Liputan6.com, Kathmandu - Upaya membangun kembali infrastruktur Nepal setelah diterjang banjir dahsyat pada pekan ini diperkirakan membutuhkan biaya sedikitnya US$ 5 miliar atau sekitar Rp 88,7 triliun (kurs 17.757 per US$). Perkiraan tersebut disampaikan satu-satunya miliarder Nepal, Binod Chaudhary.
Dikutip dari The Straits Times, Sabtu (30/8/2026), Chaudhary, yang merupakan ketua Chaudhary Group, mengatakan dirinya tidak akan terkejut jika total biaya pemulihan nantinya mencapai angka tersebut.
Advertisement
“Saya tidak akan terkejut jika biaya akhirnya meningkat hingga level tersebut," kata Chaudhary.
“Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga waktu yang dibutuhkan dan kondisi geografis yang sulit.”
Chaudhary Group memiliki bisnis yang mencakup 12 sektor, mulai dari makanan dan telekomunikasi hingga infrastruktur dan perbankan.
Menurut Chaudhary, proses rehabilitasi sekaligus upaya menggerakkan kembali perekonomian Nepal menjadi persoalan besar yang harus dihadapi.
“Ini adalah masalah besar yang ada di hadapan kita,” ujarnya.
Perkiraan serupa disampaikan Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle. Ia mengatakan Nepal akan membutuhkan sedikitnya “beberapa miliar dolar AS” untuk menangani dampak bencana tersebut.
“Secara kumulatif, saya pikir kerugian dan kerusakan, ketika akhirnya dihitung dalam sekitar satu minggu atau lebih, akan mencapai setidaknya beberapa miliar dolar,” kata Wagle.
“Perkiraan awal cukup mengkhawatirkan,” lanjutnya.
Banjir dahsyat menerjang wilayah pegunungan Nepal di perbatasan dengan China pada 26 Agustus. Air bah menenggelamkan desa-desa serta menghanyutkan jalan dan jembatan, menimbulkan kerusakan besar yang kini harus dipulihkan.