Liputan6.com, Jakarta - Selebgram sekaligus food vlogger Tasyi Athasyia kembali menjadi sorotan publik usai mengungkap kabar tak mengenakkan lewat akun Instagram pribadinya. Ia mengaku menjadi korban dugaan pencurian barang-barang mewah yang dilakukan oleh salah satu karyawan terdekatnya sendiri.
Dalam unggahan yang dibagikan pada Sabtu (8/8/2026), Tasyi Athasyia menyebut kerugian akibat dugaan pencurian barang branded ini telah mencapai lebih dari Rp 500 juta, dengan 12 barang yang sudah teridentifikasi terjual di sebuah platform jual-beli barang bermerek. Kasus ini kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan masih dalam proses penyelidikan.
Advertisement
Kronologi Dugaan Pencurian: Bermula dari Renovasi Walk-in Closet
Tasyi menuturkan, dugaan kehilangan barang pertama kali disadari sekitar awal Maret 2026. Saat itu ia baru menyelesaikan renovasi walk-in closet di rumahnya dan hendak merapikan koleksi tasnya, namun mendapati sekitar lima tas sudah tidak berada di tempat semula.
Karena tak kunjung menemukan barang tersebut meski sudah mencari ke berbagai sudut rumah, Tasyi awalnya memilih mengikhlaskan kehilangan itu. Ia mengaku sempat berpikir kehilangan tersebut murni soal rezeki, tanpa menaruh curiga pada siapa pun di lingkungan kerjanya.
Namun seiring berjalannya waktu, jumlah barang yang hilang justru terus bertambah. Kecurigaan itu akhirnya terjawab ketika salah satu anggota tim Tasyi mendapati notifikasi transaksi mencurigakan yang masuk ke perangkatnya sendiri, diduga akibat akun email yang tanpa sengaja tersinkronisasi dengan perangkat lain.
Modus Penjualan Barang Branded, Diduga Berlangsung Setahun
Dari penelusuran itu, Tasyi mendapati sejumlah notifikasi pembayaran hasil penjualan barang bermerek yang berasal dari salah satu platform jual-beli barang branded. Ia menyebut sistem pada platform tersebut memungkinkan transaksi tanpa tatap muka, sehingga barang-barangnya diduga dikirim menggunakan jasa layanan antar sebelum dijual dengan harga jauh di bawah pasaran.
Setelah ditelusuri, dugaan pencurian ini disebut telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun. Total kerugian yang sejauh ini berhasil diidentifikasi mencapai lebih dari Rp 500 juta, dengan 12 barang yang sudah dipastikan terjual melalui platform yang sama.
Karyawan yang diduga terlibat awalnya membantah dan tidak mengakui perbuatannya. Barulah setelah ditunjukkan bukti berupa riwayat transaksi dan notifikasi penjualan, yang bersangkutan akhirnya mengaku dan meminta maaf, bahkan disebut mengaku menjual barang lebih banyak dari yang sudah teridentifikasi, meski tak lagi mengingat jumlah pastinya.