Liputan6.com, Jakarta - Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat Wilmar di seluruh unit operasional perusahaan memasuki musim kemarau. Salah satu yang dilakukan adalah training pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta apel siaga kebakaran hutan.
Kegiatan tersebut melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) seperti masyarakat, pemerintah, aparat, dan perusahaan. Selain mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan, kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat koordinasi antara perusahaan dan pemangku kepentingan.
Advertisement
"Pencegahan karhutla merupakan komitmen bersama dalam menjaga keselamatan masyarakat, melindungi lingkungan, serta mendukung keberlangsungan operasional yang bertanggung jawab," ujar Head Environment, Health, and Safety (EHS) Plantations PT Mustika Sembuluh (Wilmar Group) Novrie Ronaldy, Jumat (10/7/2026).
Dia melanjutkan, pencegahan adalah langkah yang paling efektif dalam menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan.
"Setiap tahun kami terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan, perawatan sarana prasarana, simulasi, serta penguatan koordinasi dengan berbagai pihak," ucap Novrie.
Libatkan Berbagai Pihak
Novrie mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah (camat dan kepala desa), Kepolisian, TNI, serta perwakilan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
"Acara ini diikuti 82 peserta dari perusahaan dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka melakukan simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan," terang dia.
Novrie menjelaskan, pencegahan karhutla memerlukan peran aktif seluruh pihak karena risiko kebakaran tidak mengenal batas wilayah. Sinergi antar pemangku kepentingan sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan, mempercepat deteksi dini, dan memastikan penanganan cepat sebelum kebakaran meluas.
"Kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman, menjaga kelestarian lingkungan, serta meminimalkan risiko kebakaran selama musim kemarau," kata dia.
Menurut Novrie, selain memperkuat kesiapsiagaan internal, Wilmar juga aktif tergabung dalam Fire Free Alliance (FFA), sebuah kolaborasi yang melibatkan perusahaan dan organisasi non-pemerintah (NGO) dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan.
"Melalui FFA, berbagai program pencegahan dilakukan tidak hanya di area operasional perusahaan, tetapi juga di wilayah sekitar hingga radius lima kilometer. Program tersebut mencakup edukasi kepada masyarakat, peningkatan kapasitas, serta kolaborasi dalam upaya pencegahan kebakaran sejak dini," tandas Novrie.