5.000 Personel Militer AS Rehat di Pattaya Usai Misi Perang Iran, Belanja Bisa Capai Rp 8 Miliar

Kapal induk AS ini diperkirakan tiba di Thailand pada awal September.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 28 Agustus 2026, 15:07 WIB
Para pelaut dan anggota Marinir AS berbaris di dek kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) saat kapal tersebut berangkat dari San Diego untuk menjalani penugasan pada 3 Januari 2021. (Dok. K.C. Alfred/The San Diego Union-Tribune via AP, File)

Liputan6.com, Bangkok - Pattaya bersiap menyambut sekitar 5.000 personel militer Amerika Serikat (AS) yang akan tiba pekan depan untuk beristirahat dan berlibur setelah menjalani penugasan panjang di laut.

Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dijadwalkan tiba di Thailand pada 2 September dan akan singgah selama lima hari. Kedatangan itu berlangsung setelah mereka berada di laut selama lebih dari 250 hari, yang menjadi rekor masa pelayaran.

Wali Kota Pattaya Poramet Ngampichet mengatakan kota wisata di Provinsi Chon Buri tersebut sudah terbiasa menerima kedatangan personel militer AS saat kapal perang mereka berada di kawasan itu.

Ia memperkirakan setiap personel militer AS akan membelanjakan sekitar 1.000 hingga 3.000 baht (sekitar Rp 541.000 hingga Rp 1,62 juta) selama kunjungan tersebut. Dengan jumlah pengunjung sekitar 5.000 orang, total pemasukan diperkirakan mencapai 5 juta hingga 15 juta baht (sekitar Rp 2,71 miliar hingga Rp 8,12 miliar).

"Hal itu akan menguntungkan sektor pariwisata, restoran, perjalanan, dan usaha jasa," kata Poramet seperti dilaporkan Bangkok Post.

Chavalee Chomputin (30), salah satu pelaku usaha di Pattaya Walking Street, mengatakan para pelaku usaha di kawasan itu berharap kedatangan personel militer AS dapat mendongkrak aktivitas bisnis yang sepi sepanjang bulan ini.

Kepala Kepolisian Pattaya Kolonel Anek Sathongyoo mengatakan polisi meningkatkan patroli dan kegiatan penyelidikan untuk memperkuat keamanan, terutama di tempat wisata dan kawasan hiburan.

Ia meminta para pelaku usaha setempat menjadi tuan rumah yang baik dan tidak memanfaatkan para pengunjung untuk mencari keuntungan berlebihan. Jika terjadi perselisihan, mereka diminta meminta bantuan polisi agar masalah dapat diselesaikan sekaligus menjaga citra positif Pattaya.

Panjangnya rekor pelayaran ini tidak terlepas dari situasi geopolitik darurat. USS Abraham Lincoln awalnya bertolak dari San Diego pada 21 November 2025 untuk menjalani misi patroli reguler di kawasan Pasifik Barat dan Laut China Selatan. Namun, memasuki awal tahun 2026, rute kelompok tempur ini mendadak dialihkan oleh Pentagon menuju wilayah komando Armada ke-5 AS di Timur Tengah.

Pengalihan komando dan perpanjangan operasi tersebut dilakukan guna mendukung operasi militer gabungan bersandi "Operation Epic Fury" di tengah pecahnya perang Iran sejak 28 Februari 2026. Konflik aktif dan kacaunya jalur logistik aman di kawasan Teluk membuat kapal induk ini harus terus bersiaga di laut lepas tanpa bisa bersandar di pelabuhan mana pun, kecuali persinggahan singkat satu hari di Guam pada pertengahan Desember 2025.

Setelah misi intensif di zona konflik selesai dan posisinya digantikan oleh USS George Washington, USS Abraham Lincoln akhirnya ditarik pulang ke Amerika Serikat. Kapal dijadwalkan bersandar di pesisir timur Thailand guna memberi waktu istirahat serta pemulihan psikologis bagi para kru sebelum melanjutkan perjalanan ke San Diego.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya