Liputan6.com, Jakarta - Memutar setir mobil hingga posisi paling mentok menjadi hal yang cukup sering dilakukan pengemudi. Kebiasaan ini biasanya terjadi ketika parkir di ruang sempit, melakukan putar balik, atau saat melewati gang dengan akses terbatas.
Sekilas, memutar setir hingga mentok memang terlihat sepele. Apalagi, satu atau dua kali menyentuh batas maksimal putaran setir umumnya tidak langsung menyebabkan kerusakan pada komponen kendaraan.
Advertisement
Namun, lain halnya jika setir ditahan dalam posisi mentok terlalu lama dan dilakukan berulang kali. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan beban pada sistem kemudi, khususnya power steering.
Dampaknya pun bisa berbeda, tergantung teknologi power steering yang digunakan kendaraan, baik Hydraulic Power Steering (HPS) maupun Electric Power Steering (EPS).
Dikutip dari laman Daihatsu, setir yang sesekali mencapai posisi mentok tidak serta-merta membuat komponen rusak. Risiko masalah lebih besar muncul ketika pengemudi terus menahan setir pada posisi tersebut dalam waktu lama.
Lantas, apa saja dampak memutar setir mobil hingga mentok?
1. Tekanan Power Steering Hidrolik Bisa Meningkat
Pada mobil yang menggunakan Hydraulic Power Steering (HPS), setir yang ditahan di posisi mentok dapat membuat tekanan fluida hidrolik meningkat.
Kondisi tersebut membuat pompa dan sejumlah komponen dalam sistem power steering bekerja dengan beban lebih besar.
Jika terjadi berulang, tekanan dan temperatur yang tinggi berpotensi mempercepat keausan seal. Dalam kondisi tertentu, hal ini juga dapat memicu kebocoran fluida power steering.
Pompa power steering juga berpotensi mengalami panas berlebih karena terus bekerja ketika aliran fluida berada pada tekanan tinggi.
Karena itu, pengemudi sebaiknya tidak menjadikan posisi setir mentok sebagai posisi yang ditahan dalam waktu lama, terutama pada mobil dengan sistem HPS.
2. Motor EPS Bisa Mengalami Beban Berlebih
Berbeda dengan HPS, Electric Power Steering (EPS) menggunakan bantuan motor listrik dan sensor untuk meringankan kerja pengemudi saat memutar kemudi.
Sistem EPS tidak menggunakan fluida hidrolik sehingga memiliki karakteristik yang berbeda dari HPS. Meski demikian, bukan berarti setir mentok boleh dilakukan terus-menerus tanpa risiko.
Ketika setir ditahan di posisi paling ujung, motor EPS dapat bekerja lebih keras, menarik arus lebih besar, dan menghasilkan panas.
Jika kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus dalam jangka panjang, beban panas dan listrik berlebih berpotensi memengaruhi usia sejumlah komponen elektronik pada sistem EPS.
Pada kondisi tertentu, sistem juga dapat mendeteksi beban berlebih dan menyalakan lampu indikator EPS di panel instrumen.
3. Komponen Kaki-Kaki Ikut Menerima Beban
Dampak kebiasaan memutar setir hingga mentok tidak hanya berkaitan dengan power steering. Sejumlah komponen sistem kemudi dan kaki-kaki juga dapat menerima beban tambahan.
Komponen seperti tie rod, ball joint, rack and pinion, hingga karet boot CV joint dapat ikut terbebani, terutama ketika manuver dilakukan secara kasar.
Dalam jangka panjang, keausan pada komponen tersebut dapat memengaruhi kenyamanan dan presisi kemudi.
Gejalanya bisa berupa kemudi terasa kurang presisi, muncul suara ketika setir dibelokkan, hingga keausan ban yang tidak merata.
Karena itu, kebiasaan memutar setir secara kasar hingga mentok sebaiknya dikurangi, terlebih ketika kendaraan sedang berada dalam posisi diam.
4. Hindari Memutar Setir Sampai Mentok Saat Mobil Diam
Salah satu kondisi yang sebaiknya dihindari adalah memutar setir hingga mentok ketika mobil benar-benar dalam keadaan diam.
Saat roda tidak bergerak, beban yang diterima sistem kemudi dapat meningkat. Kondisi ini terutama perlu diperhatikan pada kendaraan yang menggunakan HPS.
Risikonya dapat semakin besar apabila setelah setir berada di posisi mentok, pengemudi langsung menginjak pedal gas dengan keras.
Selain itu, menahan setir dalam posisi mentok terlalu lama membuat sistem bekerja dalam kondisi beban dan temperatur yang lebih tinggi.
Karena itu, jika harus melakukan manuver dengan sudut kemudi besar, sebaiknya kendaraan tetap bergerak perlahan dan setir tidak ditahan terlalu lama di batas maksimal.
Cara Mencegah Power Steering Cepat Rusak
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga sistem power steering tetap bekerja optimal.
Pertama, pengemudi tidak perlu memutar setir hingga benar-benar mencapai batas maksimal. Jika memungkinkan, sisakan sedikit jarak sekitar 1-2 cm sebelum posisi mentok.
Jika kondisi manuver mengharuskan setir mencapai posisi mentok, usahakan tidak menahannya dalam waktu lama.
Pengemudi juga sebaiknya menggerakkan kendaraan terlebih dahulu sebelum memutar setir. Dengan demikian, roda tidak dalam kondisi sepenuhnya diam ketika menerima perubahan arah.
Kebiasaan memutar setir saat mobil benar-benar diam juga sebaiknya dihindari, terutama ketika dilakukan secara berulang.
Untuk kendaraan dengan sistem HPS, kondisi dan volume oli power steering perlu diperiksa secara berkala. Pastikan tidak ada kebocoran serta gunakan fluida sesuai rekomendasi pabrikan.
Sementara itu, pada kendaraan dengan EPS, kondisi karet boot dan komponen sistem kemudi tetap perlu diperhatikan.
Karet boot yang robek dapat memungkinkan air dan kotoran masuk ke bagian yang seharusnya terlindungi.
Pada akhirnya, memutar setir hingga mentok sesekali bukan berarti langsung membuat power steering rusak.
Yang perlu dihindari adalah kebiasaan menahan setir di posisi mentok terlalu lama, terlebih jika dilakukan ketika mobil diam dan secara berulang.
Dengan menerapkan teknik mengemudi yang tepat serta melakukan servis berkala sesuai rekomendasi pabrikan, beban berlebih pada sistem kemudi dapat diminimalkan sehingga komponen power steering tetap bekerja secara optimal.