Mourinho Ungkap Pengalaman Pahit di Real Madrid: Saya Sudah Muak

Di dokumenter Netflix, Mourinho mengulas masa 2010–2013 di Real Madrid: permintaan Casillas, ketegangan El Clásico, dan rencana ke MU batal.

oleh Aning JatiDiterbitkan 14 Agustus 2026, 22:37 WIB
Pelatih Real Madrid asal Portugal Jose Mourinho memberi isyarat saat memimpin sesi latihan di Stadion Alfredo di Stefano di Valdebebas, di pinggiran Madrid, pada 24 Juli 2026. (Javier SORIANO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Jose Mourinho membuka lagi cerita periode pertamanya bersama Real Madrid dan mengaku sempat jenuh dengan para pemain sebelum berpisah pada 2013.

Pengakuan itu ia sampaikan dalam serial dokumenter berjudul sama dengan namanya yang baru dirilis Netflix.

Pelatih asal Portugal tersebut kembali ditunjuk memimpin Real Madrid pada Juni 2026. Pada masa pertama di Santiago Bernabeu, 2010 hingga 2013, Mourinho mempersembahkan gelar La Liga dan Copa del Rey.

Meski menghadirkan trofi, masa kerjanya berakhir dengan hubungan yang memburuk, salah satunya dengan kapten sekaligus legenda klub, Iker Casillas.


Permintaan Casillas dan Penilaian Mentalitas Pemain

Iker Casillas dan Jose Mourinho saat bersama di Real Madrid. (AFP PHOTO / YASSER AL-ZAYYAT)

Mourinho menuturkan interaksi awalnya dengan Casillas menjadi salah satu momen yang membentuk pandangannya bahwa para pemain Real Madrid kala itu mulai dimanja.

"Hal pertama yang dia katakan kepada saya adalah, 'Saya datang untuk meminta tambahan waktu libur bagi para pemain tim nasional,'" kata Mourinho, dikutip dari SI, Jumat (14/8/2026). 

"Pada percakapan kedua, dia meminta saya menunda latihan satu jam karena saat itu lalu lintas di Madrid sangat padat. Pada percakapan ketiga, dia mengatakan mereka tidak ingin pergi ke hotel. Mereka lebih memilih bertemu pada hari pertandingan dan langsung menuju stadion,"ujarnya.

Ia kemudian menilai kondisi mental para pemainnya pada periode tersebut sangat buruk.


Telepon ke Xavi yang Kontroversial

Jose Mourinho, pelatih Real Madrid. (Dok. X @realmadriden)

Ketegangan dengan Casillas memuncak setelah sang kiper menghubungi Xavi untuk meredakan konflik antara pemain Real Madrid dan Barcelona saat mereka bergabung di Timnas Spanyol. Mourinho tidak menerimanya.

"Ini pertandingan Barcelona melawan Real Madrid. Ketika bersama tim nasional, kalian boleh saling mencium dua kali, tetapi bukan sekarang. Ini perang," ujar Mourinho.

"Ada hal-hal yang tidak bisa saya terima dan tidak akan pernah saya terima. Ketika seseorang tidak menghormati saya, itu menjadi masalah," kata Mourinho.


Jenuh di Madrid, Hampir Sepakat ke MU, Pilih Kembali ke Chelsea

Mourinho mengakui periode penuh tekanan di Real Madrid membuat hubungan dengan para pemain berada di titik jenuh.

"Saya pikir para pemain sudah lelah dengan saya sebagai pemimpin, dan saya juga lelah dengan mereka. Saya juga sudah muak dengan mereka, bukan hanya mereka yang muak dengan saya. Saya sudah muak dengan para pemain dan media," tutur Mourinho.

"Saya ingin pergi. Saya merasa sudah selesai," ujarnya.

Ia menyebut sempat berada di jalur untuk menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United dan bahkan telah mencapai kesepakatan, namun pembicaraan berikutnya dengan Chelsea membuatnya memilih kembali ke Stamford Bridge.

Mourinho menyebut kehilangan kesempatan menjadi penerus Ferguson sebagai sesuatu yang dramatis, tetapi tidak menyesali keputusannya.

"Satu hal adalah cinta kepada sepak bola, hal lain adalah cinta kepada klub tertentu. Menurut saya, yang kedua lebih kuat daripada cinta kepada sepak bola. Setelah Real Madrid, saya perlu merasa dicintai," ungkapnya.

"Keputusan itu saya buat dengan hati," kata Mourinho.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya