Bio Farma Beralih ke CNG, Efisiensi Operasional Meningkat 40%

Dukung transisi energi bersih, Bio Farma resmi migrasi ke CNG. Sinergi BUMN ini siap pangkas emisi operasional pabrik vaksin di Bandung.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 16 Juli 2026, 12:09 WIB
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melakukan penyaluran gas bumi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) menggunakan teknologi GTM. (Foto:Antara Foto/ Aji Setyawan)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bio Farma (Persero) resmi menggunakan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai sumber energi operasional di fasilitas produksinya yang berlokasi di Bandung. Langkah strategis ini terwujud melalui kerja sama dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), sekaligus menandai pemanfaatan CNG pertama bagi Bio Farma dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Direktur Operasi PT Bio Farma, Iin Susanti, mengatakan penggunaan CNG merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pemanfaatan energi rendah emisi.

"Bio Farma berkomitmen untuk menerapkan implementasi prinsip ESG salah satunya melalui pemanfaatan bahan bakar yang rendah emisi dan lebih ramah lingkungan seperti CNG," ujar Iin di Jakarta, dikutip Kamis (16/7/2026).

Melalui kolaborasi ini, PGN Gagas akan memasok CNG sebanyak 300.000 meter kubik (m3) per bulan guna memenuhi seluruh kebutuhan operasional Bio Farma. Pemanfaatan energi baru ini diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan hingga 40% dibandingkan dengan sumber energi yang digunakan sebelumnya.

Perluasan Pemanfaatan Energi di Sektor Strategis

Gedung Bio Farma. (Dok Bio Farma)

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menyatakan kerja sama ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pemanfaatan CNG ke berbagai sektor strategis, termasuk industri kesehatan nasional.

"Kolaborasi dengan Bio Farma menjadi bagian dari komitmen kami memperluas manfaat CNG ke sektor-sektor esensial yang menopang kebutuhan dasar masyarakat, termasuk kesehatan. Keandalan pasokan energi di fasilitas produksi seperti Bio Farma sangat penting karena menyangkut kesinambungan produksi yang berdampak langsung pada layanan kesehatan publik," kata Santiaji.

Apa Itu CNG?

Dikutip dari PERPRES 64 TAHUN 2012, Compressed Natural Gas atau CNG adalah Bahan Bakar Gas yang berasal dari Gas Bumi dengan unsur utamanya metana (C1) yang telah dimampatkan dan dipertahankan serta disimpan pada bejana bertekanan khusus untuk mempermudah transportasi dan penimbunan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan.

Sedangkan dikutip dari laman PT PGN LNG Indonesia, Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi adalah gas alam yang dipadatkan pada tekanan tinggi, umumnya di atas 200 bar, sehingga lebih mudah disimpan dan didistribusikan.

Gas ini sebagian besar terdiri dari metana (lebih dari 95%) dan dikenal sebagai bahan bakar yang lebih bersih dibandingkan bensin atau solar.

Dalam konteks energi, CNG sering dibandingkan dengan LPG dan LNG, meskipun ketiganya memiliki perbedaan utama:

  • CNG: berbentuk gas bertekanan tinggi
  • LPG: berbentuk cair (propana dan butana) pada tekanan moderat
  • LNG: berbentuk cair karena didinginkan pada suhu sangat rendah

CNG telah dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari transportasi (bus dan truk), industri, hingga rumah tangga untuk memasak.

Kelebihan dan Kekurangan

Sebelum digunakan secara luas sebagai pengganti LPG, penting memahami keunggulan dan keterbatasan CNG.

Kelebihan CNG:

  • Lebih Ramah Lingkungan: Menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil lain, sehingga membantu mengurangi polusi udara.
  • Biaya Lebih Murah dan Stabil: Harga CNG relatif lebih stabil dan dalam rencana pemerintah bisa lebih murah hingga 30–40% dibanding LPG.
  • Sumber Energi Melimpah: Berasal dari gas alam domestik, sehingga mendukung kemandirian energi nasional.
  • Efisiensi Energi: Pembakaran lebih bersih dan efisien untuk berbagai kebutuhan, termasuk industri dan rumah tangga.

Kekurangan CNG:

Infrastruktur Terbatas: Jaringan distribusi dan fasilitas pengisian masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Kebutuhan Penyimpanan Besar: Memerlukan tabung bertekanan tinggi yang lebih besar dan kuat dibanding LPG.

Investasi Awal Tinggi: Pengembangan teknologi dan distribusi CNG membutuhkan biaya awal yang cukup besar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya