Keracunan MBG di Sidoarjo Meluas 19 ke Sekolah

Wagub Jatim Emil Dardak menyebut 19 lembaga di Tanggulangin melaporkan keluhan usai menerima MBG dari SPPG yang sama. Operasional dapur disetop sementara.

oleh Erwin yohanesDiterbitkan 02 September 2026, 10:42 WIB
Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

Liputan6.com, Jakarta - Kasus keracunan MBG santri Sidoarjo meluas ke sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin. Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Jatim, Emil Elestianto Dardak, menyebut laporan keluhan tidak hanya datang dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam, tetapi juga sekolah-sekolah yang menerima kiriman makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama.

"Selain dari pondok pesantren beliau, Mambaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain yang mengalami keluhan. Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kalitengah," kata Emil, Rabu (2/9/2026).

Emil merinci total ada 19 lembaga pendidikan yang terdampak, mencakup berbagai jenjang. "Ada 19 lembaga pendidikan yang terdampak. Salah satunya Ponpes Manbaul Hikam. Ada SMA swasta, ada juga SMP, SD swasta juga. TK pun juga ada," ujarnya.

Menurut Emil, temuan bahwa banyak lembaga mengalami keluhan serupa menjadi bagian penting dari penelusuran. Pemerintah bersama instansi terkait menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Ia juga mengapresiasi respons cepat layanan kesehatan dan pemerintah daerah. "Kami ingin mengapresiasi Rumah Sakit Notopuro, Ibu Kadinkes, yang sudah bersama BPBD Sidoarjo dan Pemkab Sidoarjo, tentunya Pak Bupati, yang sudah melakukan penanganan secara sigap," kata dia.

Emil sekaligus meluruskan kabar yang beredar terkait adanya korban jiwa. "Tadi ada kabar, mohon maaf, meninggal. Itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal," tegas Emil.

Dapur SPPG Kalitengah Bersertifikat SLHS

Soal kesiapan dapur penyedia makanan, Emil memaparkan status sertifikasi dan asesmen yang pernah dijalani SPPG Kalitengah Tanggulangin. Ia menekankan temuan ini menjadi pijakan awal untuk mengecek kemungkinan masalah pada tahapan lain.

"SPPG ini sudah memperoleh SLHS. Kita telusuri, catatan-catatan asesmen juga menunjukkan sarana prasarananya memadai. Tenaga-tenaganya juga banyak yang sudah mengikuti sertifikasi penjamah makanan, sertifikasi halal pun juga sudah diperoleh," kata dia.

Menurut Emil, sertifikat laik higiene sanitasi bukan jaminan mutlak terhadap seluruh proses karena fokus penilaiannya ada pada sistem serta sarana dan prasarana.

"SLHS ini menilai sistem dan sarpras," ujar dia.

Ia membuka kemungkinan persoalan muncul dari faktor bahan baku, pelaksanaan produksi, atau distribusi yang tidak sesuai standar operasional prosedur.

"Kalau misalnya bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah," ujar Emil.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya langsung meninjau SPPG Kalitengah Tanggulangin usai menerima laporan kejadian.

"Kami mendapatkan informasi langsung dan bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional," kata Teguh.

Teguh menjelaskan dapur tersebut setiap hari menyiapkan sekitar 2.800 porsi makanan MBG untuk sekolah dan pesantren. Sekitar 1.000 porsi di antaranya dialokasikan bagi santri Ponpes Manbaul Hikam.

"Untuk hari ini 2.800. Sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah," kata dia.

Sampel makanan yang diduga terkait kasus ini telah diamankan oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama kepolisian untuk pemeriksaan laboratorium.

"Hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan," ujar Teguh.

Menurutnya, BGN pusat juga telah mengeluarkan surat penghentian sementara operasional SPPG tersebut. Status berikutnya akan ditentukan setelah seluruh evaluasi dan hasil laboratorium keluar.

"Sementara ini karena memang disuspen, dari BGN sudah surat turun disuspen sementara," kata Teguh.
"Sampai hasil evaluasi dan hasil lab keluar. Pusat akan menimbang apakah disuspennya sementara atau suspen permanen," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya