Liputan6.com, Jakarta - Krisis RAM semakin meluas ke ponsel pintar, dan Xiaomi menjadi ponsel Android terbaru yang terpaksa menaikkan harga. Perusahaan menyatakan berada di titik tidak lagi mampu menanggung biaya komponen tersebut.
Melalui pengumuman di akun X Xiaomi Jepang, kenaikan harga ditetapkan pada sejumlah ponsel pintar dan tablet, dengan beberapa perangkat naik sebesar 20.000 Yuan (sekitar Rp 52,6 juta).
Advertisement
Dilaporkan Android Authority, Senin (24/8/2026), lonjakan ini berdampak ke Xiaomi 17T Pro dan beberapa konfigurasi POCO X8 Pro dan X8 Pro Max. Xiaomi 17T Pro dengan RAM 12GB dan penyimpanan 256GB akan naik dari 139.800 Yuan (sekitar Rp 368,1 juta) menjadi 159.800 Yuan (sekitar Rp 420,8 juta).
Sementara versi 12GB/512GB akan naik dari 139.800 Yuan (sekitar Rp 368,1 juta) menjadi 159.800 Yuan (sekitar Rp 420,8 juta).
Model POCO juga mengalami kenaikan, dengan POCO X8 Pro Max 12GB/256GB naik dari 79.980 Yuan (sekitar Rp 210,6 juta) menjadi 99.980 yuan (sekitar Rp 263,2 juta).
Sejumlah konfigurasi POCO X8 Pro juga kabarnya akan naik menjadi 20.000 Yuan (sekitar Rp 52,6 juta). Tablet Xiaomi mengalami kenaikan lebih kecil, berkisar antara 2.000 Yuan (sekitar Rp 5,2 juta) hingga 10.000 Yuan (sekitar Rp 26,3 juta).
Lonjakan harga produk Xiaomi dan Redmi akan mulai berlaku pada 1 September 2026, sedangkan untuk model POCO mulai diberlakukan pada 4 September 2026.
Apa Alasan di Baliknya?
Sebelumnya, Xiaomi sempat menanggung harga komponen demi menjaga harga ponsel tetap terjangkau. Namun, lonjakan harga RAM sudah terlalu tinggi, sehingga perusahaan terpaksa ikut menaikkan harga jual.
Hal ini sudah menjadi tren di kalangan industri Android. Bahkan, Apple diprediksi akan menaikkan harga model iPhone terbaru mereka.
Menurut laporan Reuters, bisnis ponsel pintar Xiaomi telah merasakan dampaknya sejak kuartal kedua 2026. Pendapatan lini Xiaomi turun 7,5% secara tahunan dan angka pengirimannya anjlok hingga 26%.
Penjualan HP di China Anjlok
Laporan Counterpoint Research mencatat penjualan ponsel di China turun 13% saat festival belanja “618” karena produsen menaikkan harga dan mengurangi diskon guna menutupi tingginya biaya memori.
Kenaikan harga RAM sangat memukul produsen Android seperti Xiaomi yang biasa menetapkan harga produk ramah di kantong. Membebankan biaya ini kepada konsumen akan membuat harga ponsel lebih mahal seiring dengan permintaan sedang turun.
Meskipun demikian, Xiaomi berusaha meminimalkan masalah tersebut untuk peluncuran ponsel pintar mereka berikutnya dengan pertimbangan matang dan menjaga harga tetap terjangkau.