskov menuturkan, stablecoin yang diterbitkan oleh pihak asing menimbulkan risiko yang tidak selalu dapat dikendalikan oleh infrastruktur Rusia.
"Risiko pemblokiran aset oleh penerbit asing memang ada,” kata dia.
Ia menambahkan, USDT dan USDC sebagai contoh. Berdasarkan kerangka kerja yang dijelaskan oleh wakil menteri itu, lembaga penyimpanan digital Rusia tetap bertanggung jawab atas kegagalan dalam tugas akuntansi, penyimpanan (custody) dan transfer asetnya sendiri termasuk pemindahtanganan aset nasabah tanpa izin.
Pemisahan Aturan
Undang-Undang Federal Nomor 282-FZ membuat pemisahan aturan untuk tindakan yang dilakukan oleh entitas asing.
Pasal 20 mengizinkan kontrak,termasuk aturan bursa untuk menyatakan operator pasar, operator platform, dan organisasi kliring tidak bertanggung jawab atas kerugian nasabah yang disebabkan oleh pihak yang tunduk pada hukum asing yang menyita aset digital atau membatasi transaksi.
Oleh karena itu, Chebeskov menyatakan, pembekuan yang dilakukan oleh penerbit asing karena alasan di luar kendali lembaga penyimpanan Rusia tidak secara otomatis mewajibkan lembaga tersebut untuk mengganti kerugian nasabah.
Masalah ini telah muncul di pasar kripto Rusia. Pada Maret 2025, Tether menyatakan telah membantu Dinas Rahasia AS (U.S. Secret Service) membekukan USDT senilai US$ 23 juta atau Rp 410,68 miliar yang terkait dengan transaksi yang melibatkan bursa Rusia yang terkena sanksi, Garantex. Otoritas AS kemudian menyatakan, operasi penegakan hukum terkoordinasi telah membekukan mata uang kripto senilai lebih dari US$ 26 juta atau Rp 462,25 miliar yang dikendalikan oleh bursa tersebut.
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, tindakan pembekuan oleh Tether memaksa Garantex untuk menghentikan operasionalnya setelah USDT senilai miliaran rubel tidak dapat diakses.
Insiden ini memberikan contoh terdokumentasi mengenai mekanisme pengendalian di tingkat penerbit yang kini ingin dipahami oleh para investor sebelum mereka membeli stablecoin asing.
Pasar Kripto Rusia
Ketentuan Circle juga menyatakan hal serupa, yakni penerbit dapat memblokir alamat USDC yang terkait dengan aktivitas terlarang dan dapat membekukan token jika diwajibkan oleh perintah pemerintah yang sah.
Rusia menaksir nilai pasar kriptonya mencapai 3,7 triliun rubel. Chebeskov mengatakan, para ahli memperkirakan sekitar 20 juta orang di Rusia saat ini menggunakan mata uang kripto.
Menurut perkiraan Kementerian Keuangan, total eksposur investasi mereka mencapai hampir 3,7 triliun rubel. Angka ini mencakup mata uang kripto yang dimiliki secara langsung serta produk keuangan tertentu yang terkait dengan kripto, sehingga tidak dapat dianggap semata-mata sebagai total saldo dompet on-chain.
Aktivitas Kripto
Aktivitas kripto harian diperkirakan mencapai sekitar 50 miliar rubel. Chebeskov menyatakan bahwa regulator tidak menetapkan target pasti mengenai seberapa besar porsi aktivitas tersebut yang harus beralih ke saluran berizin paling lambat Juli 2027.
Fokus utama mereka saat ini adalah menciptakan pasar di mana pihak perantara, tanggung jawab, dan perlindungan investor dapat diidentifikasi dengan jelas.
Undang-undang utama Rusia mengenai mata uang kripto mulai berlaku pada 1 September. Bank of Russia menyatakan bahwa baik investor berkualifikasi maupun non-kualifikasi dapat memperdagangkan kripto melalui perantara yang diatur secara resmi di bawah kerangka kerja baru tersebut. Penggunaan mata uang kripto di dalam negeri sebagai alat pembayaran untuk barang dan jasa tetap dilarang.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.