Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Banten Andra Soni merespons keputusan Basarnas menghentikan pencarian jurnalis dan kru Arupadhatu 1 hilang kontak di Selat Sunda. Dia menghargai keputusan tim SAR gabungan yang menutup pencarian.
"Kami menghormati keputusan Basarnas untuk menghentikan proses pencarian dan pertolongan ini," ujar Andra Soni, Kamis (17/9/2026).
Advertisement
Andra berterima kasih kepada Basarnas, TNI AL, TNI AD, Polairud, nelayan, hingga relawan yang membantu pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak tersebut.
"Alhamdulillah berkat kebaikan, kebijaksanaan dari Basarnas, tanpa ada petunjuk pada hari ketujuh yang lalu, permohonan keluarga, Pemprov Banten, diterima untuk diperpanjang selama tiga hari," terangnya.
Dia juga mengucapkan permintaan maaf serta turut berbelasungkawa terhadap seluruh keluarga korban. Karena selama tiga hari pencarian di waktu tambahan, belum bisa menemukan para korban.
Andra Soni meminta jika ada informasi temuan Arupadhatu 1 terbaru, bisa dikabarkan ke Pemprov Banten untuk ditindaklanjuti.
"Kami berharap setiap ada informasi baru atau tanda-tanda baru atau petunjuk dilapangan, mohon kita dapat berkoordinasi dan ditindak lanjuti bersama-sama," jelasnya.
Basarnas Tutup Pencarian
Sebelumnya diberitakan, posko pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal ditutup oleh tim SAR gabungan, setelah melakukan penyisiran melalui jalur darat, laut hingga udara, selama 10 hari terakhir.
"Dari semua yang kita evaluasi, diawal tadi tentang aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga, tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau kami mengacu pada peraturan kami tersebut, seharusnya kita sudah closed," ujar Kepala Basarnas Banten Al Amrad.
Selama 10 hari pencarian, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kapal cepat Arupadhatu 1 maupun delapan penumpangnya.
Bahkan proses pencariannya melibatkan Basarnas Banten, Lampung hingga Bengkulu. Bahkan Poda Bengkulu juga terlibat mengidentifikasi temuan jenazah di Pulau Enggano. Meski hingga saat ini belum keluar hasil uji DNA-nya.
"Dari kami sendiri juga Basarnas Banten, kantor SAR Lampung dan kantor SAR Bengkulu (juga terlibat)," terangnya.
Ke depannya, jika ada informasi temuan material terkait kapal Arupadhatu 1 beserta penumpangnya, maka operasi SAR bisa dibuka kembali.
Penyampaian informasi keseluruhan kapal yang melintas Selat Sunda akan terus dilakukan. Nelayan hingga masyarakat yang mengetahui informasi terkait Arupadhatu 1, bisa segera melapor ke kantor polisi terdekat atau langsung ke Basarnas Banten.
"Kami juga sudah menyampaikan e-brodcast, ke seluruh kapal yang melintas di Selat Sunda. Termasuk pencarian ke pulau-pulau tersebut (sekitar Selat Sunda). Kami akan memperkuat lagi dengan e-brodcast, jika ada informasi atau temuan, tentu akan kami tindak lanjuti," jelasnya.