Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin melonjak menembus US$ 86.000 pada perdagangan Senin. Kenaikan ini memperpanjang reli Bitcoin dalam beberapa hari terakhir sekaligus membawa harga Bitcoin ke level tertinggi sejak akhir Januari 2026.
Mengutip CNBC, Selasa (22/9/2026), harga Bitcoin berada di US$ 85.863,40 atau naik sekitar 5,8%. Bitcoin bahkan sempat menyentuh US$ 86.349,90 pada perdagangan Senin, menjadi level tertinggi sejak 29 Januari.
Advertisement
Kenaikan harga Bitcoin membuat investor mulai memperdebatkan apakah periode “crypto winter” telah berakhir. Istilah tersebut merujuk pada periode ketika harga aset kripto mengalami tekanan berkepanjangan.
Crypto winter dimulai setelah Bitcoin mencatat rekor tertinggi di atas US$ 126.000 pada Oktober 2025.
“Saya memang berpikir ini sudah berakhir, ini adalah crypto spring, bunga crocus mulai bermekaran,” kata Chief Investment Officer Bitwise Matt Hougan kepada CNBC dalam program “Squawk Box Europe”, Senin.
“Saya pikir ini sebenarnya akan menjadi pasar bullish terkuat dan berlangsung paling lama dalam sejarah kripto,” lanjutnya.
Bitcoin Mulai Bangkit dari Crypto Winter
Meski harga Bitcoin masih mencatat penurunan sepanjang tahun ini, kinerjanya mulai membaik. Harga Bitcoin telah naik lebih dari 8% dalam sepekan terakhir dan melonjak 34% dalam tiga bulan.
Namun, harga Bitcoin masih berada cukup jauh dari rekor tertingginya.
Hougan mengatakan fundamental industri kripto terus membaik meski harga aset digital sempat mengalami tekanan. Ia menyoroti peningkatan jumlah transaksi di berbagai jaringan blockchain serta keterlibatan perusahaan besar seperti BlackRock.
“Jadi, saya pikir kita mengalami situasi yang tidak biasa, ketika harga turun secara siklus, sementara fundamental justru mengalami peningkatan secara struktural. Sekarang saya menduga harga akan mengejar fundamental tersebut menjelang akhir tahun,” ujar Hougan.
“Saya tidak berpikir jika saya kembali tahun depan, kita masih akan berada di bawah rekor tertinggi tersebut,” tambahnya.
Analis BTIG dalam catatan Minggu mengatakan selama harga Bitcoin mampu bertahan di level US$ 75.000, investor bullish dapat membidik kenaikan melewati US$ 82.000 menuju US$ 90.000.
Saham terkait kripto, termasuk Strategy dan Coinbase, juga menguat dalam perdagangan AS pada Senin.
Investor Mulai Kembali ke Aset Kripto
Reli harga Bitcoin terjadi meski Senat AS pada pekan lalu memblokir kemajuan Clarity Act. Rancangan aturan tersebut seharusnya membentuk kerangka regulasi aset kripto di AS serta membagi pengawasan industri antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Menurut Hougan, kegagalan Clarity Act justru masih dapat mendukung harga aset kripto karena SEC dan CFTC untuk sementara akan menentukan aturan industri.
“Ini adalah SEC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS; ini juga CFTC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS. Jadi, secara ironis, tanpa disahkannya Clarity Act, kita mungkin justru memiliki regulasi yang lebih mendukung kripto,” kata Hougan.
Ia juga melihat adanya perpindahan dana investor dari saham berbasis kecerdasan buatan (AI) kembali ke aset kripto.
Menurut Hougan, lonjakan saham AI sebelumnya telah menyerap sebagian besar perhatian investor.
“Boom AI telah menyedot semua perhatian. Setiap investor yang berorientasi pada momentum berfokus pada hal tersebut. Sekarang setelah tren itu mulai mendatar, Anda melihat dana tersebut kembali berputar ke kripto,” ujarnya.
Pergerakan ini menjadi salah satu faktor yang ikut mendukung pemulihan harga Bitcoin setelah periode tekanan panjang.