Taiwan Gelar Latihan Militer 10 Hari, Fokus pada Ancaman China

China tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menempatkan Taiwan di bawah kendalinya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 Agustus 2026, 09:44 WIB
Sejumlah tentara berlatih mengoperasikan mortir secara beregu dalam latihan militer tahunan Han Kuang di Taipei, Taiwan, Rabu (5/8/2026). (Dok. AP Photo/Chiang Ying-ying)

Liputan6.com, Taipei - Taiwan memulai latihan militer besar-besaran pada Rabu (5/8) untuk menguji kemampuan para komandan menyesuaikan strategi dan mengambil keputusan cepat ketika pergerakan musuh tidak sesuai perkiraan. 

Latihan tahunan Han Kuang yang berlangsung selama 10 hari itu dimulai pada Rabu pagi setelah pusat komando bawah tanah di Taipei mengeluarkan perintah dimulainya latihan.

Perintah tersebut langsung diikuti serangkaian langkah kesiapan tempur, termasuk menyebar jet-jet tempur ke sejumlah lokasi dan mengerahkan angkatan laut dalam kondisi darurat. Hal itu disampaikan dua pejabat senior Taiwan yang mengetahui pelaksanaan latihan tersebut kepada Reuters.

Taiwan untuk pertama kalinya akan menerapkan metode backbrief yang mengacu pada praktik militer Amerika Serikat (AS). Dalam metode ini, perwira junior yang menerima perintah harus menjelaskan kembali rincian misi kepada komandannya.

Metode tersebut bertujuan memperkuat koordinasi, kata para pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan karena informasi itu bersifat sensitif.

Salah seorang pejabat mengatakan metode tersebut diterapkan untuk memastikan komandan dan bawahannya memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan operasi.

Latihan itu juga akan berfokus pada salah satu kekhawatiran utama Taiwan jika perang pecah, yakni kemungkinan China berupaya melumpuhkan pusat komando, pelabuhan, jaringan logistik, dan fasilitas industri pertahanan pada tahap awal serangan.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, namun klaim tersebut ditolak oleh Taipei.

 

 

Relokasi pada Masa Perang

Latihan Han Kuang digelar setiap tahun sejak 1984. Dalam latihan tahun ini, Taiwan untuk pertama kalinya akan sengaja memperlambat koneksi internet seluler guna menguji cara masyarakat berkomunikasi apabila kapasitas jaringan menjadi terbatas.

Militer akan menyimulasikan pemindahan salah satu fasilitas persenjataan utama pada masa perang, menggerakkan pabrik-pabrik sipil untuk mendukung kebutuhan perang, serta menggelar latihan pengawalan di lepas pantai Taiwan yang menghadap Samudra Pasifik.

Latihan tersebut digelar di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa Beijing mungkin sedang berlatih untuk memutus jalur pasokan Taiwan melalui Samudra Pasifik dari negara-negara sekutunya, seiring meningkatnya tekanan militer China terhadap pulau itu.

"Semua ini merupakan bagian dari rangkaian latihan untuk meningkatkan ketangguhan. Latihan ini tidak lagi berlangsung dalam kondisi ideal seperti di laboratorium," ungkap pejabat senior ketiga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena operasi tersebut bersifat sensitif.

"Anda memasuki kondisi lapangan yang sesungguhnya dan menghadapi keadaan nyata yang paling berat. Kami berharap tahap akhir latihan benar-benar mencapai kondisi seperti itu."

Langkah itu merupakan bagian dari upaya Taiwan membuat latihan militernya semakin menyerupai kondisi perang yang sebenarnya. Sebelumnya, sejumlah latihan Taiwan dikritik karena dinilai terlalu terpaku pada skenario yang telah diatur.

 

Latihan Ketahanan

Upaya tersebut mencakup latihan ketahanan untuk menguji kemampuan pejabat daerah menjaga roda pemerintahan tetap berjalan ketika berbagai krisis terjadi secara beruntun, mulai dari gempa bumi hingga invasi China.

"Jika situasi di lapangan tidak sesuai dengan skenario awal mengenai pergerakan musuh, apa yang harus dilakukan? Bagaimana komandan harus menilai kembali keadaan, menyesuaikan rencana, dan segera mengeluarkan perintah?" kata pejabat pertahanan tersebut.

Ia merujuk pada para komandan lapangan yang akan dihadapkan pada berbagai “skenario tak terduga” selama latihan yang berakhir pada 14 Agustus itu.

Latihan tersebut juga akan melibatkan lebih dari 20.000 personel cadangan.

Di lapangan olahraga sebuah sekolah menengah di Taipei pada Rabu, puluhan personel cadangan berkumpul untuk berlatih menggunakan mortir dan mengambil posisi menembak dengan senapan.

Militer akan memperkenalkan mekanisme peliputan dengan menempatkan wartawan bersama pasukan di lapangan. Mekanisme itu digunakan untuk menguji penyampaian informasi dari garis depan pada masa perang serta upaya menangkal disinformasi musuh, kata para pejabat.

"Fokusnya adalah bagaimana Republik China secara keseluruhan, terutama rakyatnya, harus menghadapi perang," tutur pejabat pertahanan tersebut, menggunakan nama resmi Taiwan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya