Liputan6.com, Jakarta - Pengujian karakteristik respons tanah dan verifikasi dampak tsunami menjadi hal penting yang perlu dilakukan usai gempa Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Oleh karenanya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik di lokasi terdampak.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, Selasa (18/8/2026) mengatakan, pengujian karakteristik tanah dilakukan melalui pengukuran mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) pada wilayah-wilayah terdampak.
Advertisement
"Tim dari pusat dan UPT BMKG itu melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW, untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," kata.nya
Dia menjelaskan, hasil dari pemetaan teknis tersebut nantinya diproyeksikan sebagai basis pemetaan mikro-zonasi bencana, sekaligus menjadi landasan utama penyusunan rekomendasi rekonstruksi tata ruang dan bangunan yang aman gempa bagi pemerintah daerah maupun masyarakat setempat.
Survei teknis ini memprioritaskan kawasan dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, untuk kemudian dibandingkan dengan area yang relatif tidak terdampak.
Selain kajian geologi, BMKG mencatat sampai dengan Senin (17/8) siang pukul 11.00 WIB telah terjadi 1.624 gempa susulan pascagempa utama, dengan 23 kejadian antara lain gempa bermagnitudo di atas 5,0 dan 59 kejadian dirasakan oleh warga.
Meski demikian Wijayanto berharap publik khususnya warga di Flores dan sekitarnya bersikap tenang, hindari bangunan yang retak, dan selalu mengakses pembaruan informasi kebencanaan melalui kanal komunikasi resmi BMKG sebagai basis kesiapsiagaan.