Studi Temukan Alasan di Balik Kanibal Masih Terjadi pada Manusia

Kanibalisme merupakan suatu budaya tabu namun anehnya praktik ini masih terjadi. Seberapa bahaya?

oleh Aisyah Mustika ZamaniDiterbitkan 30 Juli 2026, 06:30 WIB
Ilustrasi tengkorak manusia. (Chelms Varthoumlien/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Kanibalisme merupakan suatu hal aneh namun nyata terjadi dalam sejarah manusia. Hal ini memunculkan pertanyaan mengapa Homo Sapiens terus melakukan praktik ini, tetapi tidak pernah bertahan lama?

Penelitian dari Universitas Wroclaw di Polandia dan Universitas Charles di Republik Ceko mencoba mencari jawaban dari perspektif matematika, dengan mengukur risiko dan manfaat kanibalisme.

Diwartakan Science Alert, Kamis (30/7/2026), daging manusia dapat memberikan nutrisi dan energi ke tubuh seperti daging lainnya. Dalam kondisi ekstrem, kanibalisme juga bahkan bisa menyelamatkan hidup.

Hasil penelitian diterbitkan dalam jurnal The Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dan menunjukkan jika praktik kanibalisme terus dilakukan, akan semakin bahaya serta merusak.

“Model kami menunjukkan dengan jelas, kanibalisme tidak dapat dipertahankan bagi populasi manusia dalam jangka panjang,” kata Petr Tureček, ahli biologi teoretis dan evolusi dari Universitas Charles.

Studi menyatakan hanya ada situasi tertentu di mana kanibalisme dianggap masuk akal, yaitu saat manusia dimakan dalam keadaan mati, saat dagingnya bisa dimasak demi keamanan, dan ketika tidak mengonsumsi manusia yang semasa hidupnya juga seorang kanibal.

Selain kondisi-kondisi tersebut, terdapat risiko infeksi dan penularan penyakit, ketika patogen bersirkulasi di dalam spesies yang sama (berbeda dengan daging hewan lain), kemungkinan terjadinya infeksi jauh lebih besar.

Contoh Nyata Kanibalisme

Seiring rantai kanibalisme terbentuk pada seseorang yang memakan daging seorang kanibal, risiko penyebaran patogen pun turut meningkat. Kelompok manusia dengan praktik kanibalisme ini cenderung akan musnah dengan cepat.

“Dampak epidemiologis dari penyebaran penyakit yang tidak bisa disembuhkan jauh lebih bahaya dari manfaat kalori, dan pada akhirnya akan meruntuhkan komunitas tersebut,” ujar Tureček menjelaskan.

Ia menambahkan, tabu budaya ini berperan sebagai perisai efektif guna melindungi populasi manusia dari ancaman kepunahan.

Peneliti juga menunjukkan contoh nyata dari suku Fore di Papua Nugini yang pernah terdampak penyakit otak mematikan bernama kuru, di mana penyakit ini baru reda setelah suku tersebut berhenti memakan jenazah sebagai bagian dari ritual pemakaman.

 

Apa Itu Penyakit Kuru?

Kuru merupakan penyakit prion dan disebabkan oleh protein dengan bentuk keliru. Protein ini tidak dapat dimusnahkan meski sudah dimasak sebagaimana patogen lainnya.

Hal ini disebutkan sebagai pandangan pragmatis di mana mengesampingkan rasa jijik terhadap kanibalisme, meskipun pernah dilakukan manusia pada masa-masa tertentu.

Tertulis pada makalah para peneliti, kendala-kendala ini membantu menjelaskan mengapa kanibalisme terjadi secara episodik sekaligus muncul tabu terhadap praktik tersebut. Perhitungan dalam studi ini menunjukkan bahwa kaum kanibal mungkin saja telah memusnahkan diri sendiri akibat praktik ini. 

Para peneliti mengakui kemungkinan faktor-faktor lain yang dapat diteliti lebih lanjut ke depannya. Contohnya, praktik kanibalisme dilakukan sebagai cara meneror komunitas tetangga atau menegaskan status.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya