Liputan6.com, Riyadh - Arab Saudi pada Jumat (11/9/2026) mengatakan telah menutup salah satu jaringan pipa minyak utamanya sehari setelah fasilitas itu diserang drone. Sementara itu, menurut dua pejabat, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran merebut sebuah pulau strategis di pintu masuk selatan Laut Merah, membuka front baru dalam perang Iran.
Houthi mencatat kemajuan teritorial terbesar mereka dalam beberapa tahun terakhir di sepanjang Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Kemajuan tersebut dapat memperkuat strategi Iran untuk mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia sebagai tekanan terhadap Amerika Serikat (AS).
Advertisement
Arab Saudi mengatakan telah menghentikan pengoperasian pipa East-West setelah fasilitas itu diserang sehari sebelumnya.
Kementerian Energi Arab Saudi menyebut penutupan tersebut sebagai "langkah pencegahan".
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menuding serangan itu dilakukan dengan sejumlah drone yang berasal dari Irak.
Dalam pernyataan yang disiarkan Saudi Press Agency, pemerintah Arab Saudi mengatakan tidak akan membalas serangan tersebut demi memberi pemerintah Irak kesempatan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Pemerintah Irak mengecam serangan itu dan memerintahkan penyelidikan.
Pada Juli, Arab Saudi dan AS mengebom kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran di Irak setelah menuding mereka berada di balik serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan-serangan tersebut sebelumnya diklaim oleh Houthi. Menurut sejumlah pejabat regional yang berbicara kepada Associated Press, Houthi membantu milisi Irak merencanakan dan melaksanakan serangan tersebut.
Pipa Dibangun pada 1980-an
Pipa East-West yang dibangun pada dekade 1980-an memainkan peran penting dalam kemampuan Arab Saudi mengekspor minyak setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang Iran.
Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), pada awal Juni Arab Saudi telah meningkatkan lebih dari dua kali lipat ekspor minyak dari pelabuhan Laut Merah yang menjadi ujung jalur pipa tersebut hingga lebih dari 5 juta barel per hari.
Seorang pejabat militer senior pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan seorang pejabat Houthi sama-sama mengonfirmasi bahwa Houthi telah merebut Mayun, pulau vulkanik kecil dan tandus di Selat Bab al-Mandeb yang juga dikenal sebagai Perim.
Kedua pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada wartawan.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, semakin mengandalkan Laut Merah untuk mengirim minyak mentahnya ke pasar sebagai alternatif dari Selat Hormuz.
Upaya Houthi menutup jalur Bab al-Mandeb yang memiliki lebar sekitar 28 kilometer membuat rute tersebut semakin sulit digunakan.
Dalam pernyataan pada Jumat, angkatan bersenjata Houthi membanggakan kemajuan mereka di sepanjang pesisir tanpa menyebut Pulau Mayun, Mokha, ataupun Selat Bab al-Mandeb.
Houthi bersumpah akan melakukan "eskalasi untuk membalas eskalasi" dalam konfrontasi dengan Arab Saudi.
Kelompok itu juga menyatakan bahwa navigasi laut aman bagi seluruh perusahaan, kecuali kapal-kapal Arab Saudi.
Namun, pasar tetap diliputi kekhawatiran. Para pakar menggambarkan Houthi sebagai kelompok yang sangat sulit diprediksi.
Harga minyak mentah pekan ini kembali melonjak hingga menembus US$ 100 per barel. Kenaikan itu memberi Iran daya tawar lebih besar dalam setiap kemungkinan perundingan.
Pemerintah Yaman Kaget dengan Respons Arab Saudi
Houthi menyerang kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah sejak mengumumkan blokade pada Juli. Kelompok itu juga menyerang infrastruktur minyak di dalam wilayah Arab Saudi.
Houthi mengatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap blokade yang telah bertahun-tahun diterapkan Arab Saudi terhadap wilayah Yaman yang dikuasai kelompok itu.
Menurut stasiun penyiaran Houthi, Arab Saudi menyerang bandara di kota pelabuhan Mokha setelah kelompok tersebut merebut kota itu pada Kamis (10/9).
Tidak ada laporan mengenai kerusakan ataupun korban jiwa.
Seorang pejabat militer senior pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan kepada Associated Press bahwa pihaknya terkejut angkatan udara Arab Saudi tidak berupaya mencegah jatuhnya Mokha, yang berjarak sekitar 80 kilometer dari selat tersebut.
Menurut pejabat itu, Arab Saudi tidak memperoleh lampu hijau dari AS untuk melancarkan kampanye udara berskala besar.
Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media.
Menurut dia, kurangnya koordinasi antara militer Yaman dan berbagai milisi sekutunya telah memberi Houthi kesempatan yang sangat berharga.
Sejak Houthi mulai menyerang sejumlah kapal di kawasan tersebut pada akhir 2023 dan menyatakan solidaritas kepada warga Palestina di Gaza, aktivitas pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb turun sekitar 60 persen.
Menurut Lloyd’s List Intelligence, aktivitas pelayaran sempat meningkat tahun ini ketika Arab Saudi mencari alternatif bagi Selat Hormuz. Namun, ancaman terbaru Houthi kembali membatasi aktivitas tersebut.
Kondisi itu memaksa Arab Saudi mencari rute alternatif lain dengan mengirim minyak ke arah utara melalui Laut Merah menuju Mediterania, baik lewat Terusan Suez maupun jaringan pipa yang melintasi Mesir.
Rute tersebut jauh lebih panjang bagi pelanggan Arab Saudi di Asia.
Houthi juga mengancam jalur tersebut. Pada akhir Agustus, kelompok itu menyerang sebuah kapal Arab Saudi di bagian utara Laut Merah.
Iran Serukan Dimulainya Kembali Perundingan Arab Saudi-Houthi
Pemerintah Iran pada Jumat menyerukan penghentian blokade Arab Saudi terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi sebagai bentuk dukungan terhadap sekutunya tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran menyerukan agar perundingan antara Arab Saudi dan Houthi kembali digelar.
Juru bicara Garda Revolusi Iran pada Rabu (9/9) mengatakan setiap penyelesaian melalui perundingan dengan AS harus mencakup persoalan Yaman.
Pernyataan itu menjadi penyebutan secara eksplisit pertama terhadap front tersebut dan menunjukkan pentingnya posisi Houthi bagi Iran.
Arab Saudi mengatakan selama ini selalu menawarkan kesempatan untuk bernegosiasi. Namun, mereka menegaskan memiliki hak untuk membela diri.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial mengatakan menteri luar negeri Iran dan Arab Saudi pada Kamis membahas upaya diplomatik untuk memulihkan stabilitas.
Pertempuran Berisiko Menghidupkan Kembali Perang Saudara Yaman
Ketika Houthi bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju jalur Bab al-Mandeb, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menyerukan dukungan internasional.
Dalam pernyataan pada Jumat mengenai pertemuan yang digelar sehari sebelumnya, Dewan Pertahanan Nasional Yaman mengatakan pihaknya berada di garis depan dalam mempertahankan kebebasan navigasi.
Dewan itu mengecam serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi.
Meningkatnya pertempuran mengancam mengakhiri gencatan senjata rapuh yang sejak 2022 sebagian besar telah menghentikan perang saudara Yaman.
Nasib sekitar 40 juta penduduk di negara termiskin di dunia Arab menjadi taruhannya.
Konflik tersebut telah menewaskan 150.000 orang dan membuat banyak lainnya berada di ambang kelaparan.
Badan migrasi PBB pada Jumat mengatakan peningkatan pertempuran dalam sepekan terakhir telah menyebabkan lebih dari 46.000 orang mengungsi.
Abdusattor Esoev, kepala misi Organisasi Internasional untuk Migrasi atau International Organization for Migration (IOM) di Yaman, mengatakan warga yang mencari tempat aman pergi dengan membawa apa pun yang sempat mereka ambil.
Menurut Esoev, jumlah warga yang mengungsi meningkat lebih dari dua kali lipat dalam pekan ini dan masih berpotensi meningkat tajam.
Di antara mereka yang mengungsi terdapat dokter dan tenaga medis lainnya.
Lou Cormack, koordinator Doctors Without Borders di Yaman, mengatakan kelompok bantuan tersebut memprioritaskan agar rumah sakit di Mokha tetap beroperasi setelah sebagian besar stafnya meninggalkan kota.
Houthi berperang melawan pemerintah Yaman sejak 2014, ketika kelompok tersebut merebut sebagian besar wilayah utara dan tengah Yaman serta ibu kota Sanaa.
Arab Saudi memasuki perang pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah Yaman.