Liputan6.com, Brussels - Populasi Uni Eropa (UE) diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2029 sebelum mulai mengalami penurunan secara bertahap dalam beberapa dekade berikutnya. Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan terbaru yang dirilis Joint Research Centre (JRC), lembaga riset resmi Komisi Eropa, pada Selasa.
Dikutip dari Channel News Asia, Kamis (16/7/2026), laporan itu menunjukkan bahwa jumlah penduduk di 27 negara anggota Uni Eropa yang saat ini mencapai 450,6 juta jiwa diperkirakan meningkat menjadi 453,3 juta jiwa pada 2029. Setelah itu, populasi diproyeksikan terus menurun hingga hanya tersisa 398,8 juta jiwa pada 2100.
Advertisement
Artinya, populasi Uni Eropa akan menyusut sekitar 11,7 persen, kembali ke tingkat yang terakhir kali tercatat pada era 1970-an.
Warga Eropa Hidup Lebih Lama
Penurunan populasi terjadi di tengah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Eropa. Kemajuan layanan kesehatan, peningkatan kualitas hidup, dan kondisi sosial yang semakin baik membuat warga Eropa kini hidup lebih lama dibandingkan sebelumnya.
Menurut JRC, angka harapan hidup saat lahir mencapai 81,5 tahun pada 2024.
Tren tersebut diperkirakan terus berlanjut. Pada 2050, hampir satu dari tiga warga Uni Eropa akan berusia 65 tahun atau lebih, meningkat signifikan dibandingkan kondisi saat ini yang masih sekitar satu dari lima penduduk.
Bahkan pada 2100, harapan hidup diproyeksikan melampaui 90 tahun bagi perempuan dan 86 tahun bagi laki-laki.
Kekurangan Tenaga Kerja Mengancam
Di balik meningkatnya usia harapan hidup, Uni Eropa menghadapi tantangan besar akibat penuaan populasi.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa perubahan demografi dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari kekurangan tenaga kerja, meningkatnya beban anggaran pemerintah, hingga tekanan terhadap sistem layanan kesehatan, pendidikan, dan perawatan lansia.
Komisioner Uni Eropa untuk Demokrasi dan Demografi, Dubravka Suica, menyebut meningkatnya usia harapan hidup merupakan salah satu pencapaian terbesar masyarakat Eropa.
"Kita hidup lebih lama dan lebih sehat dibandingkan sebelumnya. Ini adalah salah satu pencapaian terbesar kita. Namun, perubahan demografi juga sedang mengubah masyarakat, ekonomi, dan pasar tenaga kerja kita," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Uni Eropa harus segera mengambil langkah agar perubahan tersebut dapat menjadi peluang, bukan justru menjadi beban ekonomi.
Ekonomi Lansia Dinilai Berpotensi Tumbuh
Meski menghadirkan tantangan, laporan tersebut juga menyoroti peluang dari berkembangnya silver economy, yakni sektor ekonomi yang berfokus pada penyediaan barang dan jasa bagi kelompok lanjut usia.
Seiring bertambahnya populasi lansia, permintaan terhadap layanan kesehatan, teknologi pendukung, produk konsumsi, hingga sektor rekreasi untuk kelompok usia lanjut diperkirakan akan terus meningkat.
Untuk mengurangi dampak menyusutnya jumlah angkatan kerja, Uni Eropa menilai peningkatan produktivitas dan penurunan tingkat pengangguran menjadi langkah yang harus diprioritaskan.
Saat ini sekitar 20 persen penduduk usia kerja di Eropa belum masuk ke pasar tenaga kerja, sementara sekitar delapan juta anak muda tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, maupun tidak mengikuti pelatihan (NEET).
Para peneliti juga menilai migrasi dapat membantu mengurangi sebagian dampak perubahan demografi. Namun, mereka menegaskan bahwa migrasi saja tidak akan cukup untuk sepenuhnya mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh penuaan penduduk di Eropa.