Di Antara Puing Kebakaran, Warga Sade Merajut Asa Lewat Tradisi Nyemulak

Proses pembangunan ulang diharapkan tidak menghilangnya nilai budaya di kampung adat itu.

oleh Lia HarahapDiterbitkan 03 September 2026, 10:51 WIB
Tradisi Nyemulak (Tanam Tiang) mengawali tanda dimulainya pembangunan di Sade (Dok: Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Warga Kampung Adat Sade Desa Rambitan Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), tak ingin larut lebih lama dalam kesedihan. Mereka memilih segera bangkit setelah kobaran api memporakporandakan kampung wisata itu.

Tradisi Nyemulak (Tanam Tiang) mengawali ikhtiar warga. Merajut asa di antara sisa puing kebakaran. Agar Rumah Adat Sasak dan Masjid Sade kembali berdiri tegak.

BACA JUGA: Pemulihan Kampung Adat Desa Sade

"Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di kampung Adat Sade ini dimulai hari ini," kata Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, saat acara Nyemulak di Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, dikutip dari Antara, Kamis (3/9/2026).

Ia mengapresiasi para donatur yang telah mendukung rekonstruksi Kampung Adat Sade. Sehingga pembangunan bisa dikerjakan lebih awal dan masyarakat beraktivitas kembali seperti sedia kala.

"Kami berharap kepada masyarakat untuk terus mendukung rekonstruksi ini untuk kesejahteraan generasi penerus bangsa," katanya.

"Pelaksanaan rekonstruksi ini tetap dilaksanakan secara transparan dan sesuai ketentuan untuk kebaikan masyarakat," katanya.

 

Nilai Budaya Sade Tak Boleh Berubah

Rencana pemulihan Desa Adat Sade Lombok yang dilanda kebakaran. (dok. Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata)

Sementara itu Gubernur NTB Lalu M Iqbal mengatakan pemasangan tiang pancang pertama atau Nyemulak ini merupakan ikhtiar panjang dalam melakukan rekonstruksi Kampung Adat Sade .

"Dalam proses pembangunan ini harus tetap sabar," katanya.

Gubernur juga meminta supaya dibentuk satgas dan pembuatan rekening bersama dalam pengelolaan bantuan, agar transparan karena banyak yang ingin membantu proses rekonstruksi ini.

"Bantuan yang masuk dikumpulkan," katanya.

Ia juga meminta supaya pembangunan museum semi permanen supaya dipercepat sehingga masyarakat bisa beraktivitas kembali.

"Wisatawan yang datang bisa melihat bentuk Sade ini, karena proses rekonstruksi dimulai kawasan ini ditutup," katanya.

Ia juga menekankan supaya pembangunan Kampung Sade mengembalikan ke nilai awal, karena wisatawan datang ingin melihat bangunan yang bercerita tentang budaya masyarakat Sasak serta ritual yang ada di NTB.

"Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Ini proyek pertama pelestarian budaya di NTB," katanya.

 

 

Tiang Pancang Mulai Dipasang

Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade Lalu M Faozal mengatakan kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan hasil musyawarah dengan seluruh warga di Dusun Sade.

"Hari ini merupakan hari baik yang disepakati untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade," katanya.

Ia mengatakan jumlah rumah terdampak sebanyak 75 rumah adat, 8 berugak atau gazebo, 6 sekenam dan satu masjid, dua toilet, dan 69 artshop.

"Seluruh proses pembangunan dimulai hari ini, namun tidak bisa diselesaikan dengan bersamaan, sehingga dibangun sesuai dengan perencanaan rekonstruksi yang lebih aman," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya