Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, sejak pertengahan Agustus 2026. Jalur pendakian menuju Puncak Rante Mario kini ditutup sementara karena titik api berada di sekitar jalur pendakian.
Penutupan dilakukan untuk mencegah pendaki terjebak kobaran api maupun kepulan asap. Salah satu titik kebakaran terpantau berada di sekitar Pos 3 menuju Puncak Rante Mario.
Advertisement
Hingga 28 Agustus 2026, sedikitnya 33 titik kebakaran teridentifikasi di wilayah Enrekang dengan luas kawasan terdampak sekitar 124 hektare. Kebakaran tersebut tersebar di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Gunung Latimojong.
Kepala UPTD KPH Mata Allo Enrekang, Dirgantara, mengatakan pemadaman di kawasan Latimojong terkendala medan yang sulit. Petugas juga kesulitan mendapatkan sumber air dan membawa peralatan menuju lokasi kebakaran.
“Kendala yang kami alami sarana menuju lokasi, baik medan maupun peralatan. Selain itu sulitnya kami mendapat air di kawasan hutan,” kata Dirgantara, Minggu (28/8/2026).
Titik api di sekitar Pos 3 berada di kawasan perbukitan yang hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Kondisi tersebut membuat petugas harus membawa peralatan pemadaman secara manual karena kendaraan tidak dapat mencapai lokasi.
Komandan Kodim 1419 Enrekang Letkol Inf Hendra Kusuma Wijaya mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, KPH Mata Allo, dan masyarakat.
“Sudah ada 33 titik api yang merata, baik mulai dari wilayah Maiwa sampai dengan wilayah Kecamatan Alla,” kata Hendra.
Menurut Hendra, petugas terus melakukan pemadaman sekaligus pemantauan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali terbakar. Namun, kondisi geografis Enrekang yang didominasi pegunungan menjadi salah satu kendala utama.
“Namun hal ini memang kami mengalami beberapa kendala, di mana geografi dari wilayah Kabupaten Enrekang ini didominasi oleh pegunungan,” ujarnya.
“Hal ini yang membuat kami kesulitan dalam hal air, sehingga kita harus melaksanakan pemadaman api ini dengan cara manual,” sambungnya.
Pemicu Kebakaran Meluas
Kondisi lahan yang kering selama musim kemarau turut meningkatkan risiko kebakaran meluas. Rumput dan ranting kering mudah terbakar, sementara angin dapat mempercepat penjalaran api.
Petugas gabungan masih melakukan pemantauan di kawasan terdampak untuk memastikan tidak ada titik api baru. Penanganan juga diarahkan untuk mencegah api menjalar ke kawasan hutan lindung dan lahan warga.
“Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan. Warga juga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas,” pungkasnya.