Liputan6.com, Madrid - Luka-luka baru ditemukan pada tubuh salah satu orca tertua yang diketahui di Semenanjung Iberia, memicu penyelidikan di Spanyol. Kelompok konservasi menduga paus pembunuh tersebut menjadi sasaran tembakan.
Dikutip dari Fox News, Jumat (28/8/2026), orca bernama Toni terlihat muncul ke permukaan di Selat Gibraltar dengan sejumlah luka baru di sirip punggung dan bagian punggungnya.
Advertisement
Luka tersebut tidak terlihat dalam foto-foto Toni yang diambil beberapa waktu sebelumnya. Kementerian Transisi Ekologi dan Tantangan Demografis Spanyol (MITECO) menyebut luka tersebut kemungkinan disebabkan oleh peluru karet.
MITECO mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai kondisi Toni pada 11 Agustus dari WeWhale, kelompok konservasi laut yang beroperasi di wilayah tersebut dengan izin pemerintah.
Sehari kemudian, otoritas Spanyol membuka penyelidikan awal untuk mengetahui penyebab luka serta mengidentifikasi pihak yang mungkin bertanggung jawab.
Meski belum menyimpulkan bahwa Toni ditembak, kelompok WeWhale dan Iberian Orca Guardians meyakini bentuk, jumlah, dan lokasi luka mengarah pada dugaan tembakan senapan.
WeWhale mengatakan timnya menghitung sekitar 10 bekas hantaman peluru di sisi kiri sirip punggung Toni. Setidaknya dua hingga tiga proyektil terlihat menembus sirip tersebut, sementara proyektil lainnya diduga masih berada di dalam tubuh.
Kelompok konservasi itu menegaskan luka tersebut muncul secara tiba-tiba. Mereka sebelumnya telah mengamati dan memotret Toni beberapa minggu sebelum penemuan, tetapi tidak menemukan luka serupa.
Akibat dari Luka Tersebut
Dengan usia yang diperkirakan 60 tahun, Toni berisiko mengalami dampak tambahan akibat luka-luka tersebut. WeWhale menjelaskan bahwa sirip itu memiliki suplai darah yang banyak dan membantu hewan tersebut mengatur suhu tubuhnya.
Ini berartikan luka-luka tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan, pembengkakan, atau infeksi. Jika peluru masih tersangkut di dalam, kelompok tersebut memperingatkan bahwa infeksi itu, dalam skenario terburuk, dapat mengancam nyawa.
Namun, untuk saat ini, ada tanda-tanda baik. WeWhale berkata Toni terlihat berenang dan berburu seperti biasa, dan timnya akan terus mengawasi dengan intens. “Kami tahu Toni. Kami bersamanya beberapa waktu lalu dan luka-luka ini belum ada saat itu,” tutur Janek Andre, pendiri dan presiden WeWhale dan Iberian Orca Guardians Foundation dalam sebuah pernyataan.
Andre menambahkan tim tersebut menemukan “beberapa luka akibat benturan” di sepanjang sirip punggung dan punggung hewan tersebut, yang menurut mereka sesuai dengan bekas tembakan senapan angin.
“Jika seseorang dengan sengaja menembakkan senapan ke arahnya, ini bukan hanya tindakan kekejaman luar biasa terhadap seekor hewan,” tutur Andre. “Ini adalah serangan terhadap salah satu anggota terakhir dari populasi yang secara kritis terancam punah.”
Toni, yang juga dikenal sebagai “La Abuela” atau “nenek,” adalah anggota tertua yang diketahui dari populasi orca Iberia menurut kelompok-kelompok konservasi. Populasinya di Selat Gibraltar dan Teluk Cadiz diklasifikasikan sebagai “rentan” berdasarkan Katalog Spesies Terancam Punah Spanyol.
Hukuman untuk Pelaku
Konsekuensi bagi siapapun pelaku dinyatakan bersalah bisa sangat berat. Undang-undang Spanyol melarang membunuh, menangkap, memburu, dan mengganggu spesies yang dilindungi, dan pelanggaran terhadap peraturan yang dilindungi orca bisa didenda hingga 2 juta euro (Rp 41,3 miliar) dan potensi pertanggungjawaban pidana, menurut MITECO.
Direktorat Jenderal Keanekaragaman Hayati, Hutan dan Desertifikasi kementerian tersebut sedang menyelidiki kasus ini. Penyelidikan dilakukan di tengah adanya interaksi yang telah tercatat selama bertahun-tahun antara orca Iberia dan kapal-kapal di perairan lepas Semenanjung Iberia.
Sejak 2020, orca di wilayah tersebut sudah berulang kali berinteraksi dengan kapal-kapal di perairan Atlantik. Hal ini mendorong pihak berwenang Spanyol untuk mengeluarkan pedoman yang bertujuan melindungi para pelaut, kapal, dan hewan-hewan tersebut. Pihak berwenang menyarankan para pelaut untuk tidak menggunakan tindakan pencegahan yang dapat membunuh, melukai, atau mengganggu mamalia laut tersebut.
“Sudah ada perdebatan publik yang luas tentang orca Iberia dan interaksi mereka dengan kapal-kapal,” ucap Andre. “Apapun pendapat orang tentang interaksi tersebut, menembak hewan-hewan ini tidak akan menjadi tindakan yang diterima.”
Kelompok konservasi itu berkata akan menyimpan foto asli dan catatan pengamatan mereka, dan juga akan terus memantau kondisi fisik serta perilaku Toni seiring berjalannya penyelidikan pemerintah.
Pihak berwajib belum mengumumkan tersangka atau mengidentifikasi siapapun yang bisa jadi bertanggung jawab atas luka tersebut.