AS-Iran Saling Serang Lagi, Konflik Selat Hormuz Kian Panas

Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan baru ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan terkait Selat Hormuz.

oleh Septian DenyDiterbitkan 13 Juli 2026, 10:16 WIB
Ilustrasi serangan pada konflik Iran dan AS. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Liputan6.com, Washington - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan baru ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan terkait Selat Hormuz. Teheran menilai serangan terbaru tersebut telah "menggagalkan seluruh upaya diplomatik" yang telah dibangun selama beberapa bulan terakhir.

Dikutip dari The Guardian, Senin (13/7/2026), Komando Pusat Militer AS (US Central Command/Centcom) melalui akun X menyatakan, serangan baru dimulai pada Minggu malam pukul 21.00 GMT. Operasi tersebut dilakukan untuk terus melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal sipil dan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Centcom juga menyebut Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan operasi tersebut agar pasukan Iran dimintai pertanggungjawaban atas serangan-serangan yang mereka lakukan.

Menanggapi operasi militer tersebut, Trump mengatakan, "Kami sedang menghajar mereka."

Sebelumnya pada Minggu, Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas milik AS di berbagai negara kawasan Teluk. Teheran juga mengklaim kembali menutup Selat Hormuz, sehingga semakin memperbesar keraguan terhadap keberlangsungan perjanjian gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu.

Meski demikian, Centcom menyatakan masih terdapat sejumlah kapal yang tetap melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Serangan terbaru ini menjadi bagian dari rangkaian aksi saling balas antara kedua negara, di tengah upaya Iran mempertegas kendalinya atas pelayaran di jalur energi paling vital di dunia. Namun, intensitas dan cakupan serangan kali ini dinilai jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Centcom menyebut telah melancarkan sekitar 140 serangan pada Sabtu malam.

Serangan Iran pada Minggu juga meluas hingga menyasar Qatar, yang selama ini menjadi mediator dalam perundingan gencatan senjata dan belum pernah menjadi target sejak April lalu.

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA), yang terakhir kali menjadi sasaran serangan pada awal Mei, menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran.

Media Iran melaporkan terjadi serangan rudal dan ledakan di sekitar kota pelabuhan Sirik dan Bandar Abbas yang menjadi lokasi berbagai fasilitas militer di Selat Hormuz, serta di Pulau Qeshm yang berada di dekatnya.

Pemerintah Iran mengecam keras gelombang serangan terbaru AS. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan aksi militer tersebut telah menggagalkan seluruh upaya beberapa bulan terakhir untuk menurunkan ketegangan dan menciptakan perdamaian di kawasan Asia Barat.

 

Tuduhan Iran ke AS

Sebuah proyektil rudal yang dicegat jatuh ke laut dekat kepulauan Palm Jumeirah Dubai. (dok. FADEL SENNA / AFP)

Dalam pernyataannya, kementerian juga menuduh Washington telah mengembalikan situasi tidak aman di Selat Hormuz dan mengganggu pelayaran perdagangan internasional melalui campur tangan terbuka terhadap langkah Iran dalam mengatur jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran juga mengungkapkan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman di Muscat pada Sabtu, yang membahas pengelolaan Selat Hormuz dan jalur pelayaran, gagal mencapai kesepakatan akibat tekanan AS terhadap Oman, baik secara terbuka maupun tertutup.

Dalam sepekan terakhir, Trump beberapa kali menyatakan dirinya menganggap gencatan senjata telah berakhir, meski masih membuka peluang untuk melanjutkan perundingan.

Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui akun X pada Minggu menegaskan, "Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah mengingatkan: tepati janji Anda atau tanggung konsekuensinya. Kenyataan kini datang menghampiri."

Meningkatnya kembali konflik ini menjadi pukulan baru bagi kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran yang sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz sekaligus mengakhiri perang setelah 60 hari perundingan lanjutan.

Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari tersebut memicu guncangan ekonomi global, mendorong kenaikan harga energi dan memperburuk inflasi dunia. Lonjakan harga, terutama bahan bakar, menjadi isu politik yang sensitif bagi Trump menjelang pemilu legislatif AS pada November mendatang.

Harga minyak dunia yang sebelumnya sempat turun setelah tercapainya kesepakatan sementara kembali melonjak lebih dari 3,5% saat perdagangan berjangka dibuka di Tokyo pada Senin. Minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) bahkan naik menembus US$ 74 per barel.

 

Biaya Pelayaran di Selat Hormuz

Sebuah perahu motor kecil melewati kapal-kapal yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Kamis, 11 Juni 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Iran sendiri berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya pelayaran di Selat Hormuz, yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Teheran juga memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas tanpa izin dari otoritas Iran.

Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran pada Minggu menyatakan pelayaran melalui Selat Hormuz untuk sementara tidak memungkinkan akibat aktivitas militer AS yang mereka sebut ilegal di kawasan tersebut. Izin pelayaran baru akan diterbitkan kembali setelah situasi dinilai stabil dan kondusif.

Di sisi lain, Amerika Serikat, yang pada Selasa lalu mencabut izin penjualan minyak mentah Iran menyusul serangan terhadap kapal-kapal dagang, menegaskan pasukannya tetap bersiaga untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Washington menuding Iran melakukan agresi, intimidasi, ancaman, serta mengeluarkan berbagai pernyataan sepihak terkait jalur pelayaran internasional.

Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Centre) yang dipimpin Angkatan Laut AS juga kembali mengimbau kapal-kapal agar menggunakan jalur selatan yang diperluas di dekat wilayah Oman, yang masih dapat digunakan untuk lalu lintas dua arah meskipun tingkat ancaman keamanan tetap tinggi.

Centcom menyatakan pasukan AS telah menghantam lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga malam terakhir pekan ini. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang sejumlah target di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya