Liputan6.com, Jakarta - Kemunculan Harimau Sumatera di sekitar permukiman warga Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sempat membuat warga khawatir. Bukan hanya memangsa ternak, satwa dilindungi itu berkeliaran tak jauh dari sekolah dan sejumlah fasilitas umum.
Kekhawatiran semakin besar karena lokasi kemunculan harimau berada sekitar 50 meter di belakang SDN 10 Palimbatan. Jaraknya juga hanya sekitar 100 meter dari SMP Negeri 1 Palupuh dan 150 meter dari Masjid Syukra.
Advertisement
Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat kemudian memasang perangkap untuk mengamankan harimau tersebut.
Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Harimau Sumatera masuk ke dalam box trap yang dipasang petugas pada Selasa (11/8/2026) malam.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan, konflik tersebut bermula dari laporan warga mengenai ternak yang diserang harimau.
“Pada hari Senin (10/8/2026) pukul 16.30 WIB Balai KSDA Sumbar menerima laporan dari masyarakat bahwa 2 ekor kambing milik warga menjadi korban terkaman Harimau Sumatera. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) segera turun ke lapangan untuk verifikasi,” kata Ristianto.
Setelah tiba di lokasi, petugas menemukan satu kambing mati di dalam kandang dengan luka gigitan pada bagian leher. Sementara kambing lainnya dibawa harimau ke semak-semak hingga hanya menyisakan dua kaki bagian depan.
Kondisi tersebut membuat petugas meningkatkan penanganan karena keberadaan harimau berada di sekitar permukiman dan fasilitas publik.
Terlebih, interaksi negatif antara satwa dengan warga sebelumnya juga pernah terjadi pada 31 Juli 2026. Saat itu, anjing dan kambing milik warga menjadi korban.
Masuk Perangkap Kurang dari Dua Jam
Dengan mempertimbangkan kejadian yang berulang, Balai KSDA Sumatera Barat memasang box trap pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.
Petugas tidak perlu menunggu lama.
Sekitar pukul 19.45 WIB, penjaga SDN 10 Palimbatan melaporkan bahwa Harimau Sumatera telah masuk ke dalam perangkap.
Tim BKSDA Sumatera Barat kemudian bergerak melakukan evakuasi dengan melibatkan Polsek Palupuh. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan warga sekaligus mencegah satwa mengalami risiko selama penanganan.
“Tim Balai KSDA Sumatera Barat, saat ini telah melakukan evakuasi terhadap Harimau Sumatera tersebut dengan berkoordinasi bersama Polsek Palupuh untuk memastikan proses evakuasi berlangsung aman dan terkendali. Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa,” ujar Ristianto.
Setelah dievakuasi, harimau tersebut dititipkan di lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Tim medis dan dokter hewan akan memeriksa kondisi kesehatan satwa sebelum menentukan langkah penanganan konservasi berikutnya.
Warga Diminta Tak Mendekat
Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat di sekitar lokasi untuk tetap waspada. Warga diminta menghindari aktivitas seorang diri, terutama pada malam hari di kawasan yang berpotensi menjadi jalur pergerakan harimau.
Masyarakat juga diminta tidak mendekati, mengejar, apalagi mencoba menangkap harimau jika kembali melihat satwa liar tersebut.
Jika kembali muncul, warga diminta segera melapor kepada Balai KSDA atau aparat setempat.
Penanganan di Palupuh ini menjadi bagian dari upaya mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar. Keselamatan warga menjadi prioritas, sementara penanganan terhadap Harimau Sumatera tetap dilakukan dengan memperhatikan statusnya sebagai satwa dilindungi dan prinsip konservasi.