KAI Revitalisasi 120 Cagar Budaya, Stasiun Kota hingga Bogor Dipugar Tahun Ini

Dirut KAI melaporkan rencana pemugaran 120 aset cagar budaya pada 2026 di depan Presiden Prabowo, termasuk Stasiun Jakarta Kota, Tanjung Priuk, dan Bogor.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 30 Juli 2026, 13:40 WIB
Stasiun Jakarta Kota. (Liputan6.com/Dhesi Kusuma)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa perusahaan saat ini mengelola sekitar 600 aset berstatus cagar budaya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 bangunan masuk dalam target program revitalisasi pada tahun 2026.

Hal tersebut dilaporkan Bobby langsung kepada Presiden Prabowo Subianto saat acara Peresmian Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang.

"Perlu kami laporkan juga, Pak, kami di PT Kereta Api mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya, di mana 120 di antaranya sekarang masuk dalam program revitalisasi untuk beautification," kata Bobby, Kamis (30/7/2026).

Beberapa stasiun besar berstatus cagar budaya di Jabodetabek menjadi prioritas pemugaran tahun ini, seperti Stasiun Tanjung Priuk, Stasiun Jakarta Kota, dan Stasiun Bogor.

Proses revitalisasi direncanakan bakal mengembalikan rupa fasad bangunan sesuai dengan tampilan awal sejarah peninggalannya.

"Termasuk di Jakarta itu Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priuk, dan Stasiun Bogor, Pak. Dalam tahun ini akan kita revitalisasi untuk mengembalikan kembali ke fasad sejarahnya," beber Bobby.

 

Pembelajaran dari Stasiun Semarang Tawang Berusia 112 Tahun

‎Pesona stasiun Tawang (Johan Surya / MIK Semar)

Sebelumnya, KAI telah menyelesaikan pemugaran Stasiun Semarang Tawang. Stasiun kereta api yang kini genap berusia 112 tahun tersebut resmi dikembalikan ke wajah aslinya.

Bobby menjelaskan bahwa proses revitalisasi stasiun bersejarah ini memakan waktu selama 330 hari sejak tahun lalu. Langkah ini merupakan bentuk komitmen KAI dalam merawat dan mempercantik aset cagar budaya nasional.

"Prosesnya dibagi dalam dua tahap, Pak. Tahap pertama difokuskan pada bagian fasad depan, termasuk area hall utama. Kemudian sisi barat dan sisi timur juga kita kembalikan lagi ke bentuk semulanya," paparnya.

 

Dikembalikan Sesuai Dokumentasi Era Kolonial

Dia menerangkan, berbagai aspek arsitektur di Stasiun Semarang Tawang direstorasi secara detail berdasarkan referensi arsip historis.

"Kami mendapatkan referensi langsung dari foto-foto lama zaman Belanda. Lampu-lampu dan seluruh ornamen yang ada di sini kami kembalikan ke bentuk aslinya," beber Bobby.

"Dengan demikian, bangunan yang sudah berumur 112 tahun ini dapat terus kita jaga kelestarian serta jejak sejarahnya," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya