Ekonomi China Lesu, Harga Jamur Matsutake di Pegunungan Himalaya Ikut Anjlok

Lantas, apa dampak lain dari melemahnya ekonomi China?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 12 September 2026, 15:27 WIB
Ilustrasi yuan (Photo by Eric Prouzet on Unsplash)

Liputan6.com, Beijing - Setiap hari sebelum matahari terbit, para pencari jamur di dataran tinggi barat daya China mulai menyusuri perbukitan untuk mencari salah satu bahan pangan paling bernilai di negara tersebut: jamur matsutake.

Selama beberapa pekan dalam setahun, masyarakat etnis Tibet di sekitar Shangri-La, Provinsi Yunnan, China, berburu jamur yang dikenal dengan nama songrong dalam bahasa Mandarin tersebut.

Jamur yang tumbuh secara alami di kawasan hutan pinus dan ek Pegunungan Himalaya Timur itu dikenal memiliki cita rasa khas dan dipercaya memiliki khasiat obat, dikutip dari WJS.

Musim matsutake biasanya berlangsung sekitar 10 pekan, mulai pertengahan Juli hingga akhir September. Para pencari jamur bahkan harus berangkat sekitar pukul 04.00 waktu setempat agar dapat melihat jamur berwarna putih dengan lebih jelas di tengah kondisi minim cahaya.

Setelah dikumpulkan, jamur tersebut dapat berpindah tangan dengan cepat. Hanya dalam waktu sekitar satu hari, matsutake yang dipetik di kawasan pegunungan terpencil itu bisa berakhir di meja restoran mewah di berbagai kota di pesisir timur China, yang berjarak sekitar 1.200 mil atau hampir 2.000 kilometer.

Salah satu mata rantai penting dalam perdagangan tersebut adalah para perantara lokal. Salah satunya Sonam Drolma, perempuan 40 tahun asal Shangri-La yang telah menjalankan bisnis matsutake selama lebih dari satu dekade.

Shangri-La merupakan kota berpenduduk kurang dari 200.000 jiwa yang berada di dataran tinggi Tibet, dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut.

Bagi kawasan yang relatif tertinggal secara ekonomi, perdagangan matsutake pernah menjadi sumber penghasilan yang sangat menjanjikan.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah.

“Sudah 13 atau 14 tahun saya melakukan ini. Sekarang ini bukan bisnis yang bagus lagi,” kata Drolma.

 

 

Pernah Mengubah Ekonomi Masyarakat Tibet

Ilustrasi Tibet (AFP/Johannes Eisele)

Matsutake mulai menjadi komoditas bernilai tinggi di kawasan tersebut sejak dekade 1980-an. Saat itu, pembeli dari Jepang mulai mencari pasokan matsutake dari luar negeri setelah kerusakan lingkungan menyebabkan produksi jamur tersebut di Jepang merosot.

Permintaan dari Jepang kemudian mendorong harga matsutake naik dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Tibet di sekitar Shangri-La.

Keluarga Drolma dan banyak masyarakat lokal lainnya mulai mengandalkan perburuan jamur yang tumbuh liar di kawasan hutan Pegunungan Himalaya Timur.

Ketika ekonomi China berkembang pesat, konsumsi matsutake juga meningkat di dalam negeri. Jamur tersebut kemudian menjadi bagian dari perdagangan makanan premium.

Nilainya bahkan pernah sedemikian tinggi sehingga beredar cerita mengenai pejabat lokal yang mampu memperoleh pendapatan lebih besar hanya dengan memetik matsutake selama musim panen sekitar 10 pekan dibandingkan gaji mereka selama setahun.

Persaingan untuk mendapatkan jamur terbaik pun semakin ketat. Aturan tidak tertulis berkembang mengenai siapa yang memiliki akses ke wilayah perbukitan tertentu. Para pemburu berpengalaman juga mengembangkan berbagai cara untuk menemukan lokasi jamur terbaik sekaligus menyembunyikannya dari pesaing.

Namun, keuntungan besar tersebut akhirnya menarik semakin banyak pemain.

Menurut Drolma, pedagang perantara dari berbagai wilayah China mulai membanjiri pasar matsutake. Pada saat yang sama, perlambatan ekonomi China membuat permintaan domestik terhadap barang-barang mewah, termasuk jamur premium, ikut tertekan.

Harga Turun, Pencari Jamur Terdesak

Dampaknya terlihat jelas di pasar matsutake Shangri-La.

Setiap hari sekitar pukul 15.00, para pencari jamur membawa hasil perburuan mereka ke sebuah balai lelang sederhana. Mereka membawa jamur menggunakan ember yang diikat di punggung.

Sebelum lelang dimulai, para pembeli menyiapkan timbangan dan uang tunai pecahan 100 yuan.

Begitu lelang dimulai, para penjual berdesakan masuk sambil menawarkan jamur terbaik mereka. Harga ditentukan berdasarkan kualitas. Matsutake yang utuh, bersih dan tidak memiliki cacat akan mendapatkan harga paling tinggi.

Jamur kemudian ditimbang dan transaksi berlangsung cepat. Dalam waktu sekitar 30 menit, sebagian besar transaksi telah selesai.

Bagi mereka yang belum berhasil menjual seluruh hasil panen, pilihannya semakin terbatas. Mereka terpaksa melepas jamur yang tersisa dengan harga berapa pun yang ditawarkan pembeli.

Harga tersebut kini semakin rendah.

Jika satu kilogram matsutake sebelumnya dapat dihargai sekitar 200 yuan atau sekitar US$30, kini para pemetik dianggap beruntung jika dapat memperoleh sekitar 150 yuan per kilogram.

Lharong Drolma, generasi kedua pencari matsutake yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan Sonam Drolma, menyebut penurunan permintaan sebagai salah satu penyebabnya.

“Lebih sedikit orang yang membeli, mungkin karena ekonomi sudah buruk,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kondisi kehidupan dan bisnis terasa semakin memburuk sejak pandemi Covid-19.

 

 

Dari Pemetik Menjadi Perantara

Ilustrasi bendera Republik Rakyat China (AP/Mark Schiefelbein)

Sonam Drolma sendiri kini tidak lagi harus bangun sebelum fajar untuk mencari jamur.

Ia telah naik satu tingkat dalam rantai pasok dan menjadi perantara. Setelah lelang selesai, Drolma membawa hasil pembeliannya menggunakan SUV GAC Trumpchi.

Dalam satu hari, ia dapat membawa lebih dari 200 kilogram matsutake. Jamur tersebut ditumpuk hingga memenuhi bagian belakang kendaraan.

Tujuan akhirnya adalah Shangri-La Matsutake Exchange Market, sebuah kompleks perdagangan modern di pinggiran kota tua Shangri-La.

Di sana, pekerjaan yang lebih teliti dimulai.

Drolma bersama sekitar selusin pekerja mengenakan sarung tangan katun dan duduk di bangku plastik sederhana untuk memilah jamur yang mereka peroleh.

Jamur yang masih utuh, berisi dan memiliki kualitas terbaik dipisahkan dari jamur yang rusak atau cacat.

Matsutake dengan kualitas terbaik dapat dijual dengan harga sekitar US$ 54 per pon, sedangkan jamur yang kualitasnya lebih rendah hanya bernilai sebagian kecil dari harga tersebut.

Kemampuan Drolma dalam mengenali jamur terbaik sejak berada di balai lelang menjadi penentu utama penghasilannya.

Bisnis Sulit, tetapi Sulit Ditinggalkan

Meski perdagangan matsutake semakin sulit, Drolma mengaku tidak mudah meninggalkan dunia tersebut.

Beberapa tahun lalu, ia dan suaminya memang mencoba mencari sumber pendapatan lain dengan membuka tempat berkemah dan homestay untuk wisatawan, memanfaatkan pertumbuhan sektor pariwisata Shangri-La.

Namun, bagi Drolma, mencari matsutake memiliki daya tarik tersendiri.

“Saya kecanduan,” ujarnya.

Perburuan matsutake sendiri masih menjadi pekerjaan yang sangat bergantung pada kemampuan manusia. Teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan, belum banyak membantu menemukan jamur yang tumbuh liar di tengah hutan.

Para pencari harus mengandalkan pengalaman untuk mengetahui lokasi dan kondisi yang tepat.

Pekerjaan tersebut juga tidak mudah. Hujan deras yang datang tiba-tiba dapat memicu longsor. Dalam salah satu perjalanan Drolma pada Agustus lalu, bahkan hujan es menerjang kendaraan yang digunakannya saat membawa hasil panen kembali ke kota.

Di tengah kondisi alam yang keras dan harga yang terus tertekan, matsutake kini menjadi gambaran kecil dari persoalan ekonomi China yang lebih luas.

Komoditas yang pernah membawa kemakmuran bagi masyarakat di pegunungan Tibet tersebut kini menghadapi kombinasi persoalan: semakin banyaknya pedagang, persaingan yang semakin sengit, serta melemahnya permintaan akibat kondisi ekonomi.

Bagi para pencari jamur di Shangri-La, musim matsutake tetap menjadi kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Namun, seperti yang dirasakan Drolma, keuntungan besar yang dahulu membuat jamur ini begitu berharga kini semakin sulit ditemukan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya