Ambisi Binance Bakal Jadi Super App

Bursa kripto Binance akan menyediakan layanan pembayaran selain transaksi kripto.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 Juli 2026, 16:31 WIB
Ilustrasi binance (Foto: Unsplash/Kanchanara)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa kripto Binance mengumumkan rencana menjadi “aplikasi super” atau super app untuk aset digital seperti bitcoin (BTC).

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (15/7/2026), Binance menuturkan, fase pertumbuhan selanjutnya akan berasal dari pembayaran dan layanan keuangan, bukan perdagangan kripto.

Dalam sebuat wawancara media, Binance’s Head of Spot Trading, Shunyet Jan menuturkan, bursa kripto itu berupaya untuk bertransformasi menjadi aplikasi super kripto dalam beberapa tahun mendatang.

“Kami mencoba untuk tidak hanya menjadi bursa kripto, tetapi menjadi aplikasi super yang melibatkan pembayaran. Jika Anda menganggap kami sebagai penyedia pembayaran, angka itu menjadi jauh lebih besar,” kata Jan.

Jan menuturkan, strategi baru Binance mencerminkan bagaimana orang semakin banyak memakai kripto di luar perdagangan, dan muncul ketika stablecoin digunakan untuk pembayaran dan transfer.

Binance bukanlah perusahaan kripto pertama yang mengumumkan rencana untuk mengembangkan aplikasi super. Coinbase Global (NASDAQ: $COIN) mengatakan bahwa mereka juga ingin pada akhirnya menjadi "aplikasi super" untuk konsumen.

Semakin banyak bank dan perusahaan pembayaran juga telah mempertimbangkan untuk mengembangkan aplikasi super keuangan.

Binance telah berekspansi melampaui layanan perdagangan yang awalnya ditawarkannya, dengan menambahkan produk-produk seperti saham yang di tokenisasi, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), dan layanan keuangan.

Jan mengatakan, produk-produk tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun platform tunggal di mana pengguna dapat berdagang, melakukan pembayaran, dan mengakses produk keuangan tanpa meninggalkan ekosistem Binance.

Ia mengatakan, permintaan sangat kuat di pasar negara berkembang, di mana beberapa pengguna memiliki akses terbatas ke layanan perbankan dan investasi. Binance adalah perusahaan swasta dan sahamnya tidak diperdagangkan di bursa publik.

Ribuan Investor Inggris Gugat Binance, Tuntut Ganti Rugi Rp 3,3 Triliun

Ilustrasi binance (Foto: Kanchanara/Unsplash)

Sebelumnya, hampir 1.700 investor kripto di Inggris mengajukan gugatan kelompok (class action) terhadap bursa aset kripto Binance dan pendirinya, Changpeng Zhao (CZ). Gugatan yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi London (High Court) itu menuntut ganti rugi US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,58 triliun (estimasi kurs Rp 17.939 per dolar AS.

Dikutip cari CoinMarketCap, Rabu (1/7/2026), para penggugat menuding sejumlah entitas Binance tetap menawarkan sekaligus mempromosikan produk derivatif kripto berisiko tinggi kepada investor ritel di Inggris. Padahal, regulator setempat telah mengambil langkah untuk membatasi akses masyarakat terhadap instrumen investasi yang dinilai kompleks dan memiliki volatilitas tinggi.

Dalam dokumen gugatan disebutkan, sejak akhir 2019 Binance menyediakan akses ke berbagai produk derivatif seperti leveraged token, kontrak berjangka (futures), hingga instrumen derivatif lainnya.

Produk-produk tersebut memungkinkan investor memperbesar potensi keuntungan, tetapi pada saat yang sama juga meningkatkan risiko kerugian dalam jumlah besar.

Para penggugat menilai Binance secara agresif memasarkan produk tersebut melalui situs resmi, email, hingga berbagai materi promosi, meskipun belum memiliki otorisasi yang dipersyaratkan berdasarkan regulasi di Inggris.

Gugatan ini muncul ketika Binance masih berada dalam sorotan regulator di berbagai negara. Di tengah ekspansi layanan dan produk investasi yang terus dilakukan perusahaan, Binance juga harus menghadapi berbagai tantangan kepatuhan terhadap regulasi di sejumlah yurisdiksi utama.

 

 

Diduga Langgar Aturan

Ilustrasi kripto Binance Coin (BNB). (Gambar by AI)

Latar belakang gugatan ini berkaitan dengan kebijakan Financial Conduct Authority (FCA) Inggris yang mulai melarang penjualan, pemasaran, dan distribusi produk derivatif kripto kepada investor ritel sejak 6 Januari 2021.

Larangan tersebut diterapkan karena regulator menilai produk derivatif kripto memiliki volatilitas yang sangat tinggi, berpotensi membuat investor kehilangan seluruh modal, serta sulit dipahami oleh sebagian besar masyarakat.

Para investor menilai Binance tidak mengambil langkah yang memadai untuk mencegah pengguna asal Inggris mengakses produk-produk yang telah dilarang tersebut selama periode yang dipersoalkan.

Karena itu, Binance dituding melanggar Financial Services and Markets Act, yaitu undang-undang yang mengatur layanan dan pasar keuangan di Inggris.

Sejumlah penggugat mengaku mengalami kerugian hingga puluhan ribu poundsterling. Mereka menyebut diri sebagai investor ritel biasa yang tertarik masuk ke pasar kripto ketika industri tersebut sedang mengalami lonjakan besar sepanjang 2019 hingga 2021 dengan harapan memperoleh keuntungan tinggi.

Dalam gugatan tersebut, pihak yang menjadi tergugat tidak hanya Binance, tetapi juga beberapa entitas lain, termasuk Binance Holdings Ltd yang terdaftar di Kepulauan Cayman, Nest Exchange yang berbasis di Uni Emirat Arab, pendiri Binance Changpeng Zhao (CZ), serta sejumlah pihak lain yang disebut ikut mengoperasikan platform perdagangan Binance.

 

Respons Binance

Menanggapi gugatan tersebut, juru bicara Binance menegaskan perusahaan tetap berkomitmen memenuhi kewajibannya kepada para pengguna serta menjalankan operasional sesuai hukum yang berlaku.

"Perusahaan tetap berkomitmen terhadap kewajibannya kepada para pengguna dan beroperasi sesuai dengan hukum yang berlaku."

Binance juga menyatakan akan membela diri secara penuh terhadap seluruh tuduhan yang diajukan dalam perkara tersebut.

Kasus ini menambah daftar panjang persoalan hukum yang dihadapi Binance di berbagai negara. Pada 2023, Binance dan CZ mencapai kesepakatan besar dengan otoritas Amerika Serikat dengan membayar denda miliaran dolar AS terkait pelanggaran aturan anti pencucian uang serta pengoperasian bursa derivatif tanpa izin. Setelah penyelesaian kasus tersebut, CZ mengundurkan diri dari jabatan CEO Binance.

Di Inggris sendiri, Binance beberapa kali menerima peringatan dari FCA dan hingga kini belum memperoleh otorisasi penuh untuk menjalankan sejumlah aktivitas keuangan. Saat ini, lisensi utama perusahaan berada di Uni Emirat Arab setelah menghadapi hambatan memperoleh persetujuan regulator di sejumlah negara Eropa.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya