Harga Emas Dunia Tertekan Data Inflasi AS, Investor Tunggu Langkah The Fed

Harga emas dunia tertekan penguatan dolar AS dan data inflasi. Investor juga menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Agustus 2026, 07:20 WIB
Harga emas dunia. Harga emas spot turun 1,4% menjadi US$ 4.592,97 per troy ounce. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia memperpanjang penurunannya pada perdagangan Rabu setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sebagian besar sesuai dengan ekspektasi pasar.

Data tersebut mendorong meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada bulan depan. Di sisi lain, investor juga menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan disampaikan pekan ini.

Mengutip  CNBC, Kamis (27/8/2026), harga emas spot turun 1,4% menjadi US$ 4.592,97 per troy ounce. Padahal, pada perdagangan Selasa, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 14 Mei.

Sementara itu, harga emas berjangka AS melemah 0,9% dan ditutup pada level US$ 4.653,30 per troy ounce.

Penurunan harga emas juga terjadi ketika dolar AS menguat 0,3%. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, pergerakan harga emas sebelum data inflasi AS dirilis lebih banyak dipengaruhi aksi ambil untung.

“Pergerakan harga emas hingga menjelang rilis data hari ini hanya merupakan aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, jadi saat ini kami berkonsolidasi dalam kisaran perdagangan kemarin,” kata Grant.

Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Personal atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, yang menjadi salah satu indikator utama yang digunakan The Fed dalam menentukan target inflasi, naik 3,7% dalam 12 bulan hingga Juli.

Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan angka tersebut pada Rabu. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi PCE berada di level 3,6%.

 

Peluang Kenaikan Suku Bunga

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Setelah data tersebut dirilis, pelaku pasar meningkatkan perkiraan terhadap kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada bulan depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, trader kini melihat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan depan mencapai 38%, naik dari 36% sebelum data inflasi diumumkan.

Sementara itu, peluang The Fed mempertahankan suku bunga di level saat ini diperkirakan mencapai 62%.

Emas yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada di level tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi.

Meski demikian, Grant menilai tren kenaikan harga emas masih berpeluang kembali menguat.

“Saya pikir tren kenaikan harga emas mulai kembali terbentuk. Jadi, saya melihat ada potensi harga kembali menembus US$ 5.000 tahun ini,” kata Grant.

Ia menambahkan, harga emas juga berpotensi mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa pada kuartal II 2027.

 

Potensi Tembus US$ 5.000

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Grant memperkirakan harga emas masih memiliki peluang untuk kembali menembus level US$ 5.000 pada tahun ini.

Menurut dia, tren penguatan emas mulai kembali terbentuk setelah harga mengalami tekanan. Ia juga melihat kemungkinan emas mencetak rekor tertinggi baru pada kuartal II 2027.

Pergerakan harga emas selanjutnya akan turut dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter The Fed, terutama terkait keputusan suku bunga.

Selain faktor moneter, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset safe haven seperti emas.

 

Perkembangan Selat Hormuz

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Dari sisi geopolitik, Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai kesepakatan mengenai pembagian mereka atas Selat Hormuz serta pendapatan yang dihasilkan dari jalur perairan strategis tersebut.

Namun, Garda Revolusi Iran menyatakan pada Rabu bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat tidak menerima persyaratan yang diajukan Iran dan Oman.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan penting bagi perdagangan energi global. Perkembangan di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pasar karena gangguan terhadap jalur pelayaran dapat memicu ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Di tengah berbagai faktor tersebut, investor emas kini mencermati kombinasi antara kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, data inflasi, serta perkembangan geopolitik untuk menentukan arah harga emas berikutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya