Liputan6.com, Ankara - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz menunjukkan bahwa keunggulan militer bukan satu-satunya faktor yang menentukan posisi sebuah negara dalam konflik. Meski secara militer jauh lebih lemah, Iran memiliki keuntungan geografis yang memberinya daya tawar besar terhadap Washington.
Sejumlah pakar menilai kondisi itu memiliki kemiripan dengan pemikiran sejarawan Arab abad ke-14 Ibnu Khaldun. Dalam "Al Muqaddimah", Ibnu Khaldun melihat geografi, iklim, dan kohesi sosial sebagai faktor penting yang dapat memengaruhi perkembangan politik dan konflik.
Advertisement
"Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menegaskan kembali salah satu gagasan mendasar Ibnu Khaldun dalam konteks modern: sejarah tidak hanya dibentuk oleh kehendak para pemimpin dan besarnya kekuatan militer, tetapi juga oleh kondisi geografis," kata Kadir Canatan, sosiolog dari Duzce University dan pakar pemikiran Ibnu Khaldun, kepada TRT World.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Sekitar 20 hingga 25 persen perdagangan minyak dunia melalui jalur laut melewati kawasan tersebut, selain volume gas alam cair dalam jumlah besar.
Iran memiliki garis pantai di sepanjang selat, pulau-pulau di sekitarnya, pangkalan angkatan laut, serta kemampuan rudal dan drone. Kondisi itu memberi Teheran keuntungan strategis di kawasan meski AS memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Menurut Canatan, Iran tidak perlu mengalahkan Angkatan Laut AS dalam perang terbuka untuk memberikan tekanan.
"Iran tidak perlu mengalahkan Angkatan Laut AS dalam perang terbuka. Cukup dengan mengancam pelayaran beberapa kapal, meningkatkan kemungkinan penggunaan ranjau, atau mengubah perhitungan risiko perusahaan asuransi, perdagangan global dapat melambat," tuturnya.
Dengan demikian, kemampuan Iran untuk meningkatkan risiko pelayaran di Selat Hormuz saja sudah dapat berdampak pada perdagangan energi dan perekonomian global.
"Jika Ibnu Khaldun masih hidup saat ini, kemungkinan besar ia akan melihat Hormuz sebagai salah satu contoh kontemporer paling jelas tentang bagaimana geografi dapat berubah menjadi kekuatan politik dan ekonomi," ujar Canatan.
Namun, Ibnu Khaldun tidak melihat geografi sebagai satu-satunya faktor yang menentukan kekuatan sebuah negara. Menurut Canatan, keuntungan geografis hanya dapat berubah menjadi kekuatan yang bertahan lama apabila didukung asabiyyah atau solidaritas sosial yang kuat, struktur negara yang terorganisasi, serta sumber daya ekonomi yang memadai.
Iran sendiri masih menghadapi sejumlah kerentanan, termasuk kesulitan ekonomi, isolasi politik, dan ketidakpuasan di dalam negeri. Kondisi itu membuat arah konflik dalam jangka panjang tetap tidak pasti.
Mehmet Akif Kayapinar dari Istanbul University mengatakan perkembangan rudal jarak jauh pada masa Perang Dingin sempat membuat pengaruh geografi dalam konflik dianggap berkurang. Namun, setelah Uni Soviet runtuh, berbagai ketegangan di Balkan dan Kaukasus kembali menunjukkan pentingnya faktor geografis dalam politik global.
Meski demikian, Kayapinar tidak sepenuhnya yakin pemikiran Ibnu Khaldun dapat langsung diterapkan pada krisis di Selat Hormuz.
"Analisis Ibnu Khaldun bertujuan menjelaskan perkembangan politik dalam jangka panjang, bukan peristiwa jangka pendek seperti krisis Hormuz saat ini," imbuhnya.