Karya Tyra Kleen Pulang ke Indonesia, Membuka Kembali Potret Jawa dan Bali 100 Tahun Lalu

Pameran karya Tyra Kleen sekaligus menjadi bagian dari perayaan 76 tahun hubungan diplomatik Swedia dan Indonesia.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 10 September 2026, 14:00 WIB
Pameran bertajuk "Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921" digelar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta pada 9 sampai 30 September 2026. (dok. PR)

Liputan6.com, Jakarta - Lebih dari satu abad setelah Tyra Kleen menjejakkan kaki di Jawa dan Bali, karya-karyanya kembali ke Indonesia. Gambar, litografi, dan foto yang pernah lahir dari perjalanan panjang seniman Swedia itu kini hadir di Jakarta, membawa serta potongan suasana Jawa dan Bali pada awal abad ke-20.

Pameran bertajuk "Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921" digelar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta. Berlokasi, pameran ini mempertemukan karya ratusan tahun lalu dengan wajah Indonesia yang terus berubah.

"Bagi kami, membawa karya Tyra Kleen kembali ke Indonesia merupakan sebuah kehormatan karena sebagian besar karya ini lahir dari pengalamannya di sini," ujar Daniel Blockert, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Papua Nugini, Timor-Leste, dan ASEAN, dalam keterangannya pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 9 September 2026.

Nama Kleen mungkin belum akrab bagi banyak orang di Indonesia. Sosoknya menyimpan kisah perjalanan yang jauh lebih luas daripada sekadar seorang seniman yang datang membawa buku sketsa dan kamera.

Lahir di Stockholm pada 1874 dari keluarga diplomat, ia tumbuh dengan dorongan kuat untuk mencari kebebasan dan pengetahuan melalui perjalanan. Jawa dan Bali menjadi salah satu persinggahan penting dalam pencarian tersebut.

Kleen berada di Indonesia pada 1919 hingga 1921. Ia mengamati kebudayaan setempat dengan perhatian yang mendalam, terutama seni pertunjukan, tradisi keraton, praktik spiritual, dan kehidupan masyarakat yang ditemuinya sepanjang perjalanan.

 

Tari Keraton Solo sampai Ritual Hindu Bali

Pameran bertajuk "Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921" digelar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta pada 9 sampai 30 September 2026. (dok. PR)

Karya-karya yang lahir dari pengalaman itu terasa seperti catatan dari sebuah dunia yang kini hanya dapat disusuri melalui arsip. Ilustrasi dari buku Het Serimpi, misalnya, merekam tari keraton dari Solo.

Gerak tubuh para penari yang tertangkap dalam gambar membawa pembaca pada suasana seni pertunjukan Jawa yang telah melewati banyak generasi. Kleen juga menaruh perhatian pada mudra, gerakan tangan yang memiliki makna tertentu dalam praktik ritual Hindu.

Ketertarikannya kemudian dituangkan dalam buku Mudrãs. Foto-foto yang dibuatnya di Bali memperlihatkan penari, pemuka agama, serta kehidupan sehari-hari masyarakat pada dekade 1920-an.

Cara Kleen melihat Indonesia terasa berbeda dari perjalanan wisata biasa. Ia tidak sekadar mengumpulkan pemandangan indah untuk dibawa pulang. Rasa ingin tahunya membawanya mendekati hubungan antara seni, agama, spiritualitas, dan pengetahuan manusia.

 

Seni dan Dokumentasi

Pameran bertajuk "Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921" digelar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta pada 9 sampai 30 September 2026. (dok. PR)

Perjalanan tersebut juga berlangsung pada masa ketika perempuan yang bepergian sendiri ke tempat jauh masih merupakan pemandangan yang tidak lazim. Kleen beberapa kali melakukan perjalanan seorang diri atau bersama teman-teman perempuannya.

Kebebasan menjadi bagian penting dalam hidupnya, termasuk kebebasan untuk menentukan arah perjalanan dan gagasan yang ingin ia kejar. Jejak itu membuat karya Kleen berada di antara seni dan dokumentasi.

Ia meninggal di Stockholm pada 1951, sementara sebagian besar koleksi seninya diwariskan pada House of Nobility di Stockholm. Ia bahkan meninggalkan pesan agar koleksinya tidak dibuka selama 50 tahun setelah kematiannya.

Waktu akhirnya membawa karya-karya itu kembali menemukan penontonnya. Pameran di Jakarta menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali nama Kleen, sekaligus membuka percakapan mengenai hubungan Swedia dan Indonesia yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

 

Bak Membuka Album Lama

Pameran bertajuk "Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921" digelar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta pada 9 sampai 30 September 2026. (dok. PR)

Kepulangan karya Kleen terasa seperti membuka sebuah album lama yang selama ini tersimpan jauh di negeri lain. Dari lembaran gambar dan foto, Jawa dan Bali muncul kembali dalam wajah yang telah berubah, tapi menyisakan jejak budaya yang masih dapat dikenali.

Pameran ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan 76 tahun hubungan diplomatik Swedia dan Indonesia. Dukungan sejumlah perusahaan Swedia di Indonesia turut memungkinkan penyelenggaraan pameran tersebut.

Pameran dibuka pada Selasa, 8 September 2026, dan dapat dikunjungi hingga 30 September 2026 di lantai 85 Autograph Tower, UP at Thamrin Nine, Jakarta.

Kedutaan Besar Swedia menghadirkannya melalui kerja sama dengan Museum of Ethnography di Stockholm, yang menyimpan karya-karya Kleen dan mempersembahkan sejumlah reproduksi pilihan untuk ditampilkan di Jakarta.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya