Liputan6.com, Jakarta - Rodri resmi bergabung dengan Barcelona dari Manchester City dengan kontrak hingga Juni 2030. Kehadiran gelandang berusia 30 tahun itu membawa lebih dari sekadar tambahan kualitas di lini tengah karena Rodri punya kemampuan membuat pemain di sekitarnya tampil lebih baik.
Kapten Timnas Spanyol tersebut datang setelah menjalani perjalanan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Ia memenangkan Ballon d'Or 2024, menjadi pemain terbaik Piala Dunia 2026, serta membantu Manchester City meraih berbagai gelar sebelum melewati periode sulit akibat cedera lutut.
Advertisement
Barcelona memang membutuhkan sosok yang mampu mengisi ruang yang pernah ditempati Sergio Busquets. Namun, kemampuan Rodri membuat perannya berpotensi jauh lebih besar karena ia dapat mengubah cara Hansi Flick membangun permainan dari lini tengah.
Pengatur Tempo Permainan
Rodri memiliki gaya bermain yang tenang dan jarang terlihat terburu-buru ketika menguasai bola. Ia menerima bola, melihat situasi di sekitarnya, lalu menentukan apakah permainan harus diarahkan ke depan, diputar ke samping, atau kembali ke belakang.
Data musim 2025-26 menggambarkan kualitas tersebut dengan jelas karena Rodri berada di persentil ke-90 untuk umpan progresif, persentil ke-98 untuk perolehan wilayah, serta persentil ke-92 untuk akurasi umpan progresif. Angka tersebut memperlihatkan bahwa progres permainan tidak selalu harus dilakukan melalui umpan vertikal.
Rodri justru berusaha menggerakkan lawan terlebih dahulu hingga ruang yang tepat terbuka. Ketika momentum itu tiba, pemain lain bisa menerima bola dalam situasi yang lebih menguntungkan.
Pedri Bisa Lebih Bebas
Kehadiran Rodri berpotensi memberikan dampak besar kepada Pedri. Selama ini, gelandang kreatif Barcelona tersebut tidak jarang harus ikut mengemban tugas mengontrol permainan dari fase awal pembangunan serangan.
Rodri dapat mengambil sebagian tanggung jawab tersebut sehingga Pedri memiliki lebih banyak kesempatan menerima bola di area yang lebih dekat dengan lini pertahanan lawan. Kondisi itu juga bisa membuatnya lebih sering berinteraksi dengan Lamine Yamal dan Dani Olmo di sekitar kotak penalti.
Keduanya memiliki cara berbeda dalam mengendalikan pertandingan. Rodri mengandalkan posisi dan distribusi bola, sedangkan Pedri lebih banyak menggunakan pergerakan dan kemampuan membawa bola untuk menemukan ruang.