Liputan6.com, Jakarta - Project Pop membuktikan kekompakan mereka tetap terjaga meski telah berkarya selama tiga dekade. Grup yang beranggotakan enam personel itu mengaku nyaris tak pernah memiliki konflik pribadi selama 30 tahun bersama.
Hal tersebut diungkapkan Tika Panggabean saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026). Menurutnya, perbedaan pendapat yang muncul hampir selalu berkaitan dengan proses kreatif dan pekerjaan.
Advertisement
Perdebatan Selalu Soal Pekerjaan
Tika menjelaskan, konflik di Project Pop bukan dipicu persoalan pribadi, melainkan karena setiap personel memiliki pandangan berbeda dalam berkarya.
"Kayaknya nggak ada banget ya. Jadi gini, kita tuh kalau di Project Pop emang lebih mengusahakan dan membicarakan soal pekerjaan. Jadi kalau emang ada berantemnya, itu emang hubungannya dengan kerjaan," ujarnya.
Ia menyebut perdebatan biasanya terjadi saat membahas ide lagu, proses rekaman, konsep panggung, hingga menentukan daftar lagu untuk konser.
Yosi Pernah Jadi Personel Paling Keras Kepala
Tika juga mengungkapkan bahwa Yosi sempat menjadi sosok yang paling sulit mengubah pendapat pada masa-masa awal Project Pop. Menurutnya, hal itu dipengaruhi latar belakang Yosi sebagai anak sulung di keluarganya.
"Awalnya dulu Yosi. Mungkin karena dia anak tertua ya. Iya bener, di antara kita berenam, Yosi ini di keluarganya paling tua, sementara kita semua bungsu," kata Tika.
Ia bahkan menyebut Yosi dulu memiliki karakter yang sulit dibantah. "Kalau bahasa Bataknya tuh 'parhata sada', nggak bisa dibantah," tambahnya.
Kini Lebih Bijaksana Demi Kekompakan Grup
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, Tika melihat perubahan besar pada diri Yosi. Personel Project Pop itu kini dinilai jauh lebih bijaksana dan lebih sering mengalah demi menjaga keharmonisan grup.
"Tapi sejalan dengan waktu dan juga bertambahnya umur, dan juga wisdom-nya nambah, Yosi tuh makin, justru makin banyak mengalah. Lagi-lagi mungkin karakter anak paling tua. Lebih banyak ngalahnya sekarang," pungkas Tika.