Investasi Pusat Data AI Tembus Miliaran Dolar, Dampak ke Ekonomi Masih Minim

Meski mendorong pertumbuhan lapangan kerja di perkotaan, hadirnya pusat data AI memicu penolakan warga akibat lonjakan harga listrik hingga 5 persen.

oleh Aisyah Mustika ZamaniDiterbitkan 03 Agustus 2026, 06:30 WIB
Weak AI vs strong AI. (Photo: Growtika/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini membentuk cara bisnis beroperasi dan mendorong peningkatan besar pada pembangunan pusat data di seluruh Amerika Serikat.

Ukuran fasilitas-fasilitas ini luasnya setara dengan ratusan acre dan merupakan salah satu gelombang investasi modal terbesar dalam sejarah Amerika.

Peneliti dari Georgia Tech, Daniel Yue, bersama peneliti pascadoktoral Yiyang Zeng, mengkaji bagaimana pusat data memengaruhi lapangan pekerjaan lokal, gaji, aktivitas bisnis, dan harga listrik.

Dikutip dari Futurity, Senin (3/8/2026), temuan mereka menunjukkan peran geografi sangat penting dalam menentukan apakah suatu komunitas dapat memperoleh manfaat ekonomi yang signifikan.

Modal dengan jumlah besar mengalir ke komunitas tertentu berhubungan dengan pembangunan baru, sementara bukti kuat manfaat dari fasilitas-fasilitas ini masih minim, kata Zeng menjelaskan.

Ia menambahkan, penolakan dari warga lokal muncul dengan cepat di berbagai daerah. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan memberikan bukti nyata baru, menggunakan data rinci dari tingkat fasilitas yang dikaitkan dengan dampak ekonomi di tingkat kabupaten.

Investasi Berskala Besar

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), kecerdasan buatan. (Image by rawpixel.com on Freepik)

Terdapat lebih dari 2.700 pusat data di seluruh Amerika Serikat. Satu gedung fasilitas menelan biaya lebih dari US$ 1 miliar (sekitar Rp 18 triliun) serta menyedot listrik setara dengan kota kecil.

Ditemukan dalam tiga tahun pertama setelah mulai beroperasi, tingkat lapangan kerja meningkat sekitar 0,9%, karyawan mendapatkan kenaikan gaji 1,1%, jumlah unit usaha bertambah 1,0%, dan pendapatan rumah tangga naik 0,7%.

Seiring berjalannya waktu, dampak keseluruhan menjadi semakin besar, menyentuh angka 3,5%, 5,0%, 4,7%, dan 1,9%. Bahkan jumlah izin pembangunan juga turut melonjak tajam.

Hal ini merupakan keuntungan signifikan dan nyata dari segi ekonomi. Namun, Yue dan Zeng menemukan keuntungan tersebut tergolong biasa saja jika dibandingkan dengan besarnya investasi.

Temuan paling jelas adalah wilayah metropolitan menikmati manfaat ekonomi dari pusat data, sementara wilayah pedesaan hampir tidak merasakannya. Lapangan kerja dan pertumbuhan bisnis baru lebih meningkat di wilayah metropolitan daripada wilayah non-metropolitan. Penyebabnya terletak pada aglomerasi atau pemusatan aktivitas ekonomi.

 

Wilayah metropolitan Diuntungkan

Wilayah metropolitan berada di posisi menguntungkan karena memiliki infrastruktur lengkap mulai dari kontraktor, pemasok peralatan, tenaga kerja, hingga toko-toko. Ketika pusat data dibangun, uangnya akan langsung berputar di ekosistem bisnis lokal tersebut.

Sementara di wilayah pedesaan, efek tersebut jauh lebih sulit dicapai. Fasilitas pusat data cenderung mempekerjakan sedikit karyawan tetap dan banyak layanan khusus didatangkan dari luar daerah.

Meskipun demikian, terdapat penurunan tingkat pengangguran di wilayah non-metropolitan. Namun, pertumbuhan lapangan kerja dan upah yang dijanjikan sering kali gagal diwujudkan.

Selain itu, pusat data mengonsumsi listrik dalam jumlah besar, dan satu fasilitas bisa menggunakan daya setara dengan penggunaan 80.000 rumah. Hasil pengukuran menunjukkan harga listrik tercatat naik 5% setelah pusat data dibangun.

Zeng mencatat, ketika manfaat bagi masyarakat tergolong kecil, dampak negatif seperti kenaikan harga listrik dan beban tambahan infrastruktur lokal akan dirasakan langsung oleh warga setempat.

 

Hal Perlu Pertimbangkan

Peneliti menyarankan masyarakat untuk bertanya mengenai pihak yang membayar infrastruktur baru serta pembagiannya secara spesifik. Perusahaan listrik lokal menerapkan pembagian biaya berbeda-beda antara pemilik rumah, pelaku usaha, dan pengguna industri besar, termasuk pusat data.

Mengingat sistem pembagian biaya ini bervariasi di setiap negara bagian, setiap proyek pembangunan pusat data memiliki karakteristik unik.

Peneliti mengharapkan hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam mengambil keputusan agar lebih kritis dan berdasarkan data serta bukti nyata.

Zeng mengingatkan masyarakat untuk tidak terpaku pada paket insentif dan berfokus pada detail-detail struktur keringanan pajak, tarif listrik, serta pihak mana yang menanggung biaya peningkatan infrastruktur.

Memahami di mana pusat data menciptakan nilai bersama akan menjadi hal krusial bagi para pemimpin masyarakat maupun pembuat kebijakan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya