Liputan6.com, Damaskus - Ledakan bom mengguncang sebuah kafe di Damaskus, Suriah, pada Kamis (2/7), menewaskan sembilan orang dan melukai 20 lainnya. Menurut pihak berwenang, insiden ini menjadi tantangan terbaru bagi pemerintahan Suriah yang tengah berupaya memulihkan stabilitas negara setelah lebih dari satu dekade dilanda perang.
Ledakan terjadi di dekat Istana Kehakiman di ibu kota Damaskus, salah satu gedung penting milik pemerintah, sehingga memicu kepanikan di kawasan yang padat aktivitas.
Advertisement
Seorang koresponden AFP melaporkan ambulans bergegas menuju lokasi dengan sirene meraung di tengah kemacetan, sementara aparat keamanan langsung menutup area sekitar tempat kejadian.
Televisi pemerintah Suriah melaporkan ledakan itu berasal dari bahan peledak yang dipasang di kafe tersebut.
Nour Khayyat (40), pemilik toko baterai panel surya yang berada tidak jauh dari lokasi, mengatakan ledakan terjadi sekitar pukul 15.00 waktu setempat.
"Saya mendengar ledakan yang sangat keras hingga etalase toko bergetar," ujarnya kepada AFP.
"Orang-orang langsung berlarian menuju kafe dan menghubungi ambulans."
Pemilik toko kacamata yang berada tepat di sebelah kafe, Mohammed al-Dahabi, mengaku masih gemetar saat menceritakan detik-detik kejadian.
"Saya merasakan tekanan yang sangat kuat dan seluruh bangunan berguncang," katanya.
"Saya berlari ke lokasi dan melihat banyak orang tergeletak di lantai dengan darah menggenang di mana-mana," tambahnya.
Menurut dia, pemandangan tersebut mengingatkannya pada rentetan pengeboman yang pernah mengguncang Damaskus selama hampir 14 tahun perang saudara di Suriah.
Kecaman Internasional
Gubernur Damaskus Maher Eldibi yang tiba di lokasi mengatakan penyelidikan langsung dilakukan untuk mengungkap pelaku serangan.
"Mereka yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah ini akan dihukum," tegasnya.
"Setiap kali negara mulai memasuki masa yang lebih stabil, selalu ada pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas tersebut."
Wakil Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah Claudio Cordone melalui akun X menyatakan para pelaku harus dibawa ke pengadilan.
Turki, yang memiliki hubungan erat dengan pemerintahan Suriah, turut mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataan kementerian luar negerinya, Turki menegaskan akan terus mendukung Suriah selama proses pemulihan berlangsung.
Kecaman serupa disampaikan sejumlah negara Arab, di antaranya Irak, Yordania, Qatar, dan Mesir.
Sejak tergulingnya penguasa lama Bashar al-Assad pada Desember 2024, pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa terus berupaya memperkuat kendali atas seluruh wilayah, memulihkan keamanan, serta menyatukan kembali negara tersebut.
Meski demikian, Damaskus masih beberapa kali menjadi sasaran serangan sejak pemerintahan baru mengambil alih kekuasaan.
Serangan paling mematikan sebelumnya terjadi pada Juni 2025, ketika bom bunuh diri menghantam sebuah gereja di Damaskus dan menewaskan 25 orang.
Aksi tersebut kemudian diklaim oleh sebuah kelompok ekstremis Sunni, sementara pemerintah Suriah menyatakan serangan dilakukan oleh kelompok ISIS.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah insiden keamanan juga masih terjadi di Damaskus, termasuk ledakan bom mobil di kawasan Kota Tua yang menewaskan seorang prajurit pada Mei lalu.