Jalan Lebih Jauh Ternyata Bisa Bikin BBM Lebih Irit

Apakah lebih baik melewati jalan terdekat meski berpotensi macet, atau mengambil jalur alternatif yang lebih jauh tetapi lalu lintasnya relatif lancar?

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 25 September 2026, 16:12 WIB
Sejumlah kendaraan bermotor terjebak kemacetan di Jalan K.H. Abdullah Syafei, Jakarta, Jumat (22/7/2022). Tim Pembina Samsat Nasional akan menghapus data kendaraan yang tak membayar pajak selama dua tahun. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Saat berkendara sehari-hari maupun melakukan perjalanan jauh, pengemudi kerap dihadapkan pada pilihan rute. Apakah lebih baik melewati jalan terdekat meski berpotensi macet, atau mengambil jalur alternatif yang lebih jauh tetapi lalu lintasnya relatif lancar?

Secara teori, rute terdekat memang terlihat sebagai pilihan paling efisien karena jarak tempuh yang harus dilalui lebih sedikit. Namun, kondisi lalu lintas menjadi faktor penting yang dapat mengubah perhitungan tersebut, terutama ketika pengemudi menghadapi kemacetan dan kondisi stop-and-go.

Dilansir dari laman Daihatsu, Jumat (25/9/2026), kondisi lalu lintas tidak hanya berpengaruh terhadap waktu tempuh, tetapi juga dapat memengaruhi konsumsi BBM dan kenyamanan pengemudi selama perjalanan.

Jika lalu lintas berada dalam kondisi normal, rute terdekat tentu memiliki keuntungan. Jarak tempuh yang lebih pendek membuat kendaraan membutuhkan waktu dan bahan bakar lebih sedikit untuk mencapai tujuan.

Persoalan muncul ketika rute tersebut mengalami kemacetan parah. Kendaraan yang bergerak dalam pola berhenti dan berjalan kembali atau stop-and-go membuat mesin harus berulang kali bekerja saat kendaraan kembali berakselerasi.

Akselerasi dari posisi berhenti membutuhkan energi lebih besar dibandingkan mempertahankan laju kendaraan secara konstan. Akibatnya, konsumsi BBM dapat meningkat meskipun jarak yang ditempuh relatif pendek.

Dengan kata lain, jarak tempuh yang lebih sedikit tidak selalu berarti penggunaan bahan bakar lebih rendah apabila sebagian besar perjalanan dihabiskan dalam kondisi macet.

Sebaliknya, pengemudi dapat mempertimbangkan jalur alternatif apabila rute utama mengalami kemacetan panjang.

Meski jaraknya lebih jauh, lalu lintas yang lancar memungkinkan kendaraan bergerak dengan kecepatan yang lebih stabil. Putaran mesin atau RPM juga cenderung lebih konsisten sehingga kerja mesin menjadi lebih efisien dibandingkan harus terus melakukan akselerasi dan deselerasi.

Kondisi tersebut berpotensi membuat konsumsi BBM lebih terkendali. Namun, jalur yang lebih jauh tentu memiliki konsekuensi lain, seperti bertambahnya jarak pada odometer serta potensi peningkatan keausan pada ban dan sejumlah komponen kendaraan akibat jarak perjalanan yang lebih panjang.

Karena itu, pemilihan rute ideal sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan jarak, tetapi juga kondisi lalu lintas secara keseluruhan. Pertimbangan memilih rute dengan lalu lintas lebih lancar bukan hanya berkaitan dengan efisiensi BBM.

Berdasarkan studi yang dikutip dari International Online Medical Council (IOMC), durasi berkendara yang panjang dan melelahkan akibat kemacetan dapat meningkatkan risiko stres pada pengemudi.

Materi tersebut menyebutkan, pengemudi yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam 10 menit di jalan setiap hari memiliki peningkatan risiko stres hingga 80 persen.

Karena itu, perjalanan yang lebih lancar dapat memberikan keuntungan dari sisi kenyamanan dan beban psikologis pengemudi, meski jarak tempuhnya lebih panjang.

Rute terdekat masih menjadi pilihan yang masuk akal apabila kemacetan di jalur tersebut relatif ringan dan tidak berlangsung terlalu panjang.

Sebagai panduan, pengemudi dapat mempertimbangkan rute dekat ketika antrean kendaraan masih dalam kondisi wajar dan titik kemacetan memiliki panjang kurang dari sekitar 1–2 kilometer.

Dalam kondisi seperti ini, mengambil jalan alternatif yang jauh belum tentu memberikan keuntungan berarti karena tambahan jarak bisa lebih besar dibandingkan waktu yang dapat dihemat.

 

Kapan Perlu Mengambil Jalur Alternatif?

Jalur alternatif dapat dipertimbangkan ketika kemacetan di rute utama sudah tergolong parah atau kendaraan terjebak dalam antrean panjang.

Apabila terjadi kemacetan total dengan antrean kendaraan lebih dari 2 kilometer, pengemudi dapat membandingkan estimasi waktu tempuh antara bertahan di jalur utama dan mengambil rute alternatif.

Jika jalur alternatif menawarkan lalu lintas yang jauh lebih lancar, tambahan jarak bisa menjadi pertimbangan yang sepadan. Selain berpotensi menghemat waktu, perjalanan yang lebih lancar juga dapat mengurangi frekuensi berhenti dan berakselerasi yang berulang.

Pada akhirnya, menentukan rute terbaik saat berkendara tidak cukup hanya dengan melihat angka jarak di aplikasi navigasi.

Jarak, kondisi kemacetan, waktu tempuh, konsumsi BBM, serta kondisi pengemudi perlu diperhitungkan secara bersamaan.

Rute pendek memang menjadi pilihan efisien ketika lalu lintas normal. Namun, saat kemacetan sudah terlalu panjang dan kendaraan terus bergerak dalam pola stop-and-go, jalur alternatif yang lebih jauh tetapi lancar dapat menjadi opsi yang patut dipertimbangkan.

Bagi pengemudi, kuncinya adalah membandingkan kondisi aktual di jalan sebelum menentukan rute, sehingga perjalanan tidak hanya efisien dari sisi jarak, tetapi juga lebih nyaman dan terukur dari sisi waktu serta penggunaan BBM.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya