Sinyal dari Perut Bumi, Ilmuwan Temukan Tanda Kecil Sebelum Gunung Meletus

Sekelompok peneliti dan insinyur menemukan teknik deteksi baru yang bisa menjadi sinyal satu gunung meletus atau erupsi.

oleh NurmayantiDiterbitkan 07 September 2026, 12:46 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dari udara yang terus mengalami erupsi, Minggu (23/12). Sekelompok peneliti dan insinyur menemukan teknik deteksi baru yang bisa menjadi sinyal satu gunung meletus atau erupsi. (Liputan6.com/Pool/Susi Air)

Liputan6.com, Jakarta - Erupsi gunung anak krakatau di Provinsi Lampung menuai kewaspadaan masyarakat. Meski intensitas erupsi melambat, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau karena tingkat kegempaan yang masih tinggi. Memang, memprediksi gunung meletus atau erupsi cukup dini untuk memberikan peringatan kepada pihak berwenang dan masyarakat di sekitar kawasan gunung api, masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam ilmu vulkanologi.

Kabar baiknya, melansir laman sciencedaily, Senin (7/9/2026), sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications memperkenalkan teknik deteksi baru yang disebut “Jerk.”

Teknik ini dikembangkan para peneliti dan insinyur dari Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) dan GFZ Helmholtz Centre for Geosciences.

Metode ini mengandalkan satu seismometer broadband untuk mendeteksi pergerakan tanah yang sangat halus, yang berkaitan dengan intrusi magma jauh di bawah permukaan.

Sinyal-sinyal lemah tersebut dapat mengungkap tahap paling awal aktivitas vulkanik secara real time. Tim peneliti menguji metode ini selama 10 tahun di sebuah observatorium vulkanologi di Pulau La Réunion.

Selama periode tersebut, sistem ini berhasil memprakirakan 92% dari 24 erupsi yang terjadi antara 2014 hingga 2023. Waktu peringatan yang dihasilkan bervariasi, mulai dari hanya beberapa menit hingga delapan jam sebelum erupsi terjadi.

Sekitar 14% peringatan tidak diikuti erupsi. Namun, peringatan tersebut tetap berhasil mendeteksi adanya pergerakan magma di bawah gunung api.

Karena hanya membutuhkan peralatan yang relatif sederhana, sistem Jerk berpotensi menjadi salah satu teknologi penting untuk peringatan dini erupsi, terutama bagi gunung api yang selama ini belum mendapatkan pemantauan secara intensif.

Mengapa Memprediksi Erupsi Gunung Api Sulit?

Gunung api sering menunjukkan tanda-tanda sebelum mengalami erupsi. Tanda-tanda tersebut dapat berupa peningkatan aktivitas seismik, perubahan bentuk atau deformasi permukaan tanah, serta perubahan emisi maupun komposisi gas vulkanik.

Meskipun sinyal-sinyal tersebut sudah dikenal luas, menafsirkannya secara akurat masih menjadi tantangan. Para ilmuwan masih kesulitan menentukan secara tepat kapan erupsi akan terjadi, berapa lama erupsi berlangsung, dan seberapa besar kekuatannya.

Peringatan palsu juga menjadi persoalan serius. Peringatan yang tidak tepat dapat menyebabkan evakuasi yang mahal, gangguan terhadap aktivitas ekonomi, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pemantauan. Karena itu, meningkatkan keandalan prakiraan erupsi menjadi salah satu tujuan utama para ilmuwan yang mempelajari bahaya vulkanik.

Banyak metode sebelumnya untuk memprakirakan erupsi mengandalkan analisis probabilistik, yaitu mencari hubungan statistik dari sejumlah besar data hasil pemantauan.

Adapun metode “Jerk” mengidentifikasi pergerakan tanah yang sangat kecil yang terjadi ketika magma menyusup ke dalam kerak bumi. Sinyal tersebut muncul sebagai transien berfrekuensi sangat rendah, yaitu sinyal perubahan atau impuls yang menyerupai hentakan dan kemudian mereda, yang terekam dalam pergerakan horizontal tanah, termasuk percepatan dan kemiringan permukaan.

Menurut para peneliti, sinyal tersebut kemungkinan berasal dari proses rekahan batuan yang dinamis yang terjadi sebelum erupsi.

 

Cara "Jerk" Bekerja

Ilustrasi erupsi gunung api. Sekelompok peneliti dan insinyur menemukan teknik deteksi baru yang bisa menjadi sinyal satu gunung meletus atau erupsi.(Foto oleh Suhairy Tri Yadhi: https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-lanskap-lansekap-merokok-11754080/)

Para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi sinyal ini lebih dari satu dekade lalu ketika menganalisis kumpulan data dari erupsi-erupsi sebelumnya di Gunung Piton de la Fournaise di Pulau La Réunion.

Sinyal tersebut sangat kecil, hanya berukuran beberapa nanometer per detik kubik (nm/s³). Meski demikian, sinyal tersebut dapat dideteksi hanya dengan menggunakan satu seismometer yang memiliki rentang frekuensi sangat lebar (very broadband seismometer).

Sistem ini juga dilengkapi dengan pemrosesan data khusus yang, antara lain, melakukan koreksi terhadap faktor-faktor seperti pasang surut bumi (Earth tides). Ketika sinyal karakteristik yang terdeteksi melampaui ambang batas tertentu, sistem otomatis akan segera mengeluarkan peringatan.

Tepatnya, sistem ini dipasang pada April 2014 di Observatorium Vulkanologi Piton de la Fournaise, yang dioperasikan Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Université Cité Paris melalui OVPF-IPGP di Pulau La Réunion.

Teknologi tersebut berfungsi sebagai komponen otomatis dalam sistem pemantauan WebObs dan menggunakan data dari sebuah stasiun seismologi broadband yang merupakan bagian dari jaringan Geoscope global. Stasiun tersebut berada sekitar 8 kilometer dari puncak gunung api, tepatnya di kawasan Rivière de l'Est.

Peringatan pertama terjadi pada 20 Juni 2014. Saat itu, sistem mengeluarkan peringatan 1 jam 2 menit sebelum erupsi dimulai.

Selama satu dekade berikutnya, sistem deteksi Jerk beroperasi secara terus-menerus. Sistem ini menghasilkan peringatan otomatis untuk 92% dari 24 erupsi yang tercatat antara 2014 hingga 2023. Bergantung pada karakteristik setiap kejadian, peringatan dapat diberikan mulai dari beberapa menit hingga 8,5 jam sebelum magma mencapai permukaan.

Piton de la Fournaise merupakan salah satu gunung api yang paling intensif dipantau di dunia, sehingga menjadi lokasi ideal untuk menguji metode baru tersebut. Para ilmuwan dapat mengonfirmasi peringatan Jerk menggunakan indikator pemantauan lainnya, termasuk aktivitas seismik, deformasi permukaan tanah, serta pengukuran gas vulkanik.

Pengamatan independen tersebut memastikan bahwa intrusi magma memang terjadi dan menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya erupsi cukup tinggi.

Sistem ini juga diuji menggunakan data historis dari 24 erupsi yang terjadi antara 1998 dan 2010. Hasilnya menunjukkan bahwa sinyal Jerk secara konsisten muncul sebelum kejadian erupsi.

“Keunikan utama penelitian ini terletak pada kenyataan bahwa metode Jerk telah diuji dan divalidasi secara langsung dalam kondisi real time, secara otomatis dan tanpa pengawasan manusia, selama lebih dari 10 tahun. Metode ini tidak hanya diuji melalui pemrosesan data setelah kejadian, seperti yang dilakukan dalam sebagian besar penelitian mengenai tanda-tanda awal erupsi yang telah dipublikasikan,” jelas Dr. Philippe Jousset, salah satu penulis penelitian sekaligus ilmuwan di GFZ Section 2.2 Geophysical Imaging.

 

 

Menguji Metode Jerk di Gunung Api Lain

Ilustrasi gunung mengeluarkan abu vulkanik. (Pixabay/MonikaP)

Pengamatan tambahan seperti aktivitas seismik, deformasi permukaan tanah, dan pengukuran gas vulkanik mengonfirmasi keberadaan magma di bawah gunung api selama peringatan tersebut berlangsung.

“Selain efektif memberikan peringatan terhadap erupsi, alat ini terbukti menjadi pendeteksi intrusi magma yang sangat andal dan tidak ambigu,” ujar Philippe Jousset, merangkum temuan tersebut.

Contoh terbaru terjadi saat krisis seismik di Piton de la Fournaise pada 5 Desember 2025. Bersamaan dengan perubahan kecil pada deformasi permukaan dan anomali gas, para ilmuwan merekam sinyal Jerk yang sangat lemah, hanya sebesar 0,1 nm/s³. Sinyal tersebut mengonfirmasi bahwa magma telah menyusup ke bawah gunung api.

Menguji Metode Jerk di Gunung Api Lain

Setelah lebih dari satu dekade melakukan pemantauan real time secara berkelanjutan di La Réunion, para peneliti menilai sistem Jerk berpotensi menjadi perangkat peringatan dini yang praktis untuk digunakan di gunung api lainnya, terutama gunung api yang memiliki infrastruktur pemantauan terbatas.

Tim peneliti berencana memperluas pengujian metode ini ke sejumlah gunung api aktif lainnya. Salah satu target pertama adalah Gunung Etna di Italia.

Melalui proyek “POS4dyke”, para peneliti akan memasang jaringan baru seismometer broadband dari GIPP Geophysical Instrumental Pool of Potsdam untuk mendeteksi sinyal Jerk. Pemasangan jaringan tersebut dijadwalkan mulai pada 2026, bekerja sama dengan INGV (National Institute of Geophysics and Volcanology) Italia.

Penelitian ini juga akan terhubung dengan proyek SAFAtor, yang mengeksplorasi pemanfaatan kabel serat optik untuk meningkatkan sistem peringatan dini terhadap gempa bumi dan erupsi gunung api.

Jika dikembangkan lebih lanjut, kedua upaya tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan ilmuwan dalam mendeteksi dan memprakirakan aktivitas vulkanik di berbagai belahan dunia, sekaligus memperkuat sistem peringatan dini bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya