Liputan6.com, Jakarta - JPMorgan melihat peluang Bitcoin mendapat dukungan lebih besar dari investor dibandingkan emas. Namun, pandangan tersebut memiliki satu syarat, yakni aktivitas hedging yang berkaitan dengan ETF Bitcoin mulai berkurang.
Analisis yang dilaporkan bukan merupakan proyeksi harga Bitcoin. JPMorgan hanya menggambarkan skenario ketika aset kripto tersebut berpotensi memperoleh keunggulan relatif atas emas dari sisi permintaan.
Advertisement
Dikutip dari CoinMarketCap, Jumat (18/9/2026), JPMorgan sendiri telah meningkatkan kepemilikannya pada ETF Bitcoin dan Ether dalam laporan kuartal II 2026. Keterlibatan tersebut menunjukkan eksposur institusional bank terhadap produk investasi berbasis kripto.
Lantas, apa hubungannya dengan hedging?
Ketika investor institusi memiliki ETF Bitcoin, sebagian eksposur biasanya dilindungi menggunakan derivatif atau posisi penyeimbang untuk mengurangi risiko penurunan harga.
Strategi tersebut membuat dampak bullish dari kepemilikan ETF terhadap Bitcoin menjadi lebih kecil karena sebagian posisi telah diimbangi.
Jika aktivitas hedging berkurang, jumlah kepemilikan ETF yang sama dapat menghasilkan eksposur long bersih yang lebih besar terhadap Bitcoin.
Mekanisme inilah yang menjadi dasar pandangan JPMorgan bahwa Bitcoin berpotensi memperoleh dukungan lebih besar dibandingkan emas.
Perubahan Strategi Hedging Investor Institusi
JPMorgan menekankan bahwa pandangan tersebut merupakan skenario bersyarat, bukan target harga ataupun rekomendasi investasi.
Investor yang ingin mengikuti perkembangan tesis tersebut dapat memperhatikan perubahan posisi ETF Bitcoin serta open interest di pasar derivatif. Kedua indikator itu dapat memberikan gambaran mengenai seberapa besar eksposur investor terhadap Bitcoin yang benar-benar tidak dilindungi hedging.
JPMorgan juga sebelumnya menyoroti faktor regulasi sebagai salah satu hal yang dapat memengaruhi posisi institusi terhadap Bitcoin, termasuk perkembangan CLARITY Act pada 2026.
Perbandingan Bitcoin dan emas sebagai aset penyimpan nilai pun semakin menarik perhatian. Di Asia Tenggara, perkembangan tersebut relevan bagi investor ritel yang mengikuti sinyal dari institusi keuangan global.
Bitcoin sendiri sempat mencapai sekitar US$123.000 di tengah penguatan pasar kripto. Pada saat yang sama, JPMorgan juga memperluas keterlibatannya melalui produk structured notes yang terhubung dengan Bitcoin.
Dengan demikian, fokus utama analisis JPMorgan bukan sekadar harga Bitcoin, melainkan bagaimana perubahan strategi hedging investor institusi dapat memengaruhi permintaan bersih terhadap aset kripto tersebut.