Liputan6.com, Jakarta - Tren belanja social commerce kini didorong oleh dua faktor utama keputusan konsumen, yakni intentional (kebutuhan yang dicari) dan emotional (dorongan spontan saat menjelajah konten).
Bagi para kreator dan afiliator TikTok, memahami cara mengemas informasi produk dari pemilik merek (brand) menjadi visual yang menggugah emosi adalah kunci utama dalam menggaet pembeli.
Advertisement
Hal tersebut diungkapkan oleh Certified Trainer TikTok Shop, Beatrice Nathania, dalam acara pembukaan program Life’s Good Creator Club yang diselenggarakan oleh LG Electronics Indonesia di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
"Sebenarnya dari sisi produk, brand sudah menyiapkan detail spesifikasi hingga foto tampilan yang menarik. Peran penting kreator adalah mengemas seluruh informasi tersebut ke dalam format video pendek dan live streaming yang menarik bagi audiens," ujar Beatrice.
Beatrice menekankan pengguna TikTok umumnya mengambil keputusan untuk terus menonton atau mengabaikan sebuah konten hanya dalam waktu tiga hingga lima detik pertama. Oleh karena itu, penerapan struktur konten AIDA (Attention, Interest, Desire, Call to Action) menjadi krusial.
Pada tahap Attention (3–5 detik pertama), kreator disarankan menampilkan visual terbaik atau potongan video unik (bloopers) untuk memikat perhatian. Setelah perhatian terikat, penonton akan masuk ke tahap Interest dan Desire, di mana kemauan mereka untuk menonton hingga selesai (finish rate) meningkat.
Pada momen inilah detail manfaat serta solusi yang ditawarkan produk mulai dijelaskan.
Visualisasi Fungsi Secara Nyata Lebih Efektif
"Setelah masalah konsumen terjawab dan fitur produk dijelaskan, baru masuk ke Call to Action. Kreator dapat mengarahkan audiens untuk memanfaatkan periode diskon atau melakukan transaksi, baik melalui keranjang kuning maupun saat live streaming," Beatrice memaparkan.
Khusus untuk produk barang elektronik rumah tangga (home appliances), Beatrice membagikan strategi demonstrasi langsung.
Menurutnya, visualisasi fungsi secara nyata jauh lebih efektif mendorong konversi penjualan dibandingkan sekadar promosi lisan.
"Untuk produk seperti mesin cuci atau alat dapur, audiens ingin melihat solusinya secara langsung. Misalnya memperlihatkan demonstrasi pemakaian atau daya tahan produk. Visual yang bersih, profesional, dan fokus pada manfaat barang akan meningkatkan kepercayaan pembeli, terutama untuk produk bernilai tinggi," Beatrice memungkaskan.