Liputan6.com, Canberra - Sebelum adanya situs online dan sosial media untuk bertukar pesan, Saskia Martin dan Heidi Thibeault-Grainger sudah menjadi sahabat pena ketika program pertukaran guru internasional meminta para siswa SD untuk menulis surat satu sama lain.
Dikutip dari ABC Net, Selasa (21/7/2026), setelah 3 dekade bertukar kabar lewat surat, email, dan media sosial, mereka akhirnya bertemu tatap muka pertama kali. Pertemuan itu pun hampir saja gagal terjadi.
Advertisement
Saat Saskia mendengar bahwa sahabat penanya akan datang ke Sydney untuk menghadiri pernikahan adiknya, ia sempat kecewa karena waktunya hampir bertepatan dengan rencana liburannya ke Jepang.
Hanya satu hari sebelum keberangkatan Heidi, Saskia sangat senang saat ia tahu bahwa pernikahannya digelar di Coledale, lima menit ke utara Thirroul, tempat toko miliknya berada.
“Rasanya bagaikan takdir ikut campur karena saat aku bertanya di mana saudara laiki-lakinya akan menikah, ia menjawab di suatu tempat dekat kota Wollongong,” ujarnya.
Keesokannya, ia pergi kembali ke Sydney. Ia pun bertemu dengan Heidi dan keluarganya di Stasiun Thirroul.
Untuk Saskia, bertemu dengan Heidi secara langsung bagaikan bertemu dengan orang yang sudah ia temui 100 kali sebelumnya. “Aku tahu semua tentangnya, jadi kami mencari tempat untuk makan dan mengobrol. Anehnya, aku merasa sangat nyaman. Pertemuan kami tidak canggung dan aku tidak gugup,” tutur Saskia.
Kehidupan yang Diimpikan
Dalam pertemuannya, Saskia mengenang saat ia pergi ke kantor pos untuk membeli stempel internasional.
Satu hal yang membuat Saskia tertarik untuk berbincang dengan Heidi adalah karena adanya perbedaan dalam kehidupan mereka. Sasika tumbuh di pantai, sedangkan Heidi di pegunungan serta memiliki peternakan sapi. “Bagiku, kehidupannya bagaikan mimpi,” kata Saskia.
Setelah hadirnya media sosial, intensitas menulis surat perlahan lahan menghilang. Walaupun mereka masih bertukar kabar lewat email atau online, Saskia merindukan saat mereka masih menulis di kertas secara manual.
Kedua sahabat ini sering bertukar barang di surat mereka. Meskipun yang diberikan adalah hal-hal kecil, tapi itu cukup untuk memberikan warna pada hari mereka. Biasanya, mereka bertukar foto, gelang persahabatan, postcard, peta, bunga yang diawetkan, resep, stiker, teka-teki silang, sulaman silang, bahkan kantong teh.
Keuntungan Sahabat Pena
Ada banyak sekali platform online yang dapat digunakan untuk mencari teman pena dan memberikan fasilitas email dan pertukaran pesan secara online.
Seorang wanita asal Melbourne, Julie Delbridge dulunya bergabung dengan International Pen Friends (IPF) sebagai seorang remaja. Club hobi itu akan memperingati 60 tahun berdirinya. Ia sudah bekerja bersama organisasi tersebut selama 25 tahun.
Menurutnya, menulis untuk sahabat pena bisa meningkatkan kesejahteraan emosional, mengurangi rasa kesepian, dan mendorong pembelajaran seumur hidup.
“Kau akan membentuk koneksi dengan seseorang, di mana kamu akan merasa sudah bersahabat dengan orang tersebut meskipun kalian belum pernah bertemu,” tutur Delbridge.
Dulu saat dirinya masih remaja, ia sangat menyukai pengalaman berbincang dengan sahabat pena. Bahkan saat ia harus menunggu untuk jawaban, menurutnya hal itu mengajarkannya kesabaran.
“Saat orang tuaku bercerai, sepertinya aku secara psikologi menarik diriku dari teman-temanku dan beralih menjalin pertemanan dengan sahabat pena.
Ungkapan Kasih Sayang yang Ditulis Tangan
Delbridge berkata bahwa surat yang ditulis tangan atau postcard nantinya bisa menjadi memori yang indah dan cenderamata untuk kita simpan.
Ia sudah berpindah tempat tinggal berkali-kali dan ia teringat bahwa ada satu kantong yang sempat terbuang. Delbridge berharap ia menyimpan kantong tersebut.
“Orang tua dan kakek nenekku selalu menulis surat yang penuh makna untuk satu sama lain. Semua surat itu mencerminkan diri mereka yang unik di atas selembar kertas, jadi membuat surat yang ditulis tangan sungguh menyenangkan,” ungkapnya.