Liputan6.com, Jakarta - Pengguna media sosial mungkin mengenalnya lewat video-video pendek berisi renungan tentang cinta di balik akun @suaratentangdia. Namun sosok Suhendar juga merupakan penulis yang dikenal dengan nama pena Pilopiu, dengan dua buku yang sama-sama mencatat status best seller di Gramedia: Untukmu Manusia Favoritku dan Cerita Indah Tentang Cinta Terbaik.
Nama pena Pilopiu yang ia gunakan bukan sekadar rangkaian bunyi tanpa makna. Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (26/8/2026), kata tersebut lahir dari perpaduan dua unsur berbeda.
Advertisement
"Pilo itu diambil dari bahasa Yunani, artinya cinta, sedangkan piu adalah nama panggilanku dari follower. Jadi Pilopiu itu artinya piu, aku, yang penuh dengan cinta," tuturnya.
Ia meneruskan, "Karena pas awal ngonten aku memilih anonim, tidak memunculkan nama dan juga muka, jadi aku memilih tetap menggunakan nama Pilopiu yang sudah lebih dikenal orang,"
Perjalanan menulis Pilopiu dimulai pada 2021, kala ia mulai aktif menulis sembari mengisi voice over, tapi titik baliknya terjadi tiga tahun berselang, saat sebuah tawaran tak terduga datang.
"Ternyata ditawari nulis oleh Mediakita, penerbit besar yang bukunya sudah sering aku baca dari SMA. Akhirnya dari situ mulai serius untuk menekuni dunia literasi," kenangnya.
Proses Kreatif di Balik Kedua Karyanya
Kedua bukunya tidak lahir dari pengalaman cinta pribadinya semata. Pilopiu memilih menjadi pengamat diam-diam atas dinamika cinta orang-orang di sekitarnya, lalu menerjemahkan hasil pengamatan itu menjadi tulisan yang menyentuh pembaca.
"Setelah aku amati bahwa perempuan bukan hanya ingin dicintai, tapi juga ingin diakui, diperjuangkan, dan dirayakan, maka aku buat tulisan dan suara untuk mengupayakan pengakuan terhadap perempuan yang disebut 'Manusia favoritku'," jelasnya.
Sudut pandang berbeda hadir lewat buku keduanya. Ia menceritakan, "Cerita Indah tentang Cinta Terbaik itu adalah sisi lainnya yaitu bagian sudut pandang seorang perempuan bagaimana dia ingin dicintai."
Proses kreatif yang tampak mengalir itu ternyata menyimpan pergulatan batin panjang di baliknya. Keraguan datang berulang kali sepanjang proses menulis, mempertanyakan apakah setiap kata sudah cukup bermakna dan mampu dipahami pembaca sebagaimana yang ia maksudkan.