Kapitalisasi Pasar Kripto Stablecoin Turun Rp 180,72 Triliun

Kapitalisasi pasar stablecoin alami penurunan terbesar sejak Mei. Akan tetapi, penurunan kapitalisasi pasar ini berbeda dengan prediksi bank global.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 Juli 2026, 11:00 WIB
Stablecoin Stock Market Cryptocurrency. (iqoncept/depositphotos.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar stablecoin mencatat penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada Juni. Ini menjadi tanda likuiditas on-chain telah menyusut karena pasar kripto konsolidasi di dekat titik terendah 2026.

Kapitalisasi pasar stablecoin turun US$ 7,7 miliar atau Rp 139,15 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.070) pada bulan lalu, terbesar sejak Mei 2022, ketika protokol blockchain Terra-Luna runtuh. Demikian mengutip cryptonews.net, ditulis Senin, (13/7/2026).

Secara keseluruhan, total nilai stablecoin yang beredar telah turun sekitar US$ 10 miliar atau Rp 180,72 triliun sejak puncaknya pada Mei, menurut data dari RWA.xyz. Ini merupakan penurunan sekitar 3% secara persentase, tren penurunan terbesar sejak 2023, tetapi jauh di bawah penurunan 26% pada tahun 2022.

Penurunan ini terutama didorong oleh dua penerbit dominan. USDT Tether, stablecoin terbesar, telah mengalami penurunan kapitalisasi pasar menjadi sekitar US$ 184 miliar atau Rp 3.325 triliun dari US$ 190 miliar atau Rp 3.433 triliun  pada Mei. Kapitalisasi pasar USDT itu turun sekitar US$ 6 miliar atau Rp 108,43 triliun.

USDC Circle telah turun menjadi sekitar US$ 73 miliar dari puncaknya pada Maret 2026 yang hampir mencapai US$ 80 miliar, dan kehilangan US$ 7 miliar lagi.

Kemunduran ini patut diperhatikan karena bertentangan dengan prospek bullish bank-bank Wall Street tentang pertumbuhan stablecoin. Tahun lalu, bank global Citi merevisi perkiraan pertumbuhan stablecoin untuk 2030 menjadi US$ 1,9 triliun dalam skenario dasar dan US$ 4 triliun atau Rp 72.288 triliun dalam skenario bullish. Angka itu masing-masing naik dari US$ 1,6 triliun dan US$ 3,7 triliun.

Standard Chartered memproyeksikan pasar senilai US$ 2 triliun atau Rp 36.144 triliun pada 2028.

Penurunan ini juga memiliki relevansi yang lebih luas bagi pasar kripto. Stablecoin utama banyak digunakan sebagai mata uang kuotasi untuk perdagangan kripto dan semakin banyak digunakan untuk pembayaran dan penyelesaian, sehingga perubahan pasokannya menjadi indikator yang dipantau ketat terhadap likuiditas yang mengalir masuk atau keluar dari aset digital.

Berbeda dengan Musim Dingin Kripto 2022

Ilustrasi Stablecoin. (Foto by AI)

Penurunan ini mungkin tampak dramatis, tetapi tergolong moderat jika dibandingkan dengan standar historis.

Penurunan serupa terjadi antara Desember 2025 dan Februari 2026, ketika pasokan stablecoin turun sekitar US$ 9 miliar atau Rp 162,6 triliun sebelum melonjak ke rekor baru. Hal itu bertepatan dengan koreksi besar pada kripto, dengan bitcoin anjlok dari sekitar US$ 95.000 atau Rp 1,7 miliar menjadi US$ 60.000 atau Rp 1,08 miliar.

Secara keseluruhan, pasar stablecoin sebagian besar stagnan di sekitar US$ 300 miliar atau Rp 5,421 triliun sejak Oktober (bertepatan dengan bitcoin mencapai rekor US$ 126.000) setelah ukurannya meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun.

Pasar bearish 2022, yang ditandai dengan kehancuran besar seperti bursa kripto FTX dan pemberi pinjaman Celsius, BlockFi, dan Genesis, jauh lebih parah bagi stablecoin.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya