Liputan6.com, Jakarta - Mata manusia dapat dijaga tetap aktif di luar tubuh manusia hingga 10 jam setelah kematian, dua kali lipat dari durasi yang pernah tercapai.
Dengan mengalirkan darah dan oksigen ke mata donor, mata masih dapat merespons cahaya, serta mempertahankan struktur juga keseluruhan kesehatan selama 24 jam.
Advertisement
“Penelitian ini bisa menjadi langkah penting kemungkinan transplantasi mata seutuhnya,” ucap Thomas Johnson dari Johns Hopkins University di Baltimore, Maryland, yang tidak terlibat dalam penelitian.
Ia menambahkan, mempertahankan respons cahaya di luar tubuh manusia merupakan pencapaian luar biasa. Demikian sebagaimana dikutip dari New Scientist, Sabtu (18/7/2026).
Lebih dari satu juta penduduk di Inggris mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan karena kerusakan permanen, seperti degenerasi makula, yang menyerang retina.
Beberapa kemajuan telah dibuat. Contohnya transplantasi kornea, mengganti lapisan jernih di bagian paling depan mata dengan jaringan donor, dapat memperbaiki penglihatan manusia dari kerusakan kornea. Namun, perawatan retina lebih sulit karena terhubung dengan sistem saraf pusat.
Meskipun transplantasi sebagian wajah dan seluruh bola mata telah dilakukan sejak 2023, prosedur tersebut tidak mengembalikan penglihatan penerima donor. Hal ini menjadi tantangan besar karena retina sensitif terhadap degenerasi akibat kurangnya oksigen, atau disebut sebagai iskemia.
“Bahkan durasi singkat iskemia kemungkinan bisa menyebabkan degenerasi permanen pada kepekaan neuron dan sirkuit akan cahaya,” kata Johnson.
Sensor untuk Mengatur Tekanan
Eimear Byrne dari Barcelona Institute of Science and Technology di Spanyol, serta rekan-rekannya, tertarik mengetahui apakah mereka dapat mengurangi kerusakan dengan mempertahankan mata donor di kondisi sama seperti saat di dalam tubuh.
Untuk merealisasikannya, mereka menciptakan sistem yang memungkinkan memasang selang ke dalam arteri oftalmik, lalu menyuplai darah ke mata dan jaringan sekitarnya.
Mereka kemudian mengalirkan larutan kaya oksigen ke mata donor menggunakan perangkat kustom yang mereka sebut Eye-in-Care-Box, dengan menggunakan sensor untuk mengatur tekanan dan aliran secara otomatis.
Untuk mengetes keberhasilan, peneliti mengambil mata dari enam pendonor, melakukan perfusi pada salah satu mata dan membiarkan sisanya tanpa perfusi.
Sistem perfusi menjaga struktur retina dan kesehatan jaringan di sekitarnya hingga 24 jam, sementara mata tanpa perfusi mengalami kerusakan lebih cepat.
Kemudian mereka melakukan perfusi pada 36 bola mata donor dan menemukan 15 di antaranya menghasilkan respons listrik terhadap cahaya pada retina mereka, mirip dengan manusia hidup.
Respons tersebut bertahan hingga 10 jam setelah kematian, dua kali lipat dari hasil temuan peneliti pada 2022, yaitu 5 jam. Namun, masih belum terpecahkan mengapa pada 21 bola mata lainnya yang diperfusi oleh tim Byrne tidak menghasilkan respons serupa.
Masa Depan Transplantasi Mata
Masih ada tantangan besar lain yang harus diatasi sebelum dokter dapat mengembalikan penglihatan melalui transplantasi mata adalah meregenerasi serat pada saraf optik yang terputus agar bisa terhubung ke pusat penglihatan di otak.
“Tanpa hal itu, mata donor tidak akan memiliki cara untuk mengirimkan sensasi visual ke otak penerima,” Johnson menjelaskan.
Penelitian baru ini tidak mengatasi masalah tersebut, namun dengan menjaga metabolisme mata tetap sehat setelah kematian, akan membuat sistem pemulihan penglihatan mata lebih layak diterapkan ke depannya, memastikan mata pendonor tidak terlalu mengalami iskemia.
Beberapa kelompok sedang mencari cara mendorong pertumbuhan ulang saraf optik. Johnson berpendapat, inilah waktunya untuk mulai memadukan berbagai temuan tersebut dalam transplantasi mata secara utuh.
Menurut tim Byrne, perangkat Eye-in-Care-box dapat bermanfaat untuk menguji terapi terkait penglihatan pada mata manusia daripada hewan.
Johnson berpendapat teknologi ini berpotensi dikembangkan menjadi model in-vitro dan paradigma eksperimental baru untuk menguji obat serta terapi lainnya, beserta memahami biologi dan patologinya. Selain itu, disebutkan hasilnya akan bermanfaat diaplikasikan langsung ke penyakit dan biologi manusia.