Liputan6.com, Jakarta - Suzanty Sitorus, direktur Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) membagikan pandangannya perihal film dokumenter Energi Untuk Negeri. Ia menilai bahwa film yang membahas tentang transisi energi itu sangat layak dan baik jika ditayangkan di banyak kampus sebagai pemancing diskusi.
“Tadi presentasi Pak Eddy ada tulisan MPR Goes To Campus kan? Nah, saya terpikir film ini sebetulnya bagus sekali kalau ditayangkan di kampus-kampus. Untuk menjadi bahan pancingan suatu diskusi, pemantik critical thinking,” ucap Suzanty dalam acara peluncuran film yang dihelat pada Selasa (1/9/2026) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Advertisement
Namun dirinya mengaku bahwa ada kekhawatiran akan transisi energi yang disalahkan jika terdapat tekanan, seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika.
“Saya sebetulnya agak khawatir bahwa critical thinking itu tidak cukup saat ini di kalangan generasi muda dan juga masyarakat. Dan itu nanti dampaknya setiap ada tekanan sedikit yang disalahkan adalah transisi energi. Yang disalahkan adalah peralihan ke energi terbarukan. Itu sudah kita lihat di Eropa dan di Amerika, mudah sekali kemudian kemudian digunakan oleh politisi” ungkapnya.
Dunia Sudah Berubah
Selain itu, Suzanty Sitorus menjelaskan bahwa film dokumenter Energi Untuk Negeri menyajikan data-data mengenai perubahan dunia.
“Saya membayangkan dari tadi ya, membayangkan film ini memantik diskusi di mahasiswa kalangan akademik sekaligus dengan menghadirkan banyak sekali data-data yang menunjukkan dunia sudah berubah loh,” ucapnya.
Dirinya pun menambahkan salah satu contoh yang belum disebutkan di film yaitu pengguna Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik yang tenang tanpa takut kekurangan bahan bakar.
“Contoh mungkin belum disebutkan, pengguna EV sekarang itu bisa tenang di rumahnya. Dia punya energy storage,” tambah Suzanty.
PLTS Membuat Masyarakat Tak Hanya Jadi Konsumen
Transisi ke energi terbarukan seperti PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) juga membuat perubahan posisi masyarakat yang tadinya konsumen menjadi produsen.
“Kemudian PLTS itu ketika ditambah baterai, masyarakat itu bukan lagi dilihat sebagai konsumen. Banyak sekali ketika membicarakan mengenai energi, kita memposisikan diri kita sebagai konsumen. Tapi dengan PLTS, plus energy storage, tadi ada EV, kita produsen, kita memiliki kedaulatan,” ujar Suzanty.