Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan sebanyak satu hingga dua kali setiap pekan untuk mengurangi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, kebijakan tersebut diambil setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan cuaca.
Advertisement
"Dari data yang ada, puncak El Nino akan berlangsung cukup lama, bahkan mungkin menjadi salah satu yang terpanjang dibandingkan tahun 2023," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, dikutip Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada akhir September hingga pertengahan Oktober. Hujan diperkirakan baru mulai turun pada pekan pertama atau kedua Oktober.
"Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau pertengahan Oktober. Minggu pertama atau kedua Oktober baru akan ada hujan," ujarnya.
Pramono mengakui pelaksanaan operasi modifikasi cuaca kali ini menghadapi tantangan karena potensi pembentukan awan hujan relatif kecil. Meski demikian, Pemprov DKI tetap akan mengoptimalkan upaya tersebut.
"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca. Karena ini akan berlangsung lama," kata Pramono.
Langkah Mitigasi Lain
Selain menjalankan operasi modifikasi cuaca, Pemprov DKI juga menyiapkan langkah mitigasi lain selama musim kemarau, antara lain mengantisipasi potensi kebakaran dan gangguan pasokan air bersih.
"Maka Pemerintah DKI Jakarta, wali kota akan kampanye tentang Jaga Jakarta dalam dua hal. Satu kebakaran, yang satu adalah penyediaan air bersih pasti mengalami hambatan," ungkapnya.
Pramono juga meminta setiap rukun warga (RW) mulai menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) guna mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran saat cuaca kering.
"Saya minta untuk setiap RW persiapan APAR, alat pemadam kebakaran dipersiapkan dari sekarang karena cepat atau lambat risikonya akan meningkat akibat cuaca kering, termasuk potensi ISPA," tandas Pramono.