Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kebudayaan kembali menegaskan komitmennya mendukung penyelenggaraan Bali International Film Festival (Balinale), sebagai panggung strategis bagi sineas Indonesia. Dukungan ini untuk memperluas akses internasional sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui karya-karya sinematik berkualitas.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (PPPK), Ahmad Mahendra, menggelar pertemuan dengan jajaran komite Balinale guna membahas pengembangan festival ke depan. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Kebudayaan menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Balinale edisi ke-19 sekaligus mempersiapkan pelaksanaan edisi ke-20 yang akan datang.
Advertisement
Salah satu agenda dalam pertemuan itu adalah pemberian perdana penghargaan kategori "Tapestry of Indonesia", yang ditujukan bagi film dokumenter dan film pendek naratif. Ahmad Mahendra menyerahkan penghargaan tersebut kepada para pemenang yang dinilai berhasil menghadirkan kisah keberagaman Indonesia secara kuat dan menyentuh.
“Penghargaan Tapestry of Indonesia mewakili apresiasi Balinale terhadap para pembuat film muda yang merangkai kisah, keberagaman, dan identitas Indonesia untuk diperkenalkan kepada dunia. Karya-karya unik ini harus mampu menyentuh hati penonton, sehingga Indonesia tidak hanya dilihat, tetapi juga benar-benar dirasakan,” ujar Ahmad Mahendra.
Balinale mendapat perhatian internasional sejak menyandang status Festival Berkualifikasi Academy Award untuk kategori Best Short Film pada 2024. Menurut Ahmad Mahendra, pencapaian tersebut membuka peluang lebih besar bagi sineas Indonesia untuk menembus industri perfilman dunia.
Bukan Sekadar Festival Tahunan
“Kementerian Kebudayaan tetap berkomitmen mendukung Balinale, yang sejak 2024 telah memegang status Festival Berkualifikasi Academy Award® untuk kategori Best Short Film, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi para pembuat film Indonesia untuk memasuki industri film global,” katanya.
Ia menilai Balinale kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar festival tahunan. Ajang ini juga berfungsi sebagai wadah pembinaan talenta yang memberikan kesempatan pengembangan profesional dan eksposur internasional bagi para sineas.
Antusiasme terhadap Balinale juga terus meningkat. Pada 2026, festival ini menerima lebih dari 1.300 pendaftaran film dari berbagai negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 94 film dari 38 negara terpilih dalam seleksi resmi, termasuk 23 film Indonesia.
Jembatan untuk Komunitas Film dan Budaya Indonesia
Pendiri sekaligus Direktur Festival Balinale, Deborah Gabinetti, mengatakan bahwa sejak awal festival ini dirancang untuk menjembatani komunitas film internasional dengan budaya Indonesia. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem industri kreatif nasional.
“Balinale didirikan untuk menciptakan peluang yang bermakna bagi para pembuat film Indonesia dengan membawa komunitas film internasional ke Indonesia sekaligus membawa cerita-cerita Indonesia ke seluruh dunia,” ujar Deborah.
Tak Hanya Fokus Pemutaran Film
Ia juga menyebut kemitraan dengan Kementerian Kebudayaan tidak hanya berfokus pada pemutaran film, tetapi juga mencakup program pendidikan dan kolaborasi industri yang berkelanjutan.
“Kolaborasi kami dengan Kementerian Kebudayaan terus memperkuat visi tersebut melalui inisiatif yang mendukung pengembangan kreatif, pertukaran budaya, dan pertumbuhan industri jangka panjang,” tambahnya.
Balinale edisi ke-20 dijadwalkan berlangsung pada 1–7 Juni 2027 dengan kawasan Sanur, Bali, sebagai pusat kegiatan dan pertukaran kreatif global. Sementara itu, pendaftaran film untuk edisi spesial tersebut akan resmi dibuka pada 1 Oktober 2026.