Liputan6.com, Jakarta - Satu hal yang menenangkan saat menguji model kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) tingkat tinggi di lingkungan terisolasi adalah kemampuannya yang terbatas untuk merusak dunia luar.
Namun, kabar buruknya, manusia yang harusnya bertugas memastikan "pagar" isolasi tersebut benar-benar tertutup rapat, seringkali membuat kesalahan.
Advertisement
Hal inilah yang dialami Anthropic. Perusahaan penyedia AI tersebut baru saja mengungkapkan model AI miliknya, Claude, mengakses internet terbuka saat menjalani evaluasi keamanan siber dan meretas tiga perusahaan tanpa izin.
Diwartakan Android Authority, Minggu (2/8/2026), Anthropic membongkar insiden ini setelah OpenAI mengumumkan pada 21 Juli 2026 bahwa model AI mereka berhasil kabur dari lingkungan pengujian terisolasi dan meretas platform Hugging Face.
Laporan tersebut mendorong Anthropic untuk memeriksa ulang 141.006 sesi evaluasi. Hasilnya, ditemukan tiga insiden terpisah dalam enam sesi uji coba yang terjadi sejak April 2026.
Saat itu, Claude sebenarnya sedang menjalani simulasi peretasan capture-the-flag. Instruksi (prompt) yang diberikan secara eksplisit menyatakan bahwa model beroperasi di lingkungan simulasi tanpa akses internet.
Namun, terjadi kesalahpahaman teknis dengan evaluator pihak ketiga, Irregular, yang menyebabkan koneksi internet langsung tetap aktif. Secara alami, Claude menganggap sistem nyata yang ditemukannya di internet sebagai bagian dari simulasi permainan.
Dampak dan Tingkat Kerusakan
Dampak dari kecerobohan konfigurasi ini cukup signifikan, antara lain:
- Pencurian Data Produksi: Pada insiden paling serius, Claude Opus 4.7 berhasil mengakses kredensial dan basis data produksi yang berisi ratusan baris data milik sebuah organisasi.
- Penyebaran Malware: Model Claude Mythos 5 membuat serta mengunggah paket berbahaya (malicious package) ke repositori publik Python (PyPI). Claude bahkan sempat mencoba mencari dana untuk membayar nomor telepon demi memverifikasi aksinya. Paket 'beracun' ini berada di internet selama sekitar satu jam, diunduh serta dijalankan di 15 sistem, hingga akhirnya membocorkan kredensial milik perusahaan keamanan siber.
- Pindaian Massal: Model internal ketiga sempat memindai sekitar 9.000 target online dan meretas satu organisasi lain, sebelum akhirnya AI tersebut "sadar" bahwa sistem yang diserangnya adalah nyata lalu menghentikan aksinya.
Perusahaan menilai perilaku Claude "berada di bawah standar perilaku ideal"—sebuah pernyataan yang dirasa sangat memperhalus keadaan.
Anthropic menegaskan peretasan ini memanfaatkan celah keamanan mendasar seperti kata sandi yang lemah, kredensial yang terekspos, dan SQL injection--bukan akibat eksploitasi celah tingkat tinggi (zero-day vulnerability).
Kesalahan Manusia di Balik 'Pagar AI'
Anthropic berargumen bahwa insiden ini murni kegagalan operasional dan pengawasan manusia dalam mengisolasi sistem. Hal ini berbeda dengan kasus OpenAI, di mana model AI mereka secara aktif mengeksploitasi celah zero-day untuk meloloskan diri.
Meski begitu, perbedaannya tidak begitu menenangkan. Sistem AI berdaya tinggi tetap akan ditempatkan di dalam infrastruktur yang dikonfigurasi oleh manusia, dan manusia sangat ahli dalam melakukan kesalahan.
Saat ini, Anthropic telah menghentikan seluruh proses evaluasi tersebut, menghubungi organisasi yang terdampak, serta berjanji akan memperketat pemantauan dan kontrol pada pengujian di masa mendatang.